Dari Martabak Hingga Terang Bulan

Oleh : Moh. Rasul Mauludi

Saya selalu terngiang dengan kata yang menjadi maskotnya Cak Lontong, "mikir". Seorang komedian yang menurut saya kalem dan lucunya berbobot. Kata "mikir" itu bagi saya seperti bukan lagi sesuatu yang lebih dari lucu, tapi menjadi pengingat untuk berpikir pada setiap sesuatu yang dilihat, didengar, dirasa, dilakukan dan seterusnya.

Cukup relevan kata "mikir" itu direalisasikan pada kenyataan yang terjadi dalam kehidupan ini. Apalagi suasana politis yang sering gaduh karena ulah politisi yang bisa dikatakan sudah tidak bisa "mikir" lagi tentang dampak gaduhnya tersebut.

Dan Cak Lontong seperti tidak tinggal diam dalam suasana itu, ia menggunakan senjata "mikir"nya pada ujaran-ujaran yang dirasa baginya perlu disemprot. Tak ayal lagi, semprotan "mikir"nya banyak yang merespon dengan bermacam-macam respon.

Nah anda yang bisa membaca, tapi tidak mau membaca, mikir...!? Begitulah bila saya mencoba menirukan gaya Cak Lontong. Dan anda juga yang mampu memaknai kata "mikir" itu. Selanjutnya saya mencoba menghubungkan maskotnya Cak Lontong dengan apa yang saya alami.

Saat itu, saya menikmati malam yang digunakan untuk keluar dari rumah hanya sekedar melihat suatu tentang malam dan mencari pesanan yang dipesan orang-orang di rumah. Sambil melaju menerobos aspal yang mulus diwarnai kilau-kilau cahaya.

Sejenak lampu merah memaksa si roda dua berhenti, lalu lampu hijau saya menikung ke kanan, disebelah kiri jalan saya berhenti. Turun dari sepeda, sebelum saya bertanya, lelaki itu mendekat dan membungkuk, "ada yang bisa saya bantu Mas", ucapnya. "iya Mas, saya mau beli martabaknya yang sepuluh ribu, bungkus satu saja", kata saya pada lelaki itu. "iya Mas, tunggu sebentar ya", lelaki itu membungkuk lalu berpaling. Kemudian lelaki mulai mengolah dan memasak martabak.

Pikiran saya mulai nyambung dengan maskotnya Cak Lontong, "mikir". Saya dibuat mikir dengan pelayanan penjual martabak sambil duduk diatas sadel si roda dua. Pikiran saya begini, pedagang kaki lima saja sopan santunnya begitu bagus, bagaimana seandainya para politisi itu sopan santunnya paling tidak sama dengan pelayanan pedagang kaki lima itu, alangkah indahnya keteledanan itu. Termasuk saya pribadi harus juga belajar dari pelayanan pedagang kaki lima itu.
Artinya kalau mau dilayani dengan baik oleh orang lain, maka layani diri sendiri dengan sebaik mungkin, bukan dibuat-buat atau dipaksakan.

Belum selesai saya mikir, tiba-tiba lelaki itu datang menghampiri dengan membungkuk dan menyodorkan bungkusan plastik yang berisi martabak. "ini Mas, martabaknya sudah selesai", ucap lelaki itu. Saya buru-buru turun dari si roda dua dan buru-buru pula mengambil uang sepuluh ribu. "iya Mas, ini uangnya", kata saya. Lelaki itu bilang terima kasih lagi-lagi dengan membungkuk lalu berpaling.

Saya pun melanjutkan laju si roda dua menuju pesanan berikutnya, yaitu burung bakar dan nasi ayam. Didua warung itu yang saya alami sama tidak jauh berbeda dengan cerita martabak tadi. Lagi-lagi Cak Lontong menginspirasi saya, yaitu mikir. Saya mikirnya begini, sepertinya semua pelayanan warung-warung kepada para pembelinya sudah melebihi standart etika, akhlak dan moral.

Bagaimana seandainya semua politisi atau para cerdik pandai yang sering bergaduh ria, meski karakter berbeda memberikan pelayanan terutama memberi teladan yang maksimal, tentu akan menjadi edukasi pada kita semua. Karena etika, akhlak dan moral yang baik itu tidak mengenal perbedaan karakter dan batas usia.

Terakhir tibalah saya pada tempat pesanan yang terakhir, yaitu Terang Bulan. Turun dari si roda dua lalu menuju penjual terang bulan. Tiba-tiba anak kecil se usia SMP atau MTs berdiri sigap lalu membungkuk hampir seperti orang mau ruku' dalam sholat, setelah itu berdiri sigap lagi. "Ada yang bisa saya bantu pak", katanya. "Dik, saya beli terang bulangnya yang rasa kacang keju coklat", kata saya pada anak kecil itu.

Anak kecil itu berpaling langsung membuat terang bulan. Lagi-lagi maskot Cak Lontong menyemprot benak saya. Dan kembali saya mikir, ah apa tidak berlebihan ya nunduknya. Tapi saya mikir lagi, ah tidak ada yang salah dengan tingginya etika itu, malah saya teringat waktu di pondok ketika sang Kyai mengisi pengajian, tidaklah saya berani berjalan berdiri untuk ijin keluar karena ingin pipis, tapi jalan sambil duduk. Baru setelah diluar pintu berjalan berdiri.

Dengan seperti itu bukan berarti berlebihan, tapi saking takutnya, takut dirasa "cangkolang" pada yang mulia sang Kyai. Dan lebih dari itu hanya ingin mendapatkan barokah dari sang Kyai.

Ketika pikiran terus bernostalgia dengan masalalu waktu di pesantren, tiba-tiba anak kecil tadi sudah didepan saya. Berdiri tegap lalu membungkuk sambil memberikan tetang bulan yang sudah matang pada saya. Sayapun segera membayarnya dan lagi-lagi pikiran ini diajak mikir lagi.

Duh seandainya semua generasi mampu menjaga adat ketimuran bangsa ini, maka akan sangat bangga para pendiri bangsa dan negara ini. Ah saya jadi malu sama Cak Lontong, dari Martabak hingga Terang Bulan dibuat "mikir".


Tulisan Terkait

Cerpen 4672470714103186497

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item