Karena Aku yang Mencintaimu

Cerpen: Azizi Sulung



    Ini adalah rencana Maria yang kesekian kali untuk pulang tepat waktu, tapi lagi-lagi ia selalu dibenturkan dengan rencana kerja yang sama sekali tak pernah ia agendakan sebelumnya. Mau menolak bagaimana, Maria hanyalah seorang bawahan yang sepenuhnya hanya bisa mengiyakan apa yang menjadi perintah dan keinginan atasan.

    Dua bulan sudah Maria bekerja di sebuah perusahaan Craft, pusat segala macam aksesoris dan semua aneka kerajinan tangan. Tapi Maria begitu sulit rasanya untuk sekadar pulang tepat waktu, agar bisa berlama-lama menemui keluarga di rumah. Maria berangkat semasih suami dan anaknya tertidur nyenyak. Dan harus pulang hingga larut malam, suami dan anaknya sudah pasti dalam keadaan terlelap.

    Maria mulai memberesi berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya, ia menyabet tasnya cepat. Baru saja ia mengayun langkah. “Bu Maria…” Panggil Fatir, pemilik perusahaan itu.

    “Iya Pak!”
    Maria membalikkan badan, “itu laporan untuk pengiriman besok selesaikan malam ini ya!”

    Begitulah Fatir, orangnya sangat ramah, santun. Ia seakan tak pernah menunjukkan bahwa ia seorang atasan, dan pemilik perushaan besar. “Baik Pak!” Sambut Maria. Terkadang karena perhatian dan keramahan Fatir itulah yang menjadikan Maria kerasan, dan tak pernah kepikiran keluarga di rumah walau harus pulang larut malam.

    “Sebelum pulang, mohon dirapikan dulu ya, dan ini ada oleh-oleh untuk keluarga di rumah!” Fatir bergegas menutup pintu ruang kejra Maria. Selalu saja ia mengakhiri percakapannya dengan senyuman. “Begitu beruntung perempuan yang mendapatkan suami sepertimu, Fatir!” Berulang kali perasaan Maria menyatakan hal itu.

    Terdengar derit kecil pintu depan rumah Maria, ia menginjjakkan kakinya perlahan. Lampu di beranda depan masih terlihat menyala, sedikit remang, Hamid suami Maria ternyata belum tidur. Ia masih blepotan dengan sisa-sisa cat di tangannya, rupanya ia masih menyelesaikan rancangan lukisan pesanan orang dua hari yang lalu.

    “Belum tidur Mas?”

    Hamid menyambutnya dengan gelengan kepala, hanya sekilas menghampirkan pandangannya pada wajah Maria. “Sudahi dulu, malam sudah suntuk!” Pinta Maria kemudian.
    “Tanggung…”

    Walau Maria hampir tiap hari selalu pulang larut malam, Hamid tak pernah menanyakan apalagi mempermasalahkannya. Kurang tahu juga, apa mungkin karena Hamid sangat percaya pada Maria, hingga sedikit pun ia tak pernah berpikir yang bukan-bukan tentang istrinya. Entahlah…   

    Maria menghempaskan tubuh di ranjang. Tak lama, ia sudah terpejam begitu lelap. Rupanya ia begitu penat malam itu. Hamid masih menekuri rancangan lukisannya yang sebentar lagi rampung.

    Usia pernikahan Hamid dan Maria bulan depan genap lima belas tahun. Mareka baru saja dikaruniai satu buah hati. Mereka menekuni profesinya masing-masing. Maria bekerja di sebuah peruasahaan kerajinan tangan, tentu saja ruang kerjanya adalah dunia luar dan publik. Bahkan satu dua minggu terkadang Maria harus rela meluangkan waktunya dan meninggalkan keluarganya, karena ada agenda perusahaan harus keluar kota.

    Hamid hanyalah seorang pelukis asongan, yang hanya bekerja saat jasanya dibutuhkan. Tapi Hamid sebagai suami ia harus benar-benar menunjukkan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Bagaimana pun caranya, nafkah anak dan istrinya adalah kewajibannya. Terkadang, ia harus memilih menjadi penyongkol beras di pabrik, demi memenuhi kebutuhannya dan keluarga.

    “Enak jadi kamu Mid, istrimu juga bisa mendatangkan penghasilan!” Celoteh teman Hamid sepulang dari pabrik.
    “Namanya hidup, ya ada enak ada susah. Bukan begitu?” Hamid menimpali.
Hanya ada sisa tawa yang menggema, setelah percakapan itu.

***
     Hamid kembali menyapa pagi. Tak ada yang berubah dari sebelumnya. Hamid sudah sangat terbiasa berkemas merapikan tempat tidur, menyapu halaman seluas lekuk pekarangan rumah. Hingga untuk persediaan makan siang sekalipun ia harus persiapkan sendiri. Semenjak istrinya mendapatkan sebuah pekerjaan, Maria tak lagi sempat menyiapkan kopi dan beberapa potong goreng pisang, menu sarapan pagi kesukaan Hamid. Bahkan terkadang, Hamid juga harus menyempatkan diri menyucikan baju anaknya dan Maria. Tapi Hamid benar-benar suami yang tulus mencintai Maria. Ia tak pernah menampakkan wajah kusut di hadapan istrinya. Walau Maria begitu sering pulang larut malam. Hamid juga tak pernah mempersoalkan profesi istrinya. Hamid begitu percaya pada istrinya, dan Hamid yakin apabila Hamid sanggup menjadi suami yang baik dan setia, maka ia tak pernah berhenti berharap, semoga istrinya juga kuasa membalasnya.

    Maria sudah sejam yang lalu tiba di perusahaan, para pekerja yang lain sudah mulai berdatangan. Ia mulai merapikan ruang kerja Fatir dan menyiapkan segala kebutuhan atasannya itu.
   
“Oh… iya ada yang lupa!” Batin Maria. Fatir meminta disiapkan teh hangat karena hari ini ia ada jadwal ke luar kota. Maria segera bergegas ke belakang, untuk menyiapkan teh pesanan Fatir. Terkadang, saat ia menyiapkan segala kebutuhan Fatir, sekilas terbesit banyangan Hamid suaminya. Maria merasa seakan begitu jauh darinya semenjak ia mendapatkan sebuah pekerjaan. Nyaris tak ada waktu, walau sekadar untuk bercerita menghabiskan senja di beranda rumah dan menyiapkan segelas teh dilengkapi beberapa potong goreng pisang, menu kesukaan Hamid, apalagi pada hal-hal yang lebih intim dalam keluarga mereka. Seluruh waktunya seakan Maria hanya dipergunakan untuk atasannya. Bahkan, terkadang Maria merasa seakan ia melayani atasannya melebihi pelayanan atas suaminya.

    “Pagi semua!”
    “Pagi Pak…” Sambut karyawan di perusahaan itu.
    “Ibu Maria, ke ruangan saya segera!” Lanjut Fatir.
    “Baik Pak!” Maria segera menyusul Fatir.
    “Terima kasih ya, tehnya!” Sembari Fatir meneguk habis teh hangat buatan Maria.
    “Iya Pak, sama-sama, maaf jika tidak sesuai selera!” Maria seakan tersipu.
    “Apa Bu Maria pekan ini ada agenda penting?”
    “Keyaknya belum ada Pak!”
    “Bagaimana kalau menemani saya keluar kota?”

    Maria hanya menundukkan wajah. Mendengar pertanyaan itu, sekilas ia terbayang wajah Hamid dan anaknya di rumah. Ia begitu ambigu untuk menjawabnya. Mau menolak, ia hanyalah seorang bawahan yang semestinya harus mengiyakan semua perintah dan kemauan atasannya. Mau menerima, bagaimana dengan anak dan suaminya di rumah? Sejauh ini, Maria sudah sangat tidak ada waktu untuk bersama mereka. Apalagi ditambah agenda keluar kota? Kebaikan dan keramahan Fatir juga melengkapi kepongahan pikirannya. “Iya Pak, selagi dibutuhkan saya siap Pak!” Putus Maria setelah beberapa lama hening menjadi jeda percakapan mereka.

“Baik, kalau begitu siap-siap ya, lima belas menit lagi, kita berangkat!”

    Maria hanya mampu mengiyakan dan menuruti semua perintah atasannya. Belum selesai gejolak pikirannya tentang anak dan suaminya. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB tepat sebagaimana dijanjikan Fatir, atasannya. Fatir sudah sedari tadi menunggu di mobil. Beberapa kali Maria menghubungi nomor kontak suaminya, tapi selalu gagal. Tidak ada jawaban. Akhirnya ia hanya menyempatkan mengirim pesan, memberi tahu dan pamit pada Hamid, bahwa hari ini ia akan keluar kota. Pesan singkat Maria juga tak ada jawaban.

“Kamu benar-benar beruntung Mid!” Guyon teman-teman Hamid.
     “Istrimu cantik, memiliki penghasilan sendiri. Apa yang kurang dari istrimu?”
    “Haaaa…” Hamid hanya bisa melengkapi dengan tawa atas ledekan mereka, walau pada kenyataannya hanya Hamid yang merasakan bagaimana kondisi dalam keluarganya. Ponsel di kantong celananya baru terasa bordering, ternyata ada dua panggilan tak terjawab. Ada satu pesan singkat dari istrinya; Adik pamit keluar kota kang, adik sekitar dua pekan di luar, baik-baik saja ya! Hamid menutup pesan singkat itu, dengan perasaan tidak enak.

    20.00 WIB.
    Fatir dan Maria tiba di tempat kunjungan kerja yang mereka rencanakan. Maria terlihat begitu lelah. Kantuk begitu berang menyerangnya. Maria melangkah dengan sangat lunglai. Ia dikejutkan dengan sergap tangan Fatir merangkulnya dari belakang. Maria tak ada kuasa memberontak, karena Maria hanyalah seorang bawahan yang sepenuhnya hanya bisa mengiyakan apa yang menjadi perintah dan keinginan atasan. Tentu Maria bukan hanya sekali itu saja harus melayani atasannya melebihi pelayanannya atas suaminya.       

Rumah Belimbing, 2017    

*******

*Azizi Sulung, lahir di Sumenep, 07 07 1994. Menulis Puisi, Cerpen, Esai, Resensi, dsb. Karya-karyanya pernah dimuat di media lokal juga nasional. Pernah tercatat sebagai juara 1 Lomba Cerpen se-Sumenep yang diselenggrakan oleh Ikatan Santri Bragung IKSBAR (2011), Juara 3 Lomba Resensi se-Madura yang diselenggarakan oleh BEM Sekolah Tinggi Islam Negeri (STAIN) Pemekasan (2011), Nominator Lomba menulis Cerpen tingkat nasional yang diselenggarakan oleh LPM IAIN Purwokerto (2014), Juara 2 Lomba Menulis Cerpen se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh BEM Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Sumenep (2015). Buku-bukunya yang telah terbit; Accident: Malapetaka Terencana (2012), Simposium (2012), Suletude (2012), Perempuan dan Bunga-Bunga (2014), Rampai Luka (2014), Luka-Luka Bangsa (2015). Kontributor favorit karya puisi Penerbit Stepa (2016). Kontributor favorit karya Cerpen event Pen Fighter Awards (2017). Saat ini masih tercatat sebagai Santri Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Utara.

Tulisan Terkait

Cerpen 1431118222285622843

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item