Kesehajaan Sang Tukang Becak

Cerpen: Sugianto


Pak Arman adalah kepala keluarga yang menghidupi keluarganya dengan menarik becak. Sehari-hari pak Arman mangkal di pasar yang jarak dari rumah sekitar 5 km. Setelah menunaikan shalat Subuh pak Arman mengayuh becaknya menjemput rejeki, dan ketika petang barulah pulang. Rutinitas kerja yang telah dilakukan berpuluh tahun.

Berapapun uang yang ia dapat, langsung diserahkan kepada istrinya yang bernama Ibu Sri. Ibu Sri sangat pandai dalam mengelola keuangan keluarga. Betapa tidak, penghasilan suaminya digunakannya untuk menghidupi keluarga dengan 3 orang anak. Anak tertua, Yanto hampir lulus dari SMA, anak kedua Harbi duduk  di bangku SMP , dan si bungsu Anita kelas 2 SD.

Suatu hari ketika musim hujan sepulang dari sekolah Anita menderita demam tinggi.

“Badanmu kok panas sekali Anita. Apa yang kau makan tadi di sekolah ?” tanya bu Siti cemas.
“Anita hanya membeli nasi bungkus di kantin Bu Reni.” Jawab Anita
“Oh, begitu. Baiklah, sekarang kamu istirahat dulu, nanti ibu bangunkan kalau jamunya sudah siap.”

Sudah menjadi kebiasaan Ibu Sri untuk jamu bagi keluarganya menderita sakit, sebelum dibawa ke dokter.  Biasanya, Setelah minum ramuan  jamu buatan Ibu Sri panasnya menurun.

Bulan mulai menampakkan cahaya, Pak Arman belum juga sampai rumah. Tidak biasanya pak Arman seperti ini. “Bapak kok belum pulang ya ?” Penuh khawatir bu Sri menyampaikan pada Harbi, “Cobalah liat bapakmu, apa sudah datang?”

Harbi segera berlari ke jalan raya, dan nampak di kejauhan sebuah becak bergerak menuju ke arah Harbi. Ia yakin, pengayuh becak tersebut adalah bapaknya. Harbi pun berlari menghampiri.

Pak, kenapa bapak pulangnya sampe malam begini?” tanya Harbi, “Ibu cemas sekali.”
” Iya, tadi teman bapak sakit dan bapak antar dulu dia kerumahnya”.
Ooo, begitu, kata ibu  nanti mau membawa adik ke dokter”. Harbi turut mendorong becak sampai kerumah.
“Anita masih panas?” bapak heran.

“Iya, pak. Kadang panasnya tinggi, kadang juga turun. “Bapak punya uang ? Kalau ke dokter kan mahal celetuk Harbi.
“Ibumu punya banyak”. Jawab pak Arman seraya mengusap kepala Harbi
“ Yang kerja kan bapak, harusnya bapak yang punya uang ?” tanya Harbi penasaran
“Bapak simpan di ibumu”.
“Tapi saat Harbi minta sepatu baru, nggak dikasi sama ibu”.
“ Mungkin kalau kamu dapat peringkat 1 baru dibeliin. Sana belajar dulu.” Bapak mengusap kepala Harbi penuh kasih sayang. Setelah meletakkan becak, bapak langsung masuk ke kamar mandi.

Mengetahui sang suami datang bu Sri segera menyiapkan makan di amben dapur.

 “Yanto, tolong jaga Anita, Ibu mau menyiapkan makan buat bapak”.
“Siap, Ibu ! jawab Yanto beranjak dari meja dan meletakkan buku bacaannya.
“Anita masih panas ya ?” tanya Yanto sambil mengusap  keringat di kening Anita
“Iya kak, pusing dan badanku sangat lemas”. rintih Anita.
“Banyak minum, biar panasmu cepat turun”.
Sembari menghidangkan makanan,
Ibu sri berkata, “pak kita harus bawa Anita ke dokter karena  sudah 2 hari minum jamu, panasnya belum turun juga”.
“Iya bu, habis ini kita berangkat !” ujar pak Rahman seraya menyerahkan beberapa lembar uang hasil kerja kepada sang istri.
“Apa itu cukup untuk membawa Anita ke dokter bu?” tanya bapak
“Kita bawa ke dokter di ujung jalan sana pak”. Jawab bu Sri, “Biasanya kita,bayar separo.”
Pak Rahman mengangguk karena mulutnya penuh makanan. Bu Sri melihat sorot kesedihan dimata suaminya.
“Maafkan bapak ya bu, hanya segitu penghasilan bapak”, kata pak Rahman,” bulan depan Yanto sudah mau lulus, “mampukah kita melanjutkan pendidikan Yanto, bu ?”
Bu sri tersenyum menenangkan suaminya, inshaa Allah kalau kita yakin akan diberi kemampuan. 
Ingat pak kita sudah diberi amanah 3 anak”
“Alhamdulillah, dari keringat bapak kita mampu membesarkan mereka”.
bu Sri mendekat sambil mengelus bahu sang suami, Apakah ibu, berhutang pada tetangga ?” tanya bapak sambil senyum-senyum
“Tidak pak, ibu tidak punya hutang.
“Bapak kan tau sendiri kalau ibu tidak mau ngutang, ibu pamit dulu ”.

Sembari menunggu pak Rahman yang menyelesaikan makan bu Sri ke ruang depan menemui Yanto dan Harbi. Kedua anaknya itu sedang asyik membaca buku.
“Nak, ibu dan bapak akan membawa adikmu ke dokter.”
Yanto dan Harbi berdiri dan mencium tangan bu Sri. “Hati-hati di rumah ya” !

