Sajak-sajak M. Sattar Syam

M. Sattar Syam
M. Sattar Syam, Lahir di Sumenep, tanggal 01 Juni 1971,Beralamat di Lgr. Al-Falah, Candi, Dungkek, Sumenep. Puisinya dimuat dalam antologi puisi “Isyarat Gelombang


🍁🍁🍁

Memanjakanmu

Pada jelajah nafas yang mengeras pada arus mode baju-baju baru
Lagu adalah syahadah dalam memaknakan cinta
Saat udara bersahabat membaiat gerak disulam senyum
Membangun surga bukan hanya di telapak kaki bunda
Tapi di tepi dada dan gerak kelopak mata
Dan ketika di egoku neraka padam oleh usapan ikhlasmu
Manjamu adalah kunci saat semua pintu tertutup dan udara di sini pengap
Saat senyum tersaji di meja makan
Harimau menyusup di pori kepenatan
Dan gemuruhnya di dongkol kolapku luluh menjadi syair-syair mengalir di aliran-aliran air liurmu
membasahi kali di rongga dadaku
Hingga kompor di pagi hari menyajikan secangkir kopi
dengan sejoli senyum tak pernah henti
Senyum dan manja
adalah surga yang ujungnya saling bersahutan

Rose, 1 Januari 2010


Stromking

Stromking yang remang-remang pernah menyalakan harap lalu padam terpendam jerat listrik
Terkadang masih menyisakan doa
di tengah keringat para petani yang gagal menenun rindu
Sebab padam bukanlah kematian
melainkan nyala merangkai syair
jadi kata, jadi kalimat, jadi paragraf berisi puisi
yang menyanyikan pilu di musim kemarau
Bila tarif listrik di negeri sendiri tajam setajam duri, dian yang nyala di hati akan temaram
Sedang stromking akan bernyanyi kembali tentang daun kenanga berguguran
dirakit jadi bukit
menjelang tidur mengacaukan doa perdamaian
Sebab cahayanya akan senantiasa:
menyilaukan mata
menggalaukan hati
Adalah ekstasi yang dirakit dari ayat-ayat suci
menggetarkan kembali kegalauan yang membiru
membangkitkan birahi yang abadi
menyulam benang kusut menjadi melati lagi
di antara rakaat-rakaat tahajut yang kusujudkan.

Guluk-Guluk, 05/05/15


Bundaku

Di bentangan Suramadu, sempat kulambaikan tangan
Sebab gemerlap lampu metropolitan
Seperti gambar presiden dan menteri-menteri dengan jas hitam dan dasi
Kugantung di sudut-sudut jantung
Telah membangun ruang di tepian-tepian mimpi
(mimpi saat aku terlelap dalam dengkur)
Bila aku menoleh ke belakang, puting susu bunda mengeristal di mataku
Ada butiran-butiran jagung bergelantung
Buliran-buliran padi menguning pada tumpukan-tumpukan jerami
Belum sempat bunda semai
Lalu aku berpelukan dengan ibu, hingga tak ada lagi rasa rindu
Sawah dan ladang
Bukit dan pantai
Warisan moyangku
Harus digarap oleh anak tunggalnya sendiri
(Setelah aku terbangun)
Oh! Oway!

Jakarta, 30 Mei 2017.


Cita, Cinta, dan Rindu

Selamat datang burung bangau
Sayap yang mengepak melewati napas nafsumu
Membiru dari kota dan kota
Berjungkir melawan arus pergantian musim
Mengejar mimpi meraih bukti
Bila di sana ada hujan
Di sini kerontang
Daun-daun berguguran lalu kau tinggalkan atas nama cita
Ketajaman kaki berpijak
dan hati mengakar di belantara As-Syarqawi
mengibarkan bendera di angkasa raya atas nama cinta
Selamat datang burung bangau
Ibarat bangau meninggalkan belanga
Menelanjangi bandara, dermaga, terminal, stasiun,
melewati Suramadu
bersua kembali di kubangan
atas nama rindu
Selamat datang burung bangau,
Menepati janji di isyarat gelombang

Sumenep, 1 Maret 2018


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 683690503981157225

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA