Penghormatan Buat Ki Terik

 Ritual membersihkan makam pada upacara Mendhak Sanggring

Henri Nurcahyo

HARI Kedua dari rangkaian acara Mendhak Sanggring adalah ritual membersihkan makam Ki Buyut Terik, yang dipercaya sebagai cikal bakal desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Lamongan. Sejak Pak Kades memukul kentongan jam 6.30 pagi warga berduyun-duyun menuju makam yang berada di tengah hutan jati. Pak Kades dan sesepuh Desa, Mujiono, datang lebih dulu membawa sesaji dan melakukan ritual di sumber air di dekat makam. Setelah itu Pak Kades memasuki makam yang berada dalam sebuah bangunan tanpa dinding, berdoa di sebelah Utara, dimana terdapat pintu yang memperlihatkan bagian dalam makam.

Warga setempat yang berdatangan lantas membersihkan semak-semak dengan peralatan arit dan berang, bahkan juga chenzow untuk menebang beberapa pohon besar yang menaungi makam. Areal makam yang tadinya rimbun dan penuh semak belukar dalam waktu singkat berubah menjadi terang benderang.

Sementara itu di bagian makam dilakukan penggantian kain pembungkus, atap daun alang-alang, melapisi kain merah putih dengan yang baru. Setelah semuanya selesai, warga berangsur pulang, Kepala Desa dan sesepuh berdoa di makam. Acara selesai.

Ritual ini dilakukan satu tahun sekali dan selama satu tahun itu tidak seorangpun diperbolehkan memasuki areal pemakaman ini. Pantas saja kondisinya sedemikian rungsep (bahasa Indonesianya apa ya?) Penuh semak belukar. Menurut rencana, sekeliling areal pemakaman itu akan diberi pondasi sebagai batas lahan, akan dibangun pula gapura di arah depan, juga pengerasan tanah halaman. Sayang sekali justru akses jalan menuju makam Ki Terik ini malah masih sulit karena harus melewati tegalan milik penduduk dan lahan Perhutani.

Ki Terik konon dipercaya sebagai bangsawan Mataram yang melarikan diri ke arah timur karena perselisihan dengan pihak keraton. Ki Terik yang bernama asli Nursali ini lantas bertemu dan berguru dengan Sunan Giri. Nursali ditugaskan memberantas kejahatan di daerah Lamongan dan sekaligus melakukan dakwah Islam. Nursali yang sakti mandraguna ini memiliki banyak pengikut dan menjadi cikal bakal desa Tlemang dan mendapat julukan Ki Terik. Hal ini karena berkat pusakanya dia mampu membuat tanaman tumbuh subur sebagaimana makna asli Terik adalah tumbuh.

Upacara adat kali ini memang berlangsung sangat sederhana, tidak ada arak-arakan sebagaimana tahun lalu. Bahkan pengunjung yang biasanya padat berjubel kali ini relatif sedikit karena hanya diikuti warga setempat yang berjumlah puluhan orang saja. Penyebabnya, tentu saja pandemi Covid-19.

Sore ini ada pengajian untuk ibu-ibu di halaman rumah Kades. Ini memang acara tambahan yang menurut tradisi memang tidak ada. Baru diadakan sekitar sepuluh tahun yang lalu untuk mengadopsi kepentingan kaum agamawan.

Besok akan ada pertunjukan wayang krucil dan Selamatan Kambing, dimana penduduk secara bersama-sama menikmati masakan daging kambing.

Sumber: akun FB Henri Nurcahyo

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8710344045775510229

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item