Dzikir Paling Utama


Oleh Kuswaidi Syafiie

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menuturkan bahwa dzikir paling utama yang beliau dan para nabi terdahulu melaksanakannya adalah La ilaha illallah/ tidak ada Tuhan selain Allah. Itulah yang disebut kalimat tahlil atau kalimat thayyibah.

Berarti ada keseragaman spiritual di antara seluruh nabi yang pernah dikirim dan diutus oleh Allah SWT ke tengah kancah kehidupan umat manusia dalam perkara hubungan transendental dengan hadiratNya itu. Hal itu merupakan sesuatu yang pasti. Sebab, berkaitan dengan tauhid uluhiyah/ ketuhanan tidak mungkin terjadi evolusi, apalagi perubahan atau bahkan perombakan, kecuali yang berhubungan dengan perspektif dan ekspansi paradigmatik.

Hal yang demikian semata dikarenakan bahwa Allah SWT yang merupakan starting point sekaligus satu-satunya kiblat transendental yang senantiasa menjadi acuan nilai bagi aktivitas dakwah seluruh nabi dan rasul itu adalah Tuhan yang tidak tersentuh sama sekali oleh proses dan perubahan. KemahasempurnaannNya yang tak terbatas tidak membutuhkan tambahan atau penyempurnaan apapun. Tidak sebagaimana makhluk-makhluk yang penuh dengan berbagai kekurangan dan tak sempurna.

Dalam kalimat tahlil itu, ada dua poin sangat penting yang mesti berkelindan secara utuh dan tak terpisahkan. Yaitu adanya nafi (la ilaha) dan itsbat (illallah). Yang disebut dengan nafi itu tak lain adalah kesanggupan untuk menyingkirkan dan melenyapkan kemungkinan munculnya penuhanan dalam diri terhadap segala sesuatu selain Allah SWT.

Dalam ruang lingkup pemahaman yang lebih luas, yang disebut penuhanan itu tidak saja berupa aktivitas ibadah-ibadah yang formal sebagaimana yang telah kita kenal, akan tetapi juga termasuk kegandrungan hati yang kuat, pengkultusan dan menomorsatukan apapun selain hadiratNya.

Kecintaan berlebihan kepada harta benda dan kekayaan, terbelenggu pangkat dan jabatan duniawi, teringkus rasa mabuk kepada anak dan istri atau suami sehingga Allah SWT menempati rangking terbawah pada hirarki perhatian seseorang: semua itu merupakan realisasi penuhanan terhadap selainNya. Karenanya, semua itu mesti dinafikan dan diusir jauh-jauh dari dalam hati dan pikiran.

Dan ketika nafi itu telah dituntaskan dengan sempurna, maka akan muncul itsbat. Yaitu dengan sepenuh keyakinan menetapkan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang sungguh berhak untuk menerima sesembahan seluruh makhlukNya. Itsbat tidak hanya berkaitan dengan formalitas ibadah-ibadah semata, tapi terutama berupa kesungguhan dan ketulusan kita mengorientasikan seluruh hidup yang kita arungi terhadap hadirat Allah SWT belaka.

Ada tiga hirarki pemaknaan terhadap kalimat tauhid di atas. Pertama, bermakna la ma'buda illallah/ tidak ada yang pantas disembah selain Allah. Hal ini menggambarkan adanya suatu kesadaran bahwa yang pantas dan berhak untuk menerima keluh kesah berbagai persoalan makhluk, yang semestinya menjadi tumpuan dan tujuan dari segala puja-puji makhluk, yang seharusnya menjadi kesadaran mengenai satu-satunya penolong makhluk tak lain adalah Allah SWT.

Kedua, bermakna la maqsuda illallah/ tidak ada yang menjadi tujuan paling puncak dan final bagi seluruh makhluk dalam kehidupan ini dan di akhirat nanti selain Allah SWT. Barangsiapa telah mengalami pemaknaan spiritual tahap kedua ini akan senantiasa tergiring dan terbimbing langkah-langkah hidupnya menuju kepada hadiratNya semata.

Apapun yang diusahakan orang itu, apapun profesi yang ditekuninya, apapun keputusan yang diambilnya, sesepele apapun aktivitas yang dikerjakannya: tujuan dari semua itu hanyalah Dia belaka. Ke mana saja orang ini menghadapkan diri, yang paling tampak di hati, pikiran dan bayang-bayang ruhaninya tidak lain adalah Allah SWT semata pula. Sungguh merupakan episode kehidupan yang sangat membahagiakan.

Ketiga, bermakna la mawjuda illallah/ tidak ada yang betul-betul wujud selain Allah SWT. Pada tahap pemaknaan ruhani yang ketiga ini, siapa pun yang telah mengalaminya berarti telah dianugrahi kesanggupan luar biasa dalam menembus lebat dan rimbunnya hutan dunia yang fana ini, dalam menerobos dan menyingkirkan gemerlap dan kemewahan akhirat nanti, dalam menepis dan mengenyahkan rayuan-rayuan pikirannya sendiri yang utopis.

Sayyidul kawnayn, tuan dunia dan akhirat sekaligus, Rasulullah SAW pernah secara tidak langsung menuntun umatnya untuk menyaksikan bahwa yang ada hanyalah Allah SWT belaka ketika beliau mempersembahkan sebaris doa kepada Rabbul 'Alamin: "Allahumma arinal asy-ya' kama hiya 'alayh/ Ya Allah, mohon perlihatkan kepada kami segala sesuatu sesuai dengan hakikatnya."

Tentu saja hakikat segala sesuatu adalah asal-usul sekaligus akhir dari segala sesuatu itu sendiri. Tidak ada yang lain. Dan siapa pun yang memohon dengan doