Karakter dalam Permainan Tradisional Taneker

Ilustrasi permainan taneker

Oleh: Ali Harsojo

Madura, dengan segala keunikannya banyak menghadirkan beragam destinasi. Bak destinasi wisata, budaya, pendidikan, wawasan berkearifan lokal dan dimensi kehidupan yang unik serta menarik diperbinangkan. Bahkan, seiring perkembangan zaman yang terus melaju, kehidupan masyarakat yang berbudaya masih tetap banyak ditemukan
.
Festival makanan khas, permainan tradisional hingga pada unjuk kebolehan seni dan budaya lainnya terus menjadi acara rutin dalam setiap event tertentu. Budaya lama dan tumbuh sebelum masa gadget, terus dihidupkan hingga sekarang. Semua lapiran masyarakat Madura merasa memiliki kewajiban untuk mempertahakan dan melestarikannya.

Hal menarik yang kerap kali ditemukan dalam dunia anak-anak adalahpermainan tradisional. Salah satu yang paling popular dimainkan oleh anak-anak seusia SD di Sumenep adalah permainan tradisional taneker (kelereng). Sumenep adalah salah satu wilayah kabupaten paling timur ujung pulau Madura. Di Sumenep, juga banyak budaya yang masih dilestarikan.

Nah, taneker atau kelereng adalah permainan cukup menarik dan sering ditemukan di kalangan anak-anak. Kelereng telah ada sejak dulu. Kelereng dengan berbagai sinonim gundu (Btw), keneker (Jv), kaléci (Sd), guli (Ms) adalah bola kecil dibuat dari tanah liat, marmer atau kaca untuk permainan anak-anak. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam. Umumnya ½ inci (1.25 cm) dari ujung ke ujung. Kelereng kadang-kadang dikoleksi, untuk tujuan nostalgia dan warnanya yang estetik (Wikipedia.com).

Di Sumenep, saya seringkali menjumpai permainan ini dimainkan di halaman rumah dan hamalan sekolah saat siswa sedang istirahat. Sedangakan aturan permainan taneker atau kelereng pada umumnya adalah sebagai berikut: 1) Setiap anak menggunakan 1 kelereng sebagai pemukul yang dimainkan menggunakan tangan (di beberapa daerah menggunakan dua tangan dan berbentuk seperti sumpit diujung tangan), setiap pemain “bertaruh” sejumlah kelereng pada area yang bisanya dibatasi dengan garis persegi.  Namun, jumlah yang diperebutkan bergantung kesepakatan. Semua kelereng yang berada di dalam batas persegi akan diperebutkan oleh semua pemain sesuai dengan aturan. Sedangkan jika ada taneker yang rusak atau pecah, dianggap tidak berharga dan tidak diperebutkan lagi atau dibuang.

Saya juga sering mengamati siswa bermain taneker di sekolah. Pengalaman asyik yang tidak membosankan. Juga tidak akan pernah menjenuhkan. Meskipun di sekolah banyak tugas guru yang menumpuk, saya tetap bisa menikmati juga ikut bermain bersama anak-anak di sekolah.

Mengapa saya dan siswa seringkali bermain permainan taneker di sekolah?  Atau paling tidak saya seringkali mengamati mereka bermain? Salah satu alasannya adalah semangat dan bersahabat. Bermain bersama siswa seperti sahabat karib. Sepertinya menjadi bagian dari hidup dan pergaulan saya di sekolah. Dalam permainan tersebut, saya juga dapat melihat karakter asli siswa. Tanpa mereka sadari, kadang muncullah karakter polos siswa. Karakter yang mungkin saja muncul di rumah, ternyata melalui permainan ini, siswa juga tidak sengaja memunculkannya. Misalnya, timbul persaingan memperebutkan kelereng, ketangkasan menembak taneker sasaran dan kemampuan konsentrasi yang tinggi.

Tetapi, bagi saya sebagai guru, melihat kebahagiaan mereka sambilmenyelami karakter siswa adalah yang lebih utama. Sebab, dengan mengetahui lebih jauh karakter siswa, saya lebih memahami bagaimana cara tepat memperlakukan siswa di sekolah. Interaksi dengan siswa terus mengalir dengan nyaman. Bukan saja pada saat interaksi belajar mengajar berlangsung. Di luar jam belajar itu, saya juga masih bisa leluasa berinteraksi dengan siswa.

Berdasarkan aspek kompetensi guru, salah satu indikator kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru adalah memahami karakteristik siswa. Jika memiliki 30 siswa, maka kita diharapkan guru juga memahami 30 karakteristik itu. Setidaknya mampu membedakan kemampuan intelektualitas, sikap dan perilaku mereka. Bagaimana saya memahami mereka? Melalui permainan inilah saya banyak memahami karakter mereka, tanpa disadarinya.

Kuncinya adalah saya harus bersahabat dengan mereka. Saya harus dekat dan beradaptasi dengan baik pada mereka. Menarik untuk selalu mengetahui lebih banyak tentang mereka. Tentang sifat dan perilaku mereka. Sesuatu luar biasa dapat merasakan hidup mereka. Hidup dalam dunia anak-anak.

Tetapi, tidak serta merta langsung nimbrung bersama siswa dan ikut menikmati permainan. Guru juga perlu mengintegrasikan dengan metode lain agar tetap dikenang baik oleh siswa. Misalnya, memperlakukan siswa dengan baik, adalah keharusan bagi guru. Sebelum bel masuk berbunyi, biasanya saya sudah hadir di sekolah. Menyambut siswa yang diantar orang tuanya. Satu persatu mereka bersalaman pada saya. Atau kadang asa yang lewat begitu saja. Saya membiarkan kesadaran untuk selalu membiasakan salaman setiap bertemu gurunya. Bagi yang lupa atau sengaja tidak bersalaman, saya berusaha mengingatkannya dengan lemah lembut.

Tidak disangka, kebiasan saya yang dilakukan sehari-hari berdampak besar bagi saya dan tentu bagi mereka. Saya merasa nyaman bersahabat dengan mereka. Lebih banyak waktu mendalami emosi dan karakter mereka. Menjadi lebih tahu cara apa yang harus saya lakukan saat menghadapi mereka. Pelajaran empiris sangat berharga bagi saya, sebagai guru di sekolah dasar.

Bagi mereka, tampak lebih memahami karakter saya. Lebih paham tentang sesuatu yang saya maksud. Lebij taat ketika saya meminta sesuatu untuk diambilkan, menyuruh sesuatu untuk dilakukan dan mengarahkan mereka untuk mengerjakan sesuatu.

Nah, selain saya nyaman bersahabat dengan siswa melalui kegaitan bermain bersama, terutama pada permainan taneker, ternyata banyak hal yang dapat sau=ya simpulkan. Terutama berkaitan degan nilai karakter yang terbentuk.

Sesuai dengan pengalaman yang saya temukan bahwa nilai-nilai karakter yang muncul dalam permainan taneker antara lain karakter religius, kejujuran, ketangkasan, kecerdasan, ketangguhan, menghormati, kesabaran, kepedulian, kepatuhan, kesadaran hak dan kewajiban, serta tanggungjawab.

Karakter religious muncul bahwa dalam permainan taneker ini siswa yang beragama berbeda, tetap boleh bermain. Sekaligus nilai persatuan dan kesatuan. Siswa yang beragama lain tetap menghormati siswa yang beragama Islam. Bahkan untuk memulai bermain saja, kata-kata basmalah diucapkan oleh beberapa siswa. Begitupun ketika ia mendapat kesempatan memeroleh jumlah yang banyak, mereka juga bersyukur.

Dalam permainan ini harus bersikap jujur. Sesuai dengan kemampuan dan kemahiran bermain tidak boleh ada yag curang, mengambil yang bukan haknya serta melakukan pelanggaran diluar kesepakatan.

Permainan taneker adalah permainan yang membiasakan gerak motoric. Oleh karena itu, juga menguji ketangkasan dan kecerdasan dalam bermain. Biasanya, siswa yang tangkas dan cerdas dapat memanfaatkan peluang untuk memenangkannya.

Termasuk karakter ketangguhan juga diuji dalam permainan taneker ini. Pemain yang tangguh adalah pemain yang selalu menang. Dalam arti paling banyak memeroleh jumlah taneker atau kelereng hasil perjuagnannya.

Sikap saling menghormati dalam permainan ini juga dijunjung tinggi. Kesempatan melakukan permainan selalu bergantian sesuai dengan urutannya. Tidak boleh saling mendahului. Itulah ketetuan yang disepakati para pemainnya.

Selain itu, permainan juga melatih kesabaran. Siswa atau pemain yang “kalah” atau paling sedikit memeroleh jumlah kelereng, maka dengan sabar ia harus menerimanya. Kemudian bangkit dan bermain lagi.

Permainan ini juga mengajarkan kepada siswa tentang kepedulian kepada sesama, kepatuhan pada kesepakatan, kesadaran akan hak dan kewajibannya sebagai pemain, serta bertanggung jawab terhadap posisinya pada saat bermain. Bagi siswa atau pemain yang sedang berkesempatan melakukan tindakan permainan, maka pemain yang lain harus berada di pinggir arena.

Begitu seterusnya. Permianan taneker ini telah ada sejak turun temurun. Bahkan sejak saya dulu menjadi siswa, juga bremain hal yang sama. Aturan yang relatif sama dan benda yang digunakan juga memiliki karakteristik dan ukuran yang tidak beda. Hal ini menandakan bahwa permainan taneker ini telah membudaya di lingkungan kita sejak lama.

Selain karakter yang dapat ditumbuhkembangkan dengan baik, permainan ini juga melatih konsep kebersamaan dalam keberagaman. Permainan tradisional takener ini menghadirkan suasana yang gembira, suka cita. Jiwa anak-anak muncul dengan bahagia dan menyenangkan. Dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan jiwa memiliki yang tinggi.

Permainan ini juga dilakukan secara bersama-sama. Membutuhkan solidaritas dan kebersamaan yang tinggi. Tidak boleh ada yang tertinggal dalam permainan ini. Semua harus bermain.

Permainan ini juga meningkatkan keterampilan dan ketangkasan. Secara teratur keterampilan dan ketangkasan mereka akan terasah dengan baik. Kerja motorik juga akan semakin baik. Bahkan, dapat dirasakan relaksasi otot ketika ia telah mencapai prestasi dengan kemenangannya. Kebahagiaan mereka akan membentuk energi positif dalam jiwa mereka.

Permainan inijuga menyadarkan tentang pentingnya makhluk sosial. Seseorang tidak bisa hidup tanpa adanya orang lain. Selalu bermain bersama dan bersahabat. Menciptakan kerukunan dan kebersamaan sejak dini adalah hal yang baik untuk hubungan di masa depan.

    Namun, yang perlu ditekankan adalah dalam permainan taneker ini supaya dihindari dengan cara dan system judi. Artinya mengambil penuh atas kemenangannya dan menjual dengan transaksi atas taneker yang dimenangkannya. Hal ini harus benar-benar ditanamkan pada siswa. Permainan taneker adalah permainan ketangkasan, kecerdasan dan prestasi atas kemahiran yang ia miliki. Bukanlah saling mengambil keuntungan dari tansaksi jual beli kelereng setelah permainan dinyatakan kalah atau menang.

Nah, guru berperan strategis untuk ikut ambil bagian menegaskan agar siswa terhindar dari perjudian dan hal negatif yang tidak sesuai dengan peraturan agama dan pemerintah. Perjudian atau mengambil materi orang lain dengan cara dipertaruhkan atau mempertaruhkan sesuatu sehingga ia mengambil dari hasil taruhannya adalah tindakan yang dilarang oleh aturan agama dan pemerintah. Sehingga yang muncul dan berkembang melaui permainan taneker ini adalah benar-benar prestasi atas ketangkasan, kecerdasan dan kemahirannya dalam bermain.

******

Ali Harsojo, lahir pada tanggal 18 Januari 1978 di sudut kota kecil paling timur pulau Madura, Sumenep. Ia adalah alumni Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya pada tahun 2013. Saat ini, Ia mengajar di SDN Pajagalan II Sumenep. Aktif dalam kegiatan literasi dan tergabung dalam beberapa komunitas literasi: Mediaguru Indonesia, Rumah Literasi Sumenep, Gladhi Kusuma Jatim, IPP Jawa Timur, FSG Sumenep ,dan Kata Bintang. Belajar menulis di surat kabar lokal, media online, dan beberapa buku antologi. Hampir setiap waktu menulis menggunakan smartphone.

Ia lolos di Antologi MG: Gurusianer Bicara Eskul Menyenangkan, Gurusianer Bicara Literasi, Mengawal Moral Bangsa dan RBA. Pemenang Lomba Antologi Mediaguru Selamat Datang Mas Nadiem tahun 2019, Jalan Terang Guru Pemenang, Internet Pendidikan, Merdeka Belajar, Satu Derap Seribu Giat (Guru Penggerak Menjawab), #DiRumahAJa,  Berani Mengajar Siap Belajar, Jurus Belajar Daring Antigaring, The Power Of Kepekso dan Pejuang Literasi yang dihelat oleh MediaGuru Indonesia. Buku pertamanya adalah Samudera Inspirasi di Facebook yang dipublikasikan Pustaka MediaGuru dalam program Satu Buku Satu Guru dan diluncurkan bersama pada acara Gebyar Literasi dan Temu Penulis Nasional tanggal 20-21 Mei 2017 di Kemdikbud Jakarta. Buku Solo berikutnya adalah Model Konstruktivistik dalam Pembelajaran Menulis Laporan dan Bedah Literasi Kelas: Catatan Literasi Pak Guru.
E-mail: alee.harsojo@yahoo.com, alee.harsojo@gmail.com
HP. 085755977062, 081703181191

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 3346112414679762502

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA