Budaya Ngopi dan Cangkrukan; Antara Menumbuhkan Kebersamaan dan Perjudian

(Mengkaji Peran Pendidikan Moral  Terhadap Kehidupan Masyarakat Kecil Indonesia)

Oleh : Moh. Rasul Mauludi

Cangkruaan dan ngopi bareng:  tidak harus berjudi

Menjelang matahari terbenam, malam menyapa ruang dan waktu, segala aktivitas masyarakat berkurang dengan kata lain berganti dengan aktivitas yang lebih santai dan ringan, tapi tidak sedikit juga yang mengganti siang pada malam hari pada pekerjaannya serta ada yang memanfaatkan lembur.

Dari balik remang-remang malam, ada hal menarik dari kebiasaan masyarakat dalam mengisi waktu malam hari. Diujung gang-gang, pinggir-pinggir jalan, sudut-dudut jalanan kita menyaksikan keramaian yang berkelompok-kelompok. Situasi seperti itu lebih banyak didominasi masyarakat kecil (kategori miskin) dan sebagian yang menengah keatas.

Aktivitas mereka tidak lain hanyalah kumpul-kumpul dengan minum kopi, cangkrukan dengan bergadang, juga bermain kartu (domino atau remi), ngobrol-ngobrol dan sebagainya. Dengan keramaian itu seakan-akan mereka mencoba mencari hal lain dan menikmati kebahagiaan lain dari segala keterbatasan mereka dalam penghiddupannya.

Hingga saat ini terus berlangsung secara terus menerus dan turun temurun dari tiap perubahan zaman baik perkotaan apalagi pedesaan diseluruh nusantara. Akan tetapi dibalik fenomena malam dan kebisaaan masyarakat berupa ngopi dan cangkrukan yang penuh dengan keasyikan dan kebersamaan sesama kelompok lewat warung-warung kopi ternyata menyimpan berbagai macam bentuk perjudian tersembunyi dan terselubung yang itu dimanfaatkan oleh para Bandar-bandar judi dan cukong-cukongnya. Dan yang paling nampak di masyarakat adalah perjudian angka-angka alias togel.

Meski segala cara antisipasi dan tindakan pencegahan yang dilakukan para aparat penegak hukum dan masyarakat. Juga sudah banyak yang ditangkap dan penjara tidak bisa menghapus arena perjudian togel dan sulit sekali pemberantasannya. Sama halnya dengan pemberantasan korupsi dan narkoba yang tidak pernah tuntas, malah semakin berkembang dengan berbagai motif.

Togel menurut berbagai informasi bagian dari kelanjutan dari SDSB, Porkas dan lain sebagainya. Perjudian sudah menjadi ajang internasional yang melibatkan Bandar-bandar kelas kakap juga melibatkan oknum aparat dari berbagai instansi. Jadi ini yang menyebabkan kesulitan dalam pemberantasan. Mereka begitu lihai, cerdas,  halus dan rapi terencana dalam menjalankan aksinya.

Masyarakat menengah kebawahpun ikut andil mendukung dan menyuburkan  perkembangan togel tersebut. Mereka bersembunyi dengan akal bulusnya dan tidak sadar atau malah menyadari bila menjadi korban. Sungguh aneh tapi nyata, manusia terlena  dan terbuai dengan kesadaran budaya yang merusak moral.

Pendidikan moral baik melalui formal maupun non formal sangat dibutuhkan dalam hal penyadaran terhadap masyarakat. Namun kenyataan yang terjadi, pendidikan moral tidak berkutik menyentuh hati nurani dan kesadaran manusia. Atau mungkin ini bagian dari dampak pemerintah yang tidak pernah bisa mengembangkan perekonomian yang berpihak pada rakyat dengan kata lain ekonomi kerakyatan.    

Budaya Ngopi dan Cangkrukan

Kebanyakan orang bilang, merokok tanpa minum kopi terasa kurang enak, minum kopi di warung kopi (cangkrukan) lebih asyik dan memiliki nikmat tersendiri. Budaya ini semakin meluas, dari pasar-pasar, terminal, stasiun, gang-gang, kampus-kampus hingga restoran dan depot-depot. Semua kalangan menyukainya, karena selain ada kebersamaan juga muncul diskusi-diskusi kecil serta menemukan solusi dari permasalahan yang dialami.

Di Indonesia sangat banyak warung kopi. Warung kopi kecil hingga yang besar. Kebanyakan warung kopi dijadikan tempat untuk beristarahat, santai, cangrukan dan ngobrol-ngobrol oleh tukang becak, tukang ojek, sopir-sopir dan orang yang lalu lalang.

Dari zaman Indonesia belum merdeka hingga saat ini budaya ini sudah menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Budaya ini tidak pernah diterjang krisis ekonomi dan malah terus bersemangat menatap berbagai macam perubahan sistem dan peradaban manusia. Budaya ini sangat kuat dikalangan masyarakat kecil Indonesia. Manfaat dari budaya ini selain menumbuhkan kebersamaan dan kekeluargaan juga mampu membangun masyarakat dengan saling bertukar informasi meski tidak mengenal batas waktu.

Ketika warung kopi menjadi multifungsi dengan tidak hanya menjual kopi dan kumpul-kumpul, melainkan lebih dari itu yaitu dijadikan sarana, arena dan kesempatan pada perbuatan kejahatan yang melanggar norma-norma dan aturan kemanusiaan. Seperti perjudian, transaksi-transaksi haram dan lokasi prostitusi.
Menjadi pertanyaan mengapa lebih memanfaatkan warung dalam rencana-rencana kejahatan dan perjudian !? mungkin di warung kopi lebih santai, terbuka, leluasa, aman dan penuh dengan kompromi-kompromi serta mampu mewujudkan kelihaian berpikir yang liar.

Seperti perjudian,  warung kopi menjadi marak dengan arena perjudian angka-angka yaitu togel. Kita semua tidak bisa menutup mata, bahwa masyarakat kecil banyak memburu peruntungan dan keberuntungan dengan membeli togel. Perjudian togel dilakukan dengan terselubung atau rapi penuh dengan kompromi-kompromi. Siapapun tidak ada yang bisa bermimpi perjudian togel dihapus dan diberantas dengan tuntas. Karena semua itu merupakan simalakama kehidupan.

Untuk menjaga kemungkinan besar dampak dari multifungsi warung kopi, sementara ini yang bisa dilakukan hanyalah bagaimana meminimalisir dan menyadarkan masyarakat tentang dampak buruk dan kerugian dari perjudian. Dan disadari atau tidak, dekadensi moral juga berawal dari budaya ngopi dan cangkrukan di warung kopi yang multifungsi. Antisipasi yang jitu hanyalah dengan peran aktif pendidikan moral terhadap masyarakat dan anak bangsa. Baik melalui formal maupun non formal. Semua pihak berkewajiban saling mendukung dan menerapkan semua yang menjadi kesepakatan bersama dan tujuan bersama dalam pendidikan. Bukan saling mencari keuntungan pribadi dan kelompok dalam dunia pendidikan.

Peran Pendidikan Moral

Menurut KH. MA. Sahal Mahfud , pendidikan pada dasarnya usaha sadar yang membentuk watak dan perilaku secara sistematis, terencana dan terarah. Pendidikan melalui proses perubahan dan perkembangan.

Dalam kamus  Bahasa Indonesia, moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti, susila. Mempunyai pertimbangan baik dan buruk sesuai dengan moral (adab sopan santun).

Perkembangan saat ini, kecerdasan orang Indonesia memang mulai meningkat, akan tetapi yang menjadi pertanyaan arah kecerdasan itu banyak melenceng dari yang diharapkan tujuan dari pendidikan nasional dan nilai-nilai Pancasila. Kecerdasan tidak diimbangi dengan peningkatan moral yang baik. Apakah sistem penerapannya yang salah atau penerimaan sistem yang salah atau juga mungkin karena kalimat dari tujuan pendidikan nasional salah (perlu diubah atau ditambah) menjadi “…mencerdaskan dan menumbuhkan moral baik kehidupan bangsa..”. Dengan demikian kalimat yang menjadi pedoman tidak hanya fokus pada mencerdaskan  saja dan dengan adanya pedoman tersendiri akan lebih maksimal dalam pembelajaran.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, mencerdaskan adalah hal yang mudah dan gampang. Namun menumbuhkan moral baik dalam kecerdasan tidak mudah. Karena tidak semua kecerdasan mampu membentuk moral yang baik pada manusia. Jadi moral butuh pembelajaran tersendiri dalam pendidikan. Menambah kata “menumbuhkan moral baik” dalam tujuan pendidikan nasional, diharapkan tidak hanya “kecerdasan otak” yang diasah dan diasuh oleh para pendidik, melainkan “keindahan sikap” bisa tercipta pada diri manusia.

Dalam Islam, pendidikan bersifat islami ataupun duniawi serta ukhrowi bertujuan dan diarahkan bukan hanya pada kecerdasan otak belaka melainkan memperbaiki moral atau akhlak. Dengan penekanan seperti itu diharapkan pertumbuhan kesadaran positif meningkat. Karena kesadaran merupakan inti dari kecerdasan yang ada pada manusia.

Pertanyaannya, pendidikan Islam juga mulai kehilangan jiwa dan rohnya, sehingga masih kesulitan mewujudkan semangat juang memperbaiki pribadi pendidik dan anak didik serta masyarakat.

(mungkin) Di Indonesia, pendidikan moral sudah banyak diterapkan dengan berbagai model dan bentuk. Akan tetapi out put yang dihasilkan berafiliasi dan disesuaikan dengan pedoman pada tujuan pendidikan nasional yang lebih mengarah pada kecerdasan otak saja tanpa diimbangi dengan peningkatan kesadaran terhadap moral yang baik.

Kata mencerdaskan seakan-akan memberi peluang pada kelihaian-kelihaian otak dalam berpikir bebas. Kerusakan terhadap moral seperti dikesampingkan dengan alasan kecerdasan sudah mampu menumbuhkan kesadaran. Entah kesadaran yang bagaiamana yang dimaksudkan.

Sedangkan pendidikan non formal yang diharapkan bisa dan mampu mengantisipasi munculnya dekadensi moral juga tidak jauh berbeda dengan tujuan pendidikan nasional. Non formal masih fokus pada kecerdasan dan belum sepenuhnya pada totalitas penyadaran. Namun, pendidikan non formal lebih efektif manata moral ke arah yang lebih baik dengan catatan sistem dan tanggung jawab lebih ditingkatkan.

Sementara berbicara sistem pendidikan di Indonesia, sudah berkali-kali mengalami perubahan seiring dengan siapa yang memegang kekuasaan. Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Segala perubahan dan amandemen UUD yang disesuaikan dengan perkembangan zaman terus dirumuskan. Dan semoga tujuan pendidikan nasional juga diperbaiki, tidak hanya pada kisi-kisi dan sub-sub penjabaran melainkan menjadi pedoman utama seperti kata “mencerdaskan”.

Daftar Referensi

1.    Depdiknas, “Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga”, 2002, Balai Pustaka, Jakarta.
2.    KH. MA. Sahal Mahfud, “Nuansa Fiqih Sosial” 1994, LKis Yogyakarta.
3.    Muh. Hanif Dhakiri, “Paulo Freire, Islam dan Pembebasan”, 2000, Djambatan dan Pena, Jakarta.
4.    Majdi Al Hilali, “Manajemen SQi Sukses Qur’ani”, 2004, PT. Pustaka Rizki Utama, Semarang.











Tulisan Terkait

Utama 6345593727777878247

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item