Sepulang Haji, Apa yang Akan Diperbuat?


Oleh : D. Zawawi Imron

Peristiwa ini terjadi pada 1993 di salah satu desa di negri untaian zamrud khatulistiwa ini. Bersama seorang teman,saya datang kesebuah desa yang subur. Padi dan kelapanya subur. Tidak mengherankan bila ditengah-tengah desa itu ada banyak rumah yang bagus dan bahkan mentereng. Yang punya rumah pastilah orang-orang kaya pemilik sawah dan kebun kelapa yang subur itu. Tetapi,selain itu,saya jumpai gubuk-gubuk kusam dari bambu dengan penghuni rumah yang kumuh dan anak-anak yang tampaknya kurang gizi.

Sayapun berkesimpulan bahwa  kemakmuran desa itu agaknya hanya dinikmati oleh orang-orang kaya saja. Agaknya, orang-orang miskin yang jadi kuli, buruh tani, dan tidak punya penghasilan tetap sudah tidak memiliki apa-apa lagi selain rumah hampir reyot dengan pekarangan sempit. Menurut keterangan mereka ketika musim panen sebagian dari mereka membantu membantu bekerja pada orang-oang kaya dengan upah beberapa ikat padi. Selebihnya,ada yang bekerja ngasak, yakni mencari sisa-sisa buliran padi di sawah yang terluput dari sabit dan ani-ani pada panen.

Bersama teman saya,Syarifuddin Miftah,(telah almarhum) yang berkunjung kedesa itu,saya merasa terenyuh. Saya sengaja tidak menggunakan teori ilmu sosial untuk tidak semakin pusing. Saya mencoba mengingat ucapan Sayyidina `Ali bin abi thalib yang pernah berucap,”Tidak akan lapar orng miskin kecuali karena kikirnya orang-orang kaya.” Bertolak dari ucapan itu, saya bukan hanya menjadi pusing .

Lebih dari itu, hati saya jadi sakit dan kemanusiaan saya tersinggung. Kok tega-teganya orang-orang mengeruk kekayaan tanah air ini sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan jerit-tangis dan perih-laparnya saudara-saudaranya yang miskin. Kok tega-teganya mereka senang sndiri, kenyang sendiri, dan menang sendiri dalam pencaturan pencari rizqi tuhan di dunia ini.

Di desa itu banyak orang berpakaian indah pagi itu, suasana seperti hari raya  layaknya. Selebihnya, ada suara hadrah bertalu-talu di pintu asuk kampung.

“Ada apa ini?”tanya saya kepada seorang penduduk yang berpakaian bagus.
“Kami akan menyambut kedatangan jama’ah haji.”

Dan betul. Beberapa saat kemudian, yang ditunggu-tunggu datang dengan mengendarai beberapa sedan bagus dan di iringi banyak mobil seryta konvoi sepeda motor yang sangat banyak. Pokoknya sangat meriah sebuah pesta yang penuh buncah-buncah rasa kegembiraan.

Bunyi pukulan gendang hadrah semakin bertalu-talu seakan-akan membangunkan phon-pohon yang sedang tidur agar ikut bergembira ria.

Hanya saja, yang tetap mengganggu perasaan saya adalah oang-orang miskin yang berdiri di depan pintu rumah dengan ekspresi wajah dingin. Mereka tidak tampak u\ikut bergembira dengan kedatangan orang-orang  sekampungnya dari tanah suci. Agaknya, ada jarak ruhani yang begitu jauh antara orang-orang miskin di gubuk kumuh itu dengan kegembiraan penyambutan jamah haji.

Mereka merasa tidak punya keterlibatan apa-apa dalam pesta kegembiraan itu, kecuali hanya memandang dengan mata penuh tanda tanya. Antara mereka yang mampu naik haji dengan mereka yang miskin di kampung itu seperti dipisahkan oleh jurang yang lebar dan dalam serta tak ada jembatan kasih sayang.

Agama yang dipahami secara benar telah merentang jembatan antara si kaya dengan si miskin agar jurang itu semakin sempit atau paling tidak mudah di lintasi dengan apa yang di sebut zakat, sedekah (shadakah), dan infak.

Bila sedekah dan infaq benar-benar di jalankan dengan tertib dan lancar oleh orang-orang kaya dan para haji di kampung itu, tentulah mereka yamg miskin akan kecipipratan harta dari mereka yang hidup makmur itu.

Gubuk-gubuk yang hampir reyot itu pasti akan di bantu perbaikannya. Orang-orang yang menghuni gubuk itu tidak akan kekurangan gizi, dan anak-anak kumuh itu tidak akan tampak lesu dan kuyu.

Bila orang-orang miskin itu selalu mendapat santunan dari haji-haji yang baru datang itu, mereka akan menyambutnya dengan wajah ceria. Sebab, sebelum berangkat haji, diantara mereka telah terjalin silaturrahim. Nyatanya, mereka hanya sekampung,tetapi tidak bersaudara sesuai ajaran Allah dan Rasulullah.

Sejatinya, orang-orang yang berangkat naik haji adalah “Tamu-tamu Allah” (dhuyufullah) di baitullah. Tetapi, agaknya, tidak setiap haji berhail menjadi tamu Allah. Orang-orang yang berhasil menjadi tamu Allah berarti hati mereka telah benar-benar bertemu Allah.

Sujud mereka di masjid Al-haram akan benar-benar mengagungkan Allah sehingga hati mereka akan penuh dengan cahaya hidayah Allah. Haji orang seperti itu di sebut haji “Mabrur” pulang haji membawa cahaya kasih sayang Allah. Setelah tiba di tanah air, mereka pasti akan menyayangi tetangga dan masyarakatnya. Mereka akan merasakan nestapa kemiskinan sebagai bagian terdalam dari hati nuraninya.

Haji yang membawa pulang cahaya dan kasih sayang Allah akan menangis melhat orang lapar, anak kumuh, tetangga kurang gizi, gubuk reyot, dan wajah-wajah yang memelas sayu. Ia akan menjadi Haji “Rahmah li al –alamin,” yang senang menghapus air mata orang-orang yang menderita dan tegar dalam memberantas kemiskinan.

Dengan demikian,melaksanakan ibadah haji tidak hanya mendapatkan kesalihan ritual saja, melainkan juga, lebih dari itu kesalihan sosial dengan berbagi rasa dan berbagi harta dengan orang-orang yang berada di lembah penderitaan.

Tulisan Terkait

Utama 8755001337659250387

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item