Rakyat Tiongkok Sangat Getol Mencintai Bahasanya.


Sosok Ki Hajar Dewantara cukup dikenal di Tiongkok. Terutama di kalangan akademisi. Banyak yang suka pemikiran tokoh pendidikan itu. Namun di Indonesia, hanya banyak terdengar pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) saja. Padahal di luar negeri tokoh ini sangat dihargai.

”Di sana negara maju, tapi unsur klasik masih ada di sana. Dijaga dengan baik. Bahkan bangunan Dinasti Han, masih banyak ditemukan,” lanjut Instruktur Provinsi K13 itu.

Banyak lulusan pendidikan di Tiongkok yang dikirim pemerintah ke luar negeri melalui beasiswa. Setelah lulus, pemerintah sudah menyediakan tempat atau posisi sesuai bidang ilmu yang digeluti. Para pemuda lulusan luar negeri yang dikirimkan diajak mengembangkan negaranya. ”Di Indonesia, lulusan luar negeri terkadang masih sulit mencari pekerjaan,” sindir lulusan S-1 Universitas Adi Buana Surabaya itu.

Pemerintah Tiongkok sangat menghargai prestasi para generasi bangsa. Pemerintah banyak mendengarkan pendapat dari mahasiswa dalam kongres pendidikan. Suara mahasiswa sangat dihargai untuk kemajuan pendidikan.

Nilai positif lain yang perlu diadopsi yakni rasa saling menghargai. Pengendara sangat menghargai pejalan kaki. Di zebra cross, kata Wida, jika orang berdiri di pinggir jalan, kendaraan langsung berhenti. Memberikan kesempatan pejalan kaki untuk menyeberang. Tidak perlu ada aba-aba melambai tangan atau lampu merah.

Rakyat Tiongkok juga sangat getol mencintai bahasanya. Mereka jarang memakai bahasa Inggris walaupun kegiatan internasional. Sekelas profesor lulusan Amerika tetap menggunakan bahasa Mandarin. Sebab, bahasa nasional bagi mereka merupakan suatu kebanggaan.

”Harusnya kita sebagai bangsa juga bangga dengan bahasa Indonesia. Khususnya Madura. Kalau bukan orang Madura yang mencintai bahasanya sendiri, siapa lagi?” singgung ibu dari Bintang dan Bilqis itu.

Literasi sejarah dan budaya di Tiongkok juga luar biasa. Pohon kering pun tidak ditebang. Bahkan, jadi pelajaran di sekolah. Ada barcode pada setiap pohon. Ketika di scan oleh siswa, langsung bisa diketahui semua informasi tentang pohon tersebut.

”Ada patung pahlawan di bawahnya ada tulisan sejarahnya. Nama, perjuangan, dan sejarahnya. Banyak patung pahlawan yang dibuat,” kata istri dari Ruspandi, 40, itu. Sekolah di Tiongkok tidak sebanyak di Indonesia. Ketika disebutkan sekolah di Indonesia dalam satu daerah memiliki lebih dari 100 lembaga, para guru di Tiongkok kaget.

Masyarkat Tiongkok sangat mengutamakan kesehatan. Tak heran jika banyak fasilitas olahraga yang disediakan. Jalan kaki atau bersepeda menjadi pilihan daripada naik kendaraan. Kecuali jaraknya sangat jauh.

”Untuk sampai ke tempat transportasi umum juga harus jalan. Saya sampai pegal jalan karena tidak biasa jalan kaki di sini,” canda perempuan yang pernah bertugas di SDN Kaloang 5 Gayam itu. Pola makan juga sangat dijaga. Gula sangat dihindari. Karena dianggap sebagai sumber banyak penyakit.

Menurut alumni MTs 3 dan MA 1 Annuqayah itu, banyak hal positif yang bisa dipelajari dari Tiongkok. Dari 1.000 guru berbagai provinsi yang ditugaskan menimba ilmu ke luar negeri, hanya 200 guru yang ditempatkan di Tiongkok. Sisanya disebarkan ke Belanda, Amerika, dan Australia.

”Tanggal 26 Februari kami pembekalan sampai 2 Maret. Dari 3–23 Maret di Tiongkok. 20 hari. Setelah itu, dari 24–30 Maret kami laporan hasil studi di Malang,” terang perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di SDN Kertagena Laok 2 dan MI Al-Ghazali Rombasan itu. (mr/luq/bas/JPR)

Sumber: https://radarmadura.jawapos.com

Halaman sebelumnya : Widayanti Rose, Berbagi Oleh-Oleh dari Tiongkok

Tulisan Terkait

Asah Literasi 5956587952572439884

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item