Widayanti Rose, Berbagi Oleh-Oleh dari Tiongkok




Badri Stiawan, Sumenep

Bagi Widayanti Rose, tuntutlah ilmu hingga ke negeri Tiongkok, bukan sekadar pepatah lama di bangku sekolah. Kata-kata yang akhirnya terwujud menjadi kenyataan.

SAAT ingin berwudu di bandara, tidak ada keran air atau bak mandi. Hanya disediakan wastafel. Sulit jika mau basuh kaki. Wastafelnya tinggi. ”Ada teman saya kakinya diangkat ke wastafel. Ditegur sama petugas di bandara,” kata Widayanti Rose menceritakan pengalamannya ketika mengikuti Program 1.000 Guru ke Luar Negeri kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Karena tidak ada fasilitas untuk berwudu, kemudian instruktur nasional guru pembelajar pengembangan keprofesian berkelanjutan itu bertayamum. Sebab, di Tiongkok, tidak diperkenankan berbasah-basahan.

Bahasa menjadi kesulitan dalam berkomunikasi di Tiongkok. Dia sering menggunakan bahasa Tarzan (bahasa isyarat, Red). Saat di hotel sempat kesulitan berkomunikasi dengan petugas. Mulanya dia meminta tolong untuk menghangatkan suhu ruangan. Karena tidak mengerti, suhu ruangan dibuat lebih dingin.

”Yang paling saya ingat, nǐ hÇ?o dan xièxiè saja. Halo dan terima kasih,” ungkap guru SDN Kapedi 1 Kecamatan Bluto itu.

Energik. Semangat itu yang tampak dari sosok Widayanti saat berbagi ilmu dari negeri Tiongkok di STKIP PGRI Sumenep, Selasa (2/4). Perempuan asal Desa Kaduara Timur, Kecamatan Pragaan, itu baru kembali dari negeri tirai bambu mengikuti program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Pemaparan pengalaman yang pertama soal kedisiplinan. Di negara itu memiliki tingkat disiplin sangat ketat. Sebelum pelajaran dimulai, guru dan siswa sudah ada di ruangan. Di Indonesia, tingkat disiplin masih perlu ditingkatkan.

Sebagai negara yang juga memproduksi produk otomotif, dia sempat berpikir lalu lintas di Tiongkok akan ramai kendaraan, seperti di Jakarta. ”Tapi tidak. Lengang. Jarang yang pakai kendaraan pribadi. Kendaraan untuk kebutuhan transportasi. Bukan untuk gaya-gayaan,” kata aktivis Rumah Literasi Sumenep itu.

Di Tiongkok, keluarga jadi penentu karakter seseorang. Jika anak dicubit guru di sekolah, di rumah akan ditambah dengan hukuman cambuk orang tua. Sebab, bagi orang tua, anak yang melanggar sangat memalukan. Sementara di negeri ini banyak kasus guru dihukum penjara karena dianggap melakukan tindak kekerasan kepada siswa.

”Kalau di sana, dihukum fisik di dalam satu ruangan yang hanya ada guru dan murid. Tidak di depan umum. Apalagi dipublikasikan,” ujar perempuan kelahiran 22 September 1986 itu.

Guru memberikan teladan terbaik di kelas ketika mengajar, tidak ada guru yang duduk di kursi. Apalagi bersantai. Mereka berjalan ke tempat siswa. Guru benar-benar dituntut mencurahkan waktunya untuk siswa.

Jam mengajar tergolong sedikit. Pembelajaran menyesuaikan bakat anak. Pada jenjang SMP, bakat anak bisa dilihat. Kemudian diarahkan sesuai bakat masing-masing.

Pelajaran sejarah juga tidak kalah diprioritaskan. Siswa kelas 3 SD sudah banyak tahu dan bisa menceritakan panjang lebar soal para pahlawan. Di Indonesia, kata dia, gurunya kadang lupa sejarah pahlawan.

bersambung : Rakyat Tiongkok Sangat Getol Mencintai Bahasanya.

Tulisan Terkait

Asah Literasi 7314996850109791784

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item