Majas Dalam Buku Puisi Majas

 Oleh : Devi Agung Rahmadhani *)


Keindahan puisi dapat dirasakan melalui ungkapan perasaan dan suasana hati penyair melalui bait-bait puisi yang terbentuk secara utuh dan menyatu. Kata-kata yang ada dalam setiap bait puisi menciptakan suasana. Kata-kata puitis tidak dapat kita sebut sebagai puisi melainkan puisi yang membentuk kata-kata puitis sebagai payangan puisi. Puisi yang membentuk rimbunan kata-kata puitis. Tidak hanya itu penyair menggunakan symbol dan metafora untuk mengungkapkan fenomena keindahan yang bergerak sesuai isi hati. Rasa rindu, kehampaan, kegelisahan, kebahagaian terungkap melalui larik puisi menjadi bait yang lahir dari pikiran penyair.

Keindahan puisi dapat dilihat dari tepat tidaknya penggunaan gaya bahasa atau majas yang dipilih penyair. Majas sebagai gaya bahasa untuk membuat karya sastra semakin hidup da indah , seperti halnya pada puisi. Penyair menggunakan majas dalam puisinya dengan tujuan untuk memperkaya kata yang digunakan. Bahasa kiasan atau majas dapat menarik perhatian dan kejelasan mengenai suasana puisi yang diciptakan oleh penyair. Penyair menggunakan majas sebagai pembanding, menyindir, dan menegaskan sesuatu. Untuk mengekspresikan pikiran melalui bahasa khas sebagai salah satu bentuk majas dalam menyampaikan perasaan melalui lisan ataupun tulisan. Karena pada hakikatnya puisi sendiri dapat dinikmati secara lisan maupun tulisan. Biasanya majas sebagai bentuk penyimpangan dari makna atau kata yang biasa digunakan oleh penyair.

Buku Eva R.Batubara dan kawan sekelas yang berjudul “Majas” sebagai antologi puisi adalah salah satu contoh penggunaan gaya bahasa atau majas yang diciptakan oleh penyair itu sendiri. Namun, ada hal yang berbeda dalam antologi puisi ini, di mana biasanya majas digunakan oleh penyair untuk memperkaya kata dalam menciptakan puisi kali ini penyair menggunakan kata majas sebagai judul puisinya. Di mana majas ini terdiri dari berbagai macam seperti hiperbola, anaphora, metonimia,pleonasme, personifikasi, tautologi, epifora, metafora dan simile. Meskipun pada puisi ini terdapat tema-tema lain, namun menurut saya hal yang menjadi daya tarik dari puisi ini adalah penyair yang menggunakan majas sebagai tema pada setiap kumpulan puisinya, jadi tidak hanya menggunakan majas dalam kata-kata yang digunakan.

Setiap puisi memiliki daya tarik dan keindahan sendiri di dalamnya, maka dari itu upaya penyair Eva R. Batubara dan kawan sekelas dalam menciptakan puisi dengan hasil pemikirannya sendiri sehingga memunculkan ide bagaimana sebuah puisi dapat menarik perhatian pembaca.Pemahaman mengenai ruang lingkup majas membawa penyair mengasah kreativitasnya , untuk melahirkan sebuah puisi yang indah. Kepekaan dalam menelaah dan mengindetifikasi makna kata yang diubah menjadi majas kemudian diolahnya membentuk rangkaian kata-kata indah dalam setiap baitnya. Tak heran jika banyak penyair yang berhasil menarik pembaca untuk ikut merasakan suasana dalam setiap makna kata yang diungkapkan penyair . Kumpulan bait membentuk satu kesatuan yang utuh untuk menggambarkan hasil pemikiran penyair Eva R. Batubara dan kawan sekelas.

Anafora

(Eva R.Batubara, Ardi Setiawan, Fahri Aditiansyah, Rizki Adikara Manalu)

“Kalau kamu minta, aku berikan/ Kalau kamu minta , aku carikan/ Kalau kamu minta, aku usahakan/ Kalau kamu minta, aku lakukan/ Kalau kamu minta , tapi kamu tidak”

Dalam puisi di atas terlihat bahwa penyair menujukan bentuk dari majas anaphora dalam bait puisi tersebut pengulangan bunyi dan kata dalam setiap larik dirangkai oleh penyair untuk menujukan arti dari majas anaphora yang berakhiran -an, sehingga terdapat perpaduan dan keselarasaan antara judul puisi dengan isi puisi yang dimana hal itu menambah keindahan pada puisi. Pada bait itu penyair lebih memusatkan pada ungkapan seseorang untuk memenuhi keingginan orang lain, makna tersebut ditujukan secara tersurat sehingga pembaca dapat memahami makna setiap larik dalam bait yang diungkapan oleh penyair melalui bait yang diikuti dengan majas anaphora. Puisi Eva R.Batubara dan kawannya pada hakikatnya juga menfokuskan pada penekanan makna tidak hanya pada penerapan majas anaphora dalam puisi , karena pengulangan kata sebagai bentuk majas anaphora tersebut memberikan penegasan terhadap tujuan penyair menciptakan bait.

Metonimia

(Eva R.Batubara, Hayrul Anugra P., A , Ali Aqil, M.Bintang)

“Ayah meminta beli Sampoerna/Warung belum buka/ Tetap kucari pakai Supra/Tapi yang kutemukan Surya/ Dan senyumu yangmenggoda/ Kemudian ayah kecewa”

Puisi “Metonimia” karya Eva R. Batubara dan kawannya lain lagi dalam memilih majas yang digunakan dalam puisi. Kali ini penyair menggunakan majas metonimia sebagai gaya bahasa dalam puisinya. Majas metonimia yang digunakan penyair sebagai bentuk penjelasan suatu hal, dimana dengan menggunakan suatu label atau merk dagangan yaitu samoperna pada baris pertama, kemudian supra pada bait keempat dan surya pada baris kelima. Pemilihan kata tersebut merupakan bentuk dari majas metonimia yang dipilih penyair dengan menggunakan kata lain yang memiliki keterkaitan. Puisi ini cukup berhasil sebagai perawartaan dan keselerasaan anatara judul puisi dengan isi puisi yang salah berkaitan. Ruang lingkup majas sangatlah luas , melalui bait puisi yang indah arti dari kata majas metonimia dapat tersampaikan dengan baik hingga melahirkan pikiran pembaca untuk mengartikan dan mendefinisikan makna dari puisi “Metonimia” melalui tiap kata yang ada.

Hiperbola

(Eva R.Batubara, Rahmad Dewa, M.Akbar Nugraha,M. Fahrizal Rafi, Lika Anggarini)

“Baru sekejap kamu pergi/ Aku sakit/ Demam!/Kepala pusing/Badan meriang/Sakit pinggang/Tak tahan lagi/Ingin mati/Merindu kamu”

Puisi Eva.R. Batubara dan kawabnya yang berjudul “Hiperbola” pada haikatnya juga berbicara tentang variasi majas. Untuk menemukan majas hiperbola dalam puisi ini diperlukan pemahaman yang dalam. Gaya bahasa ini dipilih penyair sebagai bentuk gaya bahasa yang melebih-lebihkan suatu fenomena. Ungkapan makna puisi sebenarnya seseorang yang merindukan orang lain, namun agar ada keterkaitan antara judul puisi dengan isi puisi maka penyair mencoba memilih kalimat yang berlebihan sehingga tidak sesuai dengan kenyataanya. Majas ini mampu menarik daya pengaruh yang cukup kuat terhadap pembaca puisi. Keindahan puisi dapat dilihat serta dirasakan melalui gaya bahasa dan majas yang dipilih dengan tujuan untuk mempengaruhi suasan penikmat puisi. Tak heran jika banyak penyair yang mencoba masuk lebih dalam mengenal berbagai macam variasi gaya bahasa semata-mata agar karya yang dihasilkan mampu menarik perhatian penikmat puisi unuk ikut serta masuk kedalam dunianya. Majas hyperbola tidak hanya berlebihan dari segi kata namun dari segi makna sudah menjadi satu kesatuan puisi yang utuh.

Begitulah majas yang tak bisa terlepas dari dunia puisi dan penyair kreatif kerap memanfaatkan majas atau gaya bahasa sebagai daya tarik karyanya. Meskipun majas memiliki berbagai macam variasi,namun hal itulah yang akan membantu penyair mengasah kreatifitasnya terhadap penyusunan kalimat dalam setiap baitnya sehingga membentuk puisi yang indah.

***

*) Devi Agung Rahmadhani, lahir di Banjarnegara 02 Desember 2001. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Ia saat ini tinggal di Desa Kendaga , RT 01 RW 03, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Ia dapat dihubungi melalui emaai : deviagungr54@gmail.com

 

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 6877666635092163407

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item