Berjumpa Tuhan

Ilustrasi
Oleh Kuswaidi Syafiie

Perjumpaan dengan Allah tidaklah sama dengan perjumpaan di antara sesama kita. Karena jelas bahwa Allah itu bukanlah benda, bukanlah makhluk. Sehingga dengan demikian, pastilah tidak membutuhkan ruang, pastilah tidak membutuhkan apapun yang lain. Tidak ada apapun yang serupa denganNya.

Perjumpaan dengan hadiratNya adalah merasakan keberadaan dan kemahaanNya pada segala sesuatu. Pada diri orang-orang makrifat, juga pada apapun yang berada di luar diri mereka. Tidak ada apapun di dunia ini yang tidak menampung kehadiran dan kemahaanNya, termasuk partikel yang paling kecil sekalipun.

Maka dapat dipastikan bahwa perjumpaan dengan Allah itu bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Akan tetapi, seheroik apapun seorang salik untuk mendapatkan perjumpaan dengan hadiratNya, itu tak mungkin tanpa keterlibatan Tuhan itu sendiri. Itulah sebabnya kenapa syahwat al-wushul (syahwat untuk sampai kepada hadiratNya) itu juga tidak dibolehkan dalam spiritualitas Islam.

Dapat digambarkan di sini bahwa seorang salik itu tidak akan pernah mengalami kemajuan satu langkah pun untuk menyongsong pertemuan sakral itu tanpa pertolongan dari Tuhan. Ketika dia mendekat kepada hadiratNya, sesungguhnya secara hakiki kakinya itu adalah kaki Tuhan. Tuhan mendekat kepada diriNya sendiri. Sungguh menakjubkan, bukan?

Perjumpaan dengan Tuhan pernah dialami Nabi Musa, yaitu seorang nabi yang pernah diajak berdialog dengan hadiratNya. Karenanya, dia dianugerahi gelar sebagai Kalimullah, sebagai Mitra Tuhan di dalam berkomunikasi.

Pada suatu waktu di bulan Dzul Qa'dah Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk menemuiNya di Gunung Sinai selama 30 hari. Selama waktu itu, dia yang mukjizatnya sanggup menjadikan tongkat berubah menjadi ular itu berpuasa.

Berpuasa sebulan suntuk menjadikan mulutnya bau. Dia jadi tidak suka bau mulutnya sendiri. Karena itu, dia menyikat giginya dengan ranting pepohonan yang sudah ditumbuk dan dihaluskan. Tujuannya jelas, yaitu agar dia berhadap-hadapan dengan Allah tidak dengan mulut yang bau.

Akan tetapi, justru itu tidak diperkenankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bagi Tuhan semesta alam itu, bau mulut orang berpuasa itu jauh lebih harum dibandingkan dengan minyak kasturi.

Apa sesungguhnya makna filosofi-sufistik dari adanya sebuah gunung? Kenapa Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk menjumpaiNya di sana? Bukankah Dia bisa dijumpai di mana saja, pada seluruh ciptaanNya yang ada? Kenapa pula Allah sangat senang kepada bau mulut orang yang berpuasa?

Dalam kepustakaan dan kosmologi kaum sufi, gunung bermakna dua, yaitu sebagai kekukuhan dan ketinggian sekaligus. Oleh Allah Ta'ala, gunung dijadikan sebagai pasak bagi bumi agar kukuh dan tangguh. Tanpanya, bumi menjadi goyang dan tidak tentram.

Ketika Allah Ta'ala memerintahkan Nabi Musa untuk menjumpaiNya di Gunung Sinai, itu berarti bahwa secara tidak langsung Dia memerintahkan musuh Fir'aun tersebut untuk mengukuhkan kuda-kuda rohaninya. Hanya dengan cara seperti itu perjumpaan yang agung itu dimungkinkan untuk terjadi.

Mengukuhkan kuda-kuda rohani adalah melakukan keberpihakan secara habis-habisan kepada hadiratNya. Meninggalkan kepicikan dan kekerdilan diri. Hijrah dari kesumpekan dan kekelaman diri menuju cakrawala dan cahaya cintaNya yang tidak bertepi.

Ketika seluruh egoisme dan kekerdilan diri habis, maka muncullah gunung kemahaanNya pada diri Nabi Musa. Itulah korelasi spiritual ketika Tuhan seolah-olah muncul dari dua arah sekaligus. Yaitu, dari zatNya yang mutlak dan tak terbayangkan dan dari arah Nabi Musa itu sendiri.

Dalam kondisi diperankan itulah Nabi Musa juga muncul sebagai sebuah gunung secara hakiki. Yaitu, menjulangnya kerohanian yang dianugrahkan oleh Tuhan semesta alam. Dia menjadi payung bagi umatnya. Dia menjadi pengayom bagi mereka. Dia memandu dan membantu mereka agar sampai kepada hadiratNya.

Akan tetapi ketika Si Gunung rohani itu masih memunculkan setitik debu keakuannya, maka kesempurnaannya akan menjadi berkurang. Setitik debu itu tak lain adalah upaya Nabi Musa untuk menghilangkan bau mulutnya sendiri karena berpuasa.

Baik secara rasional maupun secara psikis memang tidak salah. Tapi Tuhan tidak berkenan terhadap hal itu. Bagi hadiratNya, bau mulut orang berpuasa itu jauh lebih harum dibandingkan dengan wangi kesturi. Karena hal itu merupakan simbol hakiki pencapaian seorang hamba untuk sampai kepada kefanaan dirinya. Di puncak kefanaan itulah Tuhan menggantikan posisinya. Jadilah si hamba itu sebagai seorang Rabbani.

Itulah sebabnya Tuhan kemudian memerintahkan kembali kepada Nabi Musa untuk menambah puasanya sebanyak sepuluh hari lagi. Genaplah kemudian puasanya menjadi 40 hari. Sebuah bilangan yang cukup sakral di dalam ajaran Islam di mana para nabi rata-rata pada umur 40 mereka diutus menjadi rasul.

Lalu, berjumpalah Nabi Musa dengan Tuhannya secara lebih sempurna. Beliau berdialog dengan hadiratNya dengan tampa huruf dengan tampa suapa. Beliau mereguk kalam-kalamNya dengan begitu nikmat. Sebuah perjumpaan yang teramat agung dan sakral untuk sepenuhnya didedahkan dengan bahasa dan perkataan. Wallahu a'lamu bish-shawab.



POSTING PILIHAN

Related

Utama 472267467519475545

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item