Meski merasa sangat lelah pak Rahman mengayuh becak menuju tempat praktek dokter Husni. Dari kejauhan bu Sri melihat demikian banyak pasien yang antri.

“Waduh, kok rame gitu ya Pak ?” seru ibu Sri dengan nada suara penuh kecemasan
“Nggak apa-apa bu, kita lihat dulu sesampainya disana”. Jawab Pak Rahman  menenangkan.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di tempat itu. Ibu sri menanyakan kepada petugasnya.
“Maaf Mbak, apa anak saya masih bisa berobat disini ?”
“Iya, bu. Segera bawa masuk anak ibu, setelah ini langsung anak ibu”. Jawab bu perwatnya.
 “Bukannya pasiennya masih banyak mbak ?”. tanya ibu Sri yang masih penasaran.
“Pasiennya cuma yang ada di dalam, mereka adalah keluarga pasien yang hanya mengantar”. Bu perawat menjelaskan pada ibu Sri.
 “O, begitu. Baik  mbak, terima kasih”.
Ibu Sri menghampiri anaknya yang masih di atas becak.
“Mari pak, pasiennya cuma yang ada di dalam, mereka-mereka hanya mengantar. Setelahnya, giliran Anita.
“Mudah-mudahan uangnya cukup ya, pak !”
”Insyaallah cukup bu, amin” seru pak Rahman seraya menengadahkan tangan.

Beberapa orang berdiri memberikan tempat duduk kepada Anita ketika datang dibopong bapaknya. Anita duduk seraya melihat televisi dan senyum muncul di wajahnya yang pucat. Bu Sri sangat senang melihat senyum Anita ketika melihat acara kesayangan, Famili Seratus.

Sembari nonton Anita memaksakan diir makan sepotong roti dan meneguk air karena seharian perutnya tidak terisi apapun. Belum selesai makan perawat memanggil Anita untuk masuk ruang praktek

Dengan didampingi pak Arman dan bu Sri Anita masuk ke ruangan dokter sembari mengucapkan salam.

“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarokatu.” Jawab dokter Husni, lalu mempersilahkan Anita ke tempat pemeriksaan. Sementara kedua orang tuanya duduk didepan meja dokter Husni.
“Kenapa Anita, Pak Rahman ?”.
“Ini dok, Anita panas sejak dua hari yang lalu, panasnya nggak turun-turun”.
“Sudahkah diberi obat, Pak ?”
“Nggak dok, hanya dikasi jamu sama ibunya. setelah minum jamu, panasnya turun, tapi beberapa jam kemudian badannya panas lagi” bu Sri menambahkan penjelasan kondisi Anita.
Dokter Husni beranjak berdiri dan mulai memriksa Anita. Dengan menggunakan stetoskop, mata, mulut, bagian perut dan kerongkongan di periksa dengan teliti.
 “Suka sambal ya ?”.  “Iya, Pak dokter” jawab Anita malu-malu. Dokterpun, kembali ke meja menulis beberapa catatan dan resep.
 “Pak Rahman, Anita terkena typus, typus B”.
 “Terus, harus bagaimana dok, apa harus di opname ?” Tanya ibu Siti cemas karena membayangkan biaya yang mahal.
“Tidak ibu. Anita butuh istirahat, minum obat. Sementara makan bubur tidak boleh makan pedas dan buah. Pesan dokter Husni.

Apakah obatnya mahal, dok ?” tanya pak Rahman sedikit malu. Dokter Husni tertawa.

“Pak Rahman, akan saya beri obat yang bagus, tiga puluh ribu untuk satu kali minum”. Supaya Anita lekas sembuh ”.
“Anita harus minum obat itu berapa kali, dok ?”  tanya Pak Rahman sembari menghitung dalam hati berapa uang yang harus dibayarkan untuk obat.
“Sembilan kali pak Rahman”. tegas dokter

Seketika itu pak Rahman nampak kebingungan karena hasil jerih payahnya hari ini tidak cukup untuk membeli obat tersebut.

“Maaf ya dok, saya hanya punya lima puluh ribu. “Apakah kekurangannya bisa saya cicil besok-besok?”.
“Ya, nggak bisa  dong Pak !” jawab dokter Husni mengurai senyum.”Tapi bapak tenang saja, obat untuk Anita gratis“.
“Benarkah dok ?” pak Rahman tidak percaya, beridiri kemudian memegang tangan dokter. Ada ekspresi kebingungan dan tidak percaya.
 “Iya, pak. Hari ini saya menggratiskan semua pengobatan kepada semua pasien”.
“Terima kasih banyak, ya dok. Kalau nanti dokter mau naik becak saya silahkan panggil, dan gratis juag dok.” Pak Rahman meraih tangan dokter Husni dan mencium penuh hikmat, kemudian disusul oleh Ibu Sri dan Anita.
“Iya, sama-sama Pak !” “Semoga Anita lekas sembuh”. Jawab dokter
“Sekali lagi, terima kasih ya Pak dokter “.

Dokter Husni mengangguk seraya mengantarkan mereka hingga pintu keluar.


*****

Sugiyanto, lahir di  Sumenep, 10 Desember 1983, Pendidikan:  SDN Kertasada, SMP 1 ,Kalianget,: SMA N 1 Kalianget,  D2 PGSD Unesa dan S-1 PGSD UT. Pekerjaan Guru SD dan pernah bertugas  SDN Sonok I ( 2010-2015) dan kini di  SDN Kertasada (2015-sekarang)


Tulisan Terkait

Utama 8048391164505201900

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item