"Pemuja Berhala", Novel Militansi Pergerakan

Pengantar Buku,  Rektor Universitas Islam Malang

Membaca novel ini mengmnatkan kepada Fighting Spirit aktivis 90-an dan awal 2000-an. Militansi pergerakan, idealisme berorganisasi, dan kokoh rnemegang prinsip kebenaran. Novel ini sebagai injeksi motivasi buat penikmatnya, sekaligus sebagai bahan bercermin buat aktivis kampus dan mahasiswa pada umunmya. Tak terkecuali santri dan kiai, sebab novel ini banyak bertutur bahasa khas pesantren,

Karakter tokoh dalam Novel ini mengilustrasikan silang opini santri tulen yang mahasiswa (Malika Syafira). Bersama dengan penikmat suluk yang mabuk filsafat, penikmat dan penggiat kesenian, penggiat tasawuf berkhas aI-Hallaj, Bayazid al-Bustomj bahkan Syekh Sidi Jenar (Farros el-Maghroby). Kalau harus jujur, membaca novel mi membuat saya teringat sirah Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatraiii dengan Nuruddin ar-Raniri berabad-abad silam.

Agar tidak menjebak dan membunuh penikmatnya dengan pedang polemik bahasan kebatnan atau tasawuf, serta filsafat yang terkadang tak bisa dicerna semua orang. Penulisnya sadar betul untuk menghadirkan sosok lain. Disinilah pentingnya penunjuk jalan menuju kebenaran hakiki. Novel ini benar-benar tertata secara konsep, sebab menghadirkan tokoh penyeimbang dan mursyid menuju kebenaran itu sendiri (Gus Fikri).

Novel, “Pemuja Berhala” yang kini ada di tangan anda, bisa menjaga marwah akadernik dan kampus secara total. Sebab, apa yang menjadi alurnya tak satupun keluar dan seruan agama, sajian analisis ilmiah yang berkarakter kampus. Konsep syiar dan jihad benar-benar difaharni oleh penulisnya. Ud’u ila sabili rabbika biihikmah, terpoles dengan sempurna dalam novel  ini tanpa harus melukai kalangan tertentu. Wa tawa shaubi al haqqi wa tawa shaubi a! shabbri, amanat ini begitu kentara dalam novel ni, tanpa ada kesan memaksa dan menggurui.

Pesan dalam novel ini saya yakin akan tersampaikan dengan paripurna pada pembacanya. Oleh karenanya, novel  ini memang layak dikonsumsi siapapun. Para aktivis kampus, para pemkmat filsafat, pelaku suluk, penikmat kesenian, akademisi bahkan para kiai.

Saya ucapkan selamat kepada Dimas Midzi, yang telah berhasil menerbitkan novel militansi pergerakan ini. Sekaligus kepada para pembaca, saya ucapkan selamat menikmati kelezatan menu makanan batin dan meminum madu syiar buat otak dan hati dalam novel ini. Semoga barokah dan tercerahkan.

Universitas Islam Malang, 06-12-2018
Prof. Dr. H. Masykuri, M.Si.




Tulisan Terkait

Utama 5197379935753149200

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA