Sajak-sajak Lussani, IDIA Prenduan

Lussani adalah nama asli dari penulis Lusy az-Zumar lahir di sumenep 21 November 1998, menempuh pendidikan Mts-MA di At-ta’awun Tekay batang-batang Sumenep kemudian dilanjutkan di Institut Dirosat Islamiyah Al-amien (IDIA)Prenduan Sumenep Madura

Harapan terbesar sang penulis ditengah sibuknya melakukan berbagai aktivitas adalah mampu berkeluh kesah dalam dunia tulis menulis bersama teman-teman lainnya, membuktikan bahwa teman-temannya juga pantas dilihat sesama


*****

Akhir Yang Tak Terarah

aku pernah rasakan berjuta kerinduan tanpa kepastian,
pernah punya cinta namun hanya berbau kehampaan.
Aku yang selalu berjalan tanpa beriringan dengan harapan dan impian
Menitihku untuk tak lakukan kebodohan
Sakit memang bukan tidak dirasakan
Tapi, begitulah kadang cara Tuhan turunkan berbagai macam ujian.
####
Untuk wujudkan hidup nyaman penuh kebahagian
tidak selalu tentang kobarkan obsesi besar-besaran
jika tidak terkabulkan akan timbul kesedihan Tidak berkesudahan
Tetapi, bagaimana cara kita tanamkan keikhlasan dan kesabaran dalam lakukan setiap jengkal perbuatan
Percaya bahwa rencana Tuhan lebih harum dari semerbak bunga mawar yang bertebaran
Saat punya pemikiran akhir tidak ada arahan
Yakinilah bahwa Tuhan sedang merindukan tadahan tangan permintaan
Tuhan rindu dengan seruan
Dan sebenarnya, itu bukanlah akhir perjalanan
Tapi, kebuntuhan akal pikiran
Yang butuh asupan minta pertolongan tuhan


Sadar atau Sesalku

Dalam redup malam aku tertunduk lesuh
Dengan tarian kata beradu
Colekan kasih rindu tak lagi jadi gertakan syahdu
Jiwaku tak lagi beradu satu
Tak lagi saksikan sungging senyum jarak jauh
Hingga, aku mengaduh aku pilu
Wahai kau pujanggah kalbu
Suara lengkingmu tak lagi gadu
Sapaan manjamu menjauh
Dan nyanyian tawamu sudah beku
Aku tahu ini bukan salahmu melainkan keputusanku
Untuk belajar pantas disampingmu
Untuk itu, rasa pilu memicuku untuk belajar ikhlas atas kebebasanmu
Salamku
Semoga bahagia sungkan menjauhimu


Temu Yang Dicegah

Saat cinta beraduh, surga bagai merajuk empedu
Ladang temu dijadikan asupan pengobat rindu
Siapa yang tidak mau bertatap syahdu bersama penglipur hati beku
Tapi kadang, waktu mengulur temu
Seakan keadaan semu berbisik pada waktu lalu dengan lihai
Menahan langkah kaki untuk istirahat sejenak  jika ingin bersua pada tempat yang ingin ditujui
Memang kita hanya dua insan yang layak untuk berjanji lalu saling menjumpai
Tapi, aku berasupan saat ada kamu di tempat yang ingin aku tujui
Keadaan seakan mengulur waktu
Kadang aku merajuk tak tentu
Kenapa selalu ada penghalang diantara kamu dan aku
Kenapa selalu ada celah yang seakan sudah menjadi rencana waktu
Apa karena aku sang pendosa membatu sampai keadaan kirimkan dadu bisu?


Kesalahan

Kecewa bukan, saat apa yang kau harapkan tidak kau dapatkan
Marah bukan, saat apa yang telah jadi kepercayaan hanya berbau kebohongan
Itu adalah hak kau ambil keputusan
Aku pasrah itu memang sebuah kesalahan
Sekarang aku merasa kebingungan terhadap sebuah perubahan
Mungkinkah sebab harapan yang ketinggian pada sebuah kedamaian
Atau hanya anggapan berlebihan sebab, takut perkepanjangan
Entahlah aku tak dapat tarik sebuah kesimpulan
Akankah esok masih terima banyak keluhan dari apayang telah aku lakukan


Siapa Aku

Jika aku adalah bau busuk
Kubur aku sampai tak ada penjenguk
Jika aku adalah bara api
Hisab aku dengan air terpatri
Jangan tabur arang disetiap tepi
Namun, jika aku adalah burung merpati berkicau dan bernyanyi
Aku tak akan minta royalty
Ikuti jika aku bunga melati
Buang aku kelembah yang tak kau kenali
Jika aku bunga mawar berseri menusuk diri


Sebabku Terlena

Bergerak tanpa kata
Menoleh tanpa rasa
Kecut hati ingin menerkah
Diremang-remang jiwa patah
Dan ditengah-tengah banjirnya manusia
Tak sengaja kutemukan lentera benalu
Yang siap runtuhkan reranting bergelantung manja
Oh aku terlena
Terhipnotis duri bertapah
Memangsa jiwa untuk melangkah nyata
Dan lepas tawa aku terluka


