Dari Sini Aku Mengenal Kata


Cerpen : Lusy Az-Zumar

Atas torehan tinta kakak kelasku, akan kuabadikan dalam sejarah hidupku, menjadi bukti mulainya aku benar-benar ingin menjadi seseorang yang pintar dalam mengolah kata, menjadikannya  tarian kalimat yang sangat nikmat  disetiap langkah kebosananku.

Sejak aku duduk dibangku MI (Madrasah Ibtidaiyah), aku memang suka yang namanya nulis, nulis yang dimaksud disini bukan nulis seperti yang kalian bayangkan . misal, rangkai kalimat sendiri, nyatanya bukan seperti itu. Waktu itu aku suka mengkopi dari buku satu ke buku yang lain. Awalnya aku kira itu salah satu bentuk belajarku agar tulisan ku lebih bisa di baca banyak orang tapi, nyatanya sampai sekarang tulisanku tak serapi yang kubanyangkan

Sampai pada akhirnya aku dipertemukan dengan orang-orang hebat seperti kakak kelasku. Dulu aku tak mengenal Darwis tere liye, Habiburrahman, Asma Nadia, dan orang-orang hebat lainnya. Jadi, aku beranggapan bahwa kakak kelasku adalah orang yang termasuk pada deretan orang –orang hebat.

Risalah Hati

Tak pernah terlintas sesal dalam hati untuk sekedar menyatukan hati, entah apa sebab dari kebahagian jiwa. Kala senyuman menebar di langit kalbuku kala itu, ingin ku rangkai puisi dengan sejuta imajinasi untuk tetap terlihat sejati didepan sang kekasih hati. Kau ajarkanku dengan kata dan makna dari kalimat cinta yang menyilau dan menusuk sukma. Kini, ku mengejar waktu arungi hari untuk bisa berlabuh menapaki istana kesucian antara kau dan aku ada……

Gumpalan kasih sayang yang saat ini tergenggam erat dalam tanganku mengajakku mencari dan menemui kebahagian hakiki, kau dulu yang sangat ku kenal dengan sosok istimewa sampai saat ini hatiku masih tak ingin berpaling dari keistemewaan ….

Demi pemegang kekuasaan jiwa dan raga tiada kata yang mampu ku bingkai untuk membuktikan bahwa, betapa tulus hati ini mencintai, begitu setia hati ini menanti dan selalu menyanyangi. Kini, waktu membujukku ungkapkan getar hati yang tak biasa.degup jantung yang luar biasa, hembusan nafas yang terengah semua ku dapati, sedang siap untuk beraksi demi uraian bahasa yang terbingkai indah

“Bismillah Aku Mencintaimu ”

Begitulah bahasa yang ku tulis dalam risalah hati yang tak mampu ku cegah untuk selalu bertahan pada kesendirian diri yang semakin menyayat hati. Bahagiaku terikrar pada benteng awan yang berjalan tenang.  Rahasia hati kini terbuka lebar dengan keinginan naluri yang terus memburu……bunga-bunga bernyanyi syahdu saling berkepak riuh

 Tulisan diatas merupakan untaian bahasa yang pernah ia tulis. Mungkin ada yang akan beranggapan. Bahasa yang digunakan biasa aja atau yang lainnya, menurutku sudah menjadi hal biasa mendapat kritikan atau apalah tapi, intinya dari sana aku rasa kecintaanku dalam tulis menulis mulai tumbuh. Ku ajak salah satu teman akrabku untuk melatih tanganku untuk selalu bertalentah dengan pena dan kurasa itu berhasil walau bahasa yang keluar yang teruntai lebih buruk dari apa yang dihasilkan oleh kakak kelasku. Sampai pada akhirnya, bapak mengirimku ke sebuah pondok pesantren yaitu : Al-amien prenduan sumenep madura katanya sich untuk melanjutkan pendidikanku kepada yang lebih tinggi (kuliah) sebenarnya sejak aku duduk di bangku kelas 2 MA rasa malas belajar sudah membabi buta dan tak ada keinginan sama sekali untuk melanjutkan tapi, dari pada aku harus membangun keluarga baru(berumah tangga) dengan sikapku yang masih kekanak kanakan, lebih baik aku berkelut dengan teman-teman dan suana baru dan  terpaksa aku iyakan apa yang bapak mau.

Sesampainya disana tak betah sudah pasti terasah, mengingat teman-teman lama. Dan tentu sebab peraturan yang hampir 90% jauh lebih ketat  dari tempat sebelumnya…haaaa pengen aku teriak waktu itu, pengen merontah dan sebagainya. Namun, apalah daya…aku hanya bisa pasrah

“Adek mau ikut apa mapensa atau ilmiah,” tanya seorang senior

“Mapensa apa dan ilmiah itu apa,” tanyaku waktu itu

“Mapensa itu adalah bagian dari organisasi kecil yang biasa kami sebut dengan UKM(Unit Kegiatan Mahasiswa) nah di mapensa ini mengajarkan pada setiap anggota untuk berani, beraksi, dan hal-hal yang berbau pada gerak badan sedangkan, di ilmiah itu lebih kepada tulis menulis ” jelasnya pada ku

Waktu itu, dari penjelasan yang dipaparkan kakak senior dalam benakku masih tak ada gambaran untuk ikut yang mana, akhirnya aku ajukan pertanyaan bagaimana kalau tidak milih dua-duanya tapi ternyata katanya, dalam pondok ini tidak ada kata tidak memilih atau bahkan tidak ikut. Yaa dengan terpaksa lagi aku yakinkan untuk masuk ilmiah yang anggotanya lebih sedikit ketimbang anak-anak yang memilih mapensa. “Kenapa ga’ masuk mapensa? Padahal aku tunggu keberadaan mu disitu,” Tanya salah satu pengurus UKM. Pertanyaan itu aku dapatkan karena katanya aku termasuk muka-muka mapensa, aku bisa tersenyum seadanya layaknya orang tak perdaya katanya sich aku ini asalah tipe orang yang menghibur

Nach, dari organisasi itulah menjadi salah petunjuk Allah untuk meneruskan kecintaanku pada dunia tulis menulis, disana ku dipertemukan dengan orang-orang yang lebih mahir lagi dalam dunia tulis menulis aku bersyukur. Tapi, sayang sekali siwaktu aku baru semester pertama dan kedua kecintaanku berkurang.

Aku hanya bisa mengikuti perintah jika disuruh aku kerjakan jika tidak yang sudahlah aku biarkan tanpa ada latihan lagi kecuali di luar latihan. Lanjut cerita pada semester ketiga Allah selalu mendukungku untuk melanjutkan kecintaan ku dulu, disemester ketiga ini aku dipertemukan dengan salah satu anggota anak mapensa dia lulusan banyuanyar katanya dia juga suka nulis dan pernah masuk FLP nach dari situ barulah aku mulai punya gairah untuk menulis walai sekedar catatan harian, ketika aku membaca hasil coretan ku ada rasa haru dan tak pernah mengirah akan sanggup merangkai untaian kalimat yang mngkin bisa di nilai lebih baik dari berikutnya. Dan menjadi kebanggaan tersendiri ketika mengingat bebepa bulan lalu coretanku terterah dalam majalah iqra’ dengan tema” pesan untuk pangeran surga”.

Aku berlatih dan terus berlatih hingga hari ini disemester empat lagi-lagi dipertemukan dengan orang yang tentunya lebih hebat lagi. Beliau adalah seorang dosen namanya Bpk. Nur cholis majid, M.pd. beliau merupakan salah satu dosen yang juga mahir dalam tulis menulis bahkan, namanya juga sudah berada dimana-mana. Aku lagi-lagi bersyukur, dan kurasa kecintaan ku pada dunia tulis menulis tidak akan sia-sia. Kerap kali aku mendapat teguran dari beliau sebab, aku yang selalu terlambat ketika mau mendalami mungkin rangkah-rangkah dalam kepenulisan. Hari pertama aku masih sanggup mengucap “maafkan saya pak, saya terlambat” namun, hari berikutnya kata maaf itu tak sanggup lagi keluar dari seruanku kecuali”saya lambat lagi” rasa malu, takut dan lainnya bukan tak ku rasakan apalagi mendengar jawaban “memang kamu selalu lambat” ucap beliau sambil kembali masuk kantor. Nunduk dan pergi dengan muka muram mungkin itulah yang sanggup aku lakukan.

Keluh kesah dalam menulis selalu menjadi topic pembahasan pertama bagi ku dan pesan beliau”membaca adalah kunci utama kamu untuk mudah menulis” dari sana pula aku mulai giat membaca dari buku yang aku suka dan tak tau kenapa disemester empat ini, bukan perihal aku disuruh membaca tapi, memang kemauan dari diri sendiri target ku waktu di semester 3 satu bulan harus beli buku satu mala tak sesuai, aku merasa tidak enak jika, membaca buku bukan punya sendiri. Jadinya, targetan itu bukanlah lah 1 buku dalam 1 bulan melainkan lebih dari itu. Dan aku berharap tentu kepada Tuhan agar apa yang aku jalani hari ini menjadi kode dariNya untuk kumenjadi orang yang sanggup berkelana, berdakwa dan lainnya dengan cara tulisan Amien…..

Prenduan, Kantor UKM, 29 januari 2019

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 8337104661266054543

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

item

WA