Sebongkah Berlian Hati Rengganis


Wariets Ilham El-antika

Film Hati Suhita, dari Novel karya Khilma Anis ini begitu apik dan memukau penontonnya. Sukses mengaduk-aduk perasaan penontonnya, membuat mereka terenyuh dan hanyut dalam rangkaian adegan penuh emosi. Tentu semua penonton sadar bahwa itu adalah rekaan, namun semua orang tak bisa lepas dari rasa haru, sedih, dan terenyuh dari setiap adegan pemainnya.

Sejak dari novelnya, Hati Suhita memang telah menyita banyak perhatian. Menuai banyak emosi, harapan, dan juga derai tangis tak berkesudahan.

Ini memang karya fiksi, namun entah bagaimana, banyak orang yang tersentuh dengan kisah ini, mereka merasa bahwa berbagai adegan dalam film ini adalah kisah hidupnya, perjuangannya, rasa sakitnya.

Namun rasanya, susah mengabaikan bahwa kisah ini murni dirangkai dari cerita fiksi, saya menduga bahwa ini adalah kisah nyata. Entah kenapa, saya merasakan ada getaran nyata yang menegaskan bahwa rasa pahit dalam cerita itu benar adanya, bukan rekaan. Tapi ini hanya dugaan semata, kebenarannya hanya Ning Khilma yang tahu. Semoga ia berkenan menjawabnya.

Sepanjang menyaksikan cerita dalam film ini, entah kenapa saya tidak bisa menahan diri untuk "menggugat" pada ning Khilma, terutama berkaitan dengan judul film ini. Mestinya, judulnya bukanlah Hati Suhita, melainkan "Hati Berlian Rengganis"; tentu kalian boleh tidak setuju, karena saya yakin, setiap penonton punya jagoannya sendiri dalam film ini, seperti istri saya, yang tersedu membayangkan betapa remuknya hati Kang Dharma saat ia menyadari bahwa perempuan yang ia cintai dalam diamnya, Alina Suhita, justru tersakiti sedemikian dalamnya.

Ratna Rengganis, sosok perempuan yang sangat luar biasa. Ia merangkai banyak mimpi untuk kebangkitan kaum perempuan yang selama ini selalu dianggap kaum nomer dua; setelah lelaki. Ia suka sekali menulis kehebatan perempuan diberbagai Zaman, dan ia juga bertekad untuk membuktikan bahwa perempuan juga bisa menulis sejarah kehebatannya sendiri, selayaknya mendapatkan kesempatan yang setara untuk menjadi pemeran utama dalam kehidupan ini.

Dari perjuangan itulah, ia kemudian bertemu dengan Gus Birru, putra tunggal seorang kiai besar yang ternyata juga konsen dalam medan perjuangan yang sama, ingin memberantas ketidakadilan dan ketimpangan; pun yang berkaitan dengan kehidupan laki-laki dan perempuan. Sebagai seorang aktivis, tentu ia akan senang sekali menemukan seorang perempuan cantik yang punya keberanian untuk berjuang. Keduanya merasa punya misi yang sama, maka benih-benih cinta pun tumbuh dan berkomitmen untuk hidup bersama.

Namun rupanya, semesta tidak menghendaki. Sekuat apapun karakter Gus Birru sebagai pejuang, namun ia tak mampu memilih jodohnya sendiri, pun dia tak mampu mempertahankan gadis yang ia cintai, yang ia ajak membangun mimpi, hanya karena kata "perjodohan"

Kisah cinta mereka sebenarnya klise, banyak kok kita jumpai dalam kehidupan nyata. Nyaris tidak ada yang istimewa, namun keteguhan mereka untuk tetap bertindak wajar, tidak menyalahi norma adalah kekuatan yang sesungguhnya. Mereka menunjukkan bahwa meski cinta tidak diraih, tapi hidup tidak boleh digadaikan. Kita mungkin memang kalah, namun menyerah bukanlah endingnya.

Tetapi rasanya kita semua menyadari, bahwa kemenangan Suhita dalam "perang" itu bukan semata karena kebesaran Hati Suhita dalam bertahan, Namun karena pada akhirnya Rengganis memilih untuk melepaskan, ia rela mengikhlaskan sesuatu yang telah dia genggam. Berulang kali Gus Birru datang, menyatakan keinginannya untuk melanjutkan kisah cintanya, berulang kali juga Rengganis bersikukuh bahwa kisahnya telah selesai. Rengganis yang ia hadapi saat ini bukan lagi sosok yang ia temukan di masa lalu.

Entah bagaimana ia bisa meredam itu semua? Bagaimana hatinya menjerit menahan luka. Ia memaksakan senyum dihadapan orang yang mencintainya, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja, padajal sejatinya ia hancur. Entah itu Ego seorang perempuan, atau semata karena hatinya memang berlian.

Di akhir film ini, Kita disuguhkan dengan kepergian Suhita dari keluarga Gus Birru, kita tahu bahwa sekuat apapun seseorang bertahan jika terus disudutkan maka ia pun akan memilih untuk pergi. Ia memberikan kesempatan bagi Gus Birru untuk tenang berfikir sehingga bisa menentukan apakah memilih dia atau Rengganis yang masih menguasai hatinya.

Inilah Scene yang paling mengharukan, dengan wajah tertunduk ia menguatkan hatinya menjelaskan pada orang tuanya, tentang situasi pernikahannya dengan Suhita, namun entah mengapa ia tidak berani menjelaskan bahwa itu terjadi karena ia mencintai orang lain. Dia tetap memilih diam dan menerima amarah kedua orang tuanya, mungkin ia sedang menimbang jalan apa yang akan ia pilih kedepannya, mempertaruhkan segalanya.

Akhirnya, adegan beralih pada sosok Gus Biru yang memilih mendatangi Rengganis yang sedang telah ada di dalam kereta, ia sedang mempersiapkan perjalanannya menuju Belanda. Gus Birru bertekad untuk menyelesaikan kisahnya dengan cinta pertamanya. Bagi yang belum membaca Novelnya, mungkin mereka akan mengira bahwa ia memilih Rengganis. Namun....

Sebagaimana alur Novelnya, Gus Birru datang hanya untuk mengucapkan terimakasih, menguatkan hati rengganis karena telah memilih mengikhlaskannya. Rengganis yang sebelumnya ingin tersenyum, namun akhirnya menerima kepahitan yang sungguh luar biasa. Ia memang tidak lagi berharap Gus Birru kembali pada hidupnya, namun di hari kecilnya ia tetap ingin meyakini bahwa ini hanya mimpi buruknya. Gus Birru, cintanya, yang ini ada dihadapannya telah memilih menyerah mempertahankannya, memilih melepaskannya, duh...., Betapa nyeri hati Rengganis, jika ia perempuan biasa, ia akan meraung sekerasnya, tapi, ia adalah perempuan tangguh, ia justru mengangguk dan menyunggingkan senyumnya.

Akhirnya kita tahu bahwa cinta yang baik itu selalu rasional, tidak emosional. Menyelaraskan antara kehendak hati dan analisis rasio agar perjalanan hidup tetap berada dalam jalur stabil, tidak nabrak sana - sini. Hidup terlalu berharga jika dihancurkan oleh emosional cinta.

Film ini memang keren. Dari awal scene-nya sudah disuguhkan dengan aura sedih, beberapa penonton memang telah menyiapkan tisu dari awal. Mereka siap untuk berurai air mata, entah menangisi keteragisan alur filmnya atau justru menangisi hidupnya sendiri yang memang mirip - mirip alur filmnya, jadi sekalian. Hehehe

Tapi, sosok Aruna menjadi penyelamat. Saat semua fokus menikmati tangisnya tiba-tiba komentar konyol dari Aruna membuat penonton terbahak-bahak. Keadaan ini membuat para penonton rasanya berada dalam persimpangan antara sedih dan tawa.

Mungkin pak produser film juga ingin mengajarkan bahwa hidup tidak selalu soal sedih, tapi ada juga kebahagiaan yang dengan mudah kita dapatkan dan ditemukan, hanya perlu sedikit berbagi dengan orang-orang yang tepat, maka beban hidup yang berat mudah kita singkirkan.

Akting Aruna sukses membuat mereka menyadari bahwa yang ditangisi adalah film, dan mereka seperti tersentak lalu kembali ke alam nyata.

****

Siapapun pastinya akan sepakat, bahwa banyak hal yang direnungi dari Film ini. Dari keempat tokoh utamanya, Alina Suhuta, Gus Birru, Kang Dharma dan juga Arya kita dapat banyak belajar tentang bagaimana menjalani kehidupan dalam drama cinta tak berkesudahan. Apa hanya itu? Tidak. Masih banyak hal lain yang bisa kita resapi dari berbagai scene film ini. Silahkan tonton sendiri untuk menikmatinya.

Dari Gus Birru kita belajar bahwa tidak semua keinginan bisa diperjuangkan ada garis yang telah ditetapkan. Sekuat apapun kita berjuang, kalau memang bukan itu yang digariskan, makan akan selalu terpatahkan di persimpangan. Kita boleh berkehendak, namun Takdir juga yang menentukan. Kuasa Takdir memang tidak bisa ditolak, pada akhirnya manusia itu lemah.

Dari Kang Dharma kita sadar bahwa terkadang kita harus belajar ikhlas melepaskan. Sebesar apapun kepedulian dan keinginan untuk memastikan sesuatu, namun menyadari posisi kita di tengah-tengah lingkungan, namun mematuhi norma dan aturan adalah segalanya. Kita hidup dengan panduan itu, dan dari itulah kita menciptakan kehidupan damai.

Dari Alina Suhita kita tahu, bahwa kepatuhan pada orang tua akan selalu mengantarkan harapan pada kenyataan. Setiap lantunan doa tidak akan mengkhianati, hanya butuh kesabaran dan kekuatan untuk terus bertahan.

Bagi Suhita, segala sesuatu harus tampak ceria.

Terkadang, jalan hidup memang tidak sesuai dengan yang diinginkan, bukan sesuai pilihan. Tapi memang begitulah hakikat kehidupan manusia, kita hanya lakon yang harus tunduk pada skenario, melangkah pelan dan bertahan. Itulah tugas kita sebagai pejuang.

Ia terus mengukir senyum, meski hatinya meratap dan sakit. Tidak dihargai, direndahkan, ingin disingkirkan. Namun dia memilih diam, memilih bertahan, karena ia yakin, pada akhirnya segala doa yang dipanjatkan akan berakhir bahagia.

Seberat apapun medan perang terjadi, harus dihadapi dengan tegar. Tugas kita hanya bertahan dan terus melangkah, jangan ada kamus menyerah. Hadapi dengan tenang, dan lakukan apa yang memang perlu dilakukan. Karena yang menjadi hak kita, tidak akan mungkin kita lepaskan.

Sementara dari Rengganis, kita belajar bahwa banyak hal yang telah kita genggam, dengan rasionalitas dan fakta yang benderang, pada akhirnya akan hilang.

Terkadang, sesuatu bukan tidak bisa kita genggam. Namun harus kita lepas.

Sekuat itu hati rengganis, melepaskan cinta yang telah digenggam, padahal sangat bisa ia pertahankan.

Setegar apapun rengganis bertahan, sekuat apapun ia di depan banyak orang, pada akhirnya ia adalah perempuan dengan hati lembut. Ia yang dulunya terbuai dengan mimpi Gus Birru, diyakinkan tentang dunia impian yang akan dibangun, pada akhirnya ia sadar bahwa keinginan terkuat tanpa restu sang pencipta, pada akhirnya hanya akan mengurai air mata.

Akhirnya memilih melepaskan bukan karena menyerah, namun karena ia Sadar bahwa itu adalah pilihan yang harus dilakukan. Melepaskan sesuatu yang bukan miliknya, merelakan sesuatu demi kebaikan banyak orang.

****

Tentu masih banyak hal yang bisa dicatat dari Alur Film Hati Suhita ini, kalian bisa mencatatnya sendiri setelah nonton di Bioskop. Baru kali ini saya menyaksikan Bioskop riuh dengan orang-orang berpakaian khas pesantren; wajar, karena mereka mayoritas adalah alumni pesantren. Bahkan tidak sedikit yang dengan penuh percaya diri pakai Sarung, ini sungguh luar Biasa. Ning Khilma benar-benar sukses menciptakan "kehidupan" baru.

Terlepas dari keunggulan Film ini, saya mencatat ada beberapa hal yang kurang dalam Film ini.

  1. Kegugupan Gus Birru ketika kehilangan Alina Suhita kurang terlihat, sehingga kesan bahwa Gus Birru telah tergantung pada keberadaannya yang diilustrasikan dalam Novel kurang dirasakan oleh penonton.
  2. Dalam Novel Gus Birru sempat cemburu pada kang Dharma yang sempat hadir dalam kehidupan mereka, namun dalam Film, scene ini tidak ada. Bahkan rasanya, Gus Birru tidak tahu bahwa Suhita dicintai oleh orang lain. Entah kenapa scene ini dihilangkan
  3. Suhita sempat ngobrol berdua secara intensif dengan Kang Dharma, ini agak janggal jika dihubungkan dengan sosok Suhita yang sangat menjaga dirinya untuk tidak berduaan dengan orang lain. Apalagi saat ia berstatus sebagai Istri seorang Kiai Muda; meski pada saat itu, ia belum dicintai oleh suaminya.

Namun begitu, ini hanyalah catatan tidak berarti sebagai penikmat Novel dan Film. Dari sekian Film yang diangkat dari Novel, Film Hati Rengganis, eh, Hati Suhita, adalah Film Terbaik yang saya jumpai. Semoga Ning Khilma bersedia melanjutkan kisah hidup mereka, minimal untuk menjawab beberapa pertanyaan dari penyintanya, tentang

  1. Bagaimana kehidupan Rengganis selanjutnya?
  2. Apakah Gus Birru benar-benar mengikhlaskan hidup Rengganis yang jelas terluka? Ia tidak sedang baik-baik saja
  3. Lalu, bagaimana keadaan Kang Dharma? Apakah ia tetap mencintai gadianya dalam kesunyian?
  4. Juga, siapa sebenarnya arya?

Akhirnya, kemenangan Suhita yang telah utuh mendapatkan Gus Birru, itu bukan karena kegigihan perjuangannya, namun karena Rengganis ikhlas melepasnya.

Wow...

Setelah ini saya pasti akan dicincang oleh para pencinta Suhita, kabur ah....

_____

Diangkat dari akun  facebook Wariets Ilham El-antika

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5173215567511355912

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item