Ada Coba Dalam Mulai

Aku diam dalam kelam
Ditodong haluan kejam
Aku melangkah ditodong pedang tajam
Aku coba memejam
Mencoba menepis bakar yang tak kunjung padam
Dihardik ribuan Tanya mencekam
Kapan ayunan senyam tak berbau dendam
Benarkah ini coba dari sebuah mulai
Lalu kenapa mikanisme diri masih runyam
Kapan akan aku raskan istilah tentram
Saat gelap malam menerjang tak mau diam


Ingin Kubertanya

Bergaya layaknya petapah
Menyinggung banyak torehan tinta
Kedap hati ingin bertanya
Bagaimana tanamkan damai cinta pada kasta yang menjelma
Ditengah himpitan celah
Bagaimana membangun segelintir pesona
Ditengah lantunan hina
Dan bagaimana merajuk pada sang penggoda
Bahwa aku adalah sasaran utama
Suara mengelantung merdu dalam derap jiwa rapuh
Membakar gealap hati tak menentu
Sirami detak jantung beku
Oh Tuhan
jalanMu tak membuatku ragu
gertakanMu menyongsong kedai terbelenggu
saat percikan cintaMu tercium syahdu
lantunan ayat-ayatMu mengacak sendu
mendongak jiwaku
membangun mata batinku bahwa, Tuhan tahu aku layak untuk menyatu
tebarkan senyum disetiap penjuru
bersyukur dan bersabarlah wahai jiwaku
air matamu takkan terbuang jauh
dia jatuh sebab ingin mencari tahu Tuhan sedang rencanakan sesuatu yang lebih indah dari sembabmu


Satuan Makna

Saat celah membabi buta
Menghujat tak ada gunanya menangispun buat apa
Bukan umpatan yang perlu diasah, bukan gumpalan rasa kesal yayng disapa
Senyum sapa meriah adalah salah satu cara untuk bahagia tetap ada
Wahai saudara ciptaan Allah perkasa
Burung elok bertanya dengan rasa ibah pada jiwa-jiwa lemah
Kenapa? Ada apa?
Saat Tanya itu terjawab pasrah
Aku terpesona dengan kepakan-kepakan sayapnya mampu membuatku berkata
Rongrongan kata itu bukan sebuah hina dan celah namun, hipnotis cinta dari segerombolan penghuni surga
Terima kasih untuk semua FALLIANCTICA
Sebab, sentilan kata membuatku bersua dengan satuan makna


Untuk Yana Sahabatku

Menurutku sudah menjadi kodrat manusia untuk rasa sedih dan bahagia, semuanya ada pada diri kita
Mungkin Allah menanamkan dua kata itu yaaa karena Allah ingin kita ingat padaNya
Caranya gimana?
Saat bahagia melanda, bersyukurlah
Saat sedih menjajah, tabah dan bersabarlah
Jangan takut terhadap apapun yang datang bertamu pada jiwa
Sebab, Allah akan/sudah siapkan kado yang tidak bisa duga
Yaaa tentunya sesuai dengan cara kita menyapa mereka berdua. ITU SAJA

Guru penaku

Disebuah tempat terpencil dengan suasana menggigil sebab, alat yang usil
Kutemukan guru penaku duduk menyentil,
Dari jarak jauh ingin kuucap kata kecil namun, ketakutanku kian membuatku kerdil
Aku melangkah mendekat, sekedar lewat tak berniat menatap walau sekejab
Namun. Secara cepat aku dengar suara berat
“Lusy semangat buat acara yang dibuat”
Ahhh….bahagiaku sungguh kuat
Tawa dan senyumku tak bisa diralat
Dan tingkahku datang melesat
Terima kasih atas sapaan nikmat
Aku ingin tetap jadi muridmu yang lekat


Kalah

Wajahmu lelah
Matamu seakan tak sanggup berkedip manja bersama ribuan mangsa tertawa
Kamupun berkata
“Kaki tak sanggup melangkah sebab,naikturun tangga dan kalah dari lomba yang dibina”
Wahai saudara
Kamu tak kalah, hanya saja Allah merindu
Kamu membaca ayatNya tanpa dikejar waktu tak berguna



Pagi Hari

Embun bergemuruh dalam sepi
Burung berkicau tak mau berhenti
Bunga-bunga bergandengan dengan rapi mengelilingi
Sementara, kucing sendiri memijaki jalan yang tak pasti
Kucoba memcari sebuah arti dari sejuknya pagi yang nikmat jika berdayung dalam mimpi
Di tengah jalan sunyi
Aku duduk sendiri menanti datangnya mentari
Sampai akhirnya, aku menyadari dan memahami
Inilah kuasa Ilahi menyeruak bau wangi yang patut kita syukuri


Bangkitkan Semangat

Jika sering mendengarkan omongan orang yang berkepanjangan
bahkan, membuat kendor harapan
kapan akan menjemput banyak impian
yakinlah, apa yang mereka katakan  adalah sebuah ujian dari Tuhan
untuk membuktikan seberapa besar keteguhan atas keinginan
yang sudah jadi pilihan
pejamkan apa yang aku katakana
saat kita bersenangdung dengan kesedihan berlebihan
bisa jadi kita kurang yakin atas kuasa Tuhan


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 319961443439739693

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

item

WA