Menulis Hujan Meliterasi Dingin

Oleh : Moh. Rasul Mauludi

Dalam perkiraan cuaca, bulan desember selalu identik dengan musim penghujan. Memasuki musim hujan dari air yang tumpah ruah dan dingin yang menggoda raga. Sedang matahari dan sinarnya selalu redup oleh awan-awan yang menebal mendung. Kiranya tak perlu meratapi apalagi mengingkari hingga sumpah serapah pada hujan, karena hujan adalah anugerah dan berkah.

Dimusim hujan juga, siang hari hewan yang bernama lalat menyeruak dimana-mana dan malam hari nyamukpun tak mau kalah saing dengan lalat. Sesekali laronpun menghiasi rintik senja dan malam pada cahaya cahaya. Lainnya lagi kodok, jangkrik dan hewan yang senang bermain air bernyanyi bersama nikmati dingin yang menggigil.

Ketika hujan melepas angin dahsyatnya, maka tak ayal lagi gelombang meninggi diarea samudera, pohon-pohon tumbang dengan reruntuhannya, bangunan-bangunanpun tak mampu kokoh, semua luluhlantah menyapa tanah. Dan kengerian ini juga adalah kuasa-NYA yang maha kuasa.

Banjir-banjir dijalanan, baik saluran atau irigasi yang tak mampu menampung debit air, lubang-lubang yang terkikis, tanah-tanah yang rawan dengan air mengambang dan karena sampah-sampah tak pada tempatnya, semuanya menjadi kolam dadakan yang jadi tontonan tiap kali turun hujan.
Karena hujan pula, terkadang banyak acara dan agenda terhenti hingga tertunda. Disini pula hujan tak bisa disalahkan karena kehendak-NYA. Namun tak salah bila sedia payung sebelum hujan. Banyak hikmah yang bisa ditulis pada kendala-kendala atau hal-hal yang hujan bisa dijadikan cerita dalam tiap kisah hidup.

Sudah banyak yang menulis hujan dengan segala fenomenanya. Sudah banyak pula kisah hujan yang tergurat pada untaian huruf-huruf asmara, duka n lara. Dan tak asing ditelinga kita dengan berbagai judul, yaitu hujan di bulan desember, desember kelabu, desember ceria, aku dan hujan, hujan turun lagi dan sebagainya.

Dalam dunia pendidikan pun, hujan menjadi teori dan materi dari sebuah proses antara laut dan langit. Disinilah hujan tak perlu dijadikan alasan, karena sudah hukum alam yang berlaku. Yang harus dilakukan bagaimana merangkai hujan itu menjadi sebuah proses berfikir serta bernalar tentang kuasa-NYA, memanfaatkannya, mengantisipasinya dan menikmatinya dengan penuh doa dan syukur.

Jangan lah takut pada gigil ataupun kuyup, apalagi hanya basah karena banjir sekalipun dengan skala kecil dan besar, masih saja banyak yang dingin dingin saja melihatnya. Oleh karenanya jangan pernah gentar dengan dingin bila masih banyak yang bisa membuat untuk menghangatkannya.

Khawatirlah pada yang dingin dingin saja melihat kenyataan yang butuh penyelesaian tanggap dan cepat. Dan memaksalah pada yang dingin dingin saja yang hanya berpangku tangan tak ada penyelesaian. Maka dari itu, dingin dingin saja menjadi sangatlah tidak elok dan tidaklah menarik pada pandangan siapa saja.

Atau mungkin cukup hanya dengan kehangatan pisang goreng dan kopi serta selencer filter/sigaret untuk melenyapkan dingin itu....!? Entahlah... Mari seruput lagi biar tambah kehangatan kita dan biarkan yang dingin dingin saja itu bernyanyi sesuka hati.

Tulisan Terkait

Gupen 7584010873879213170

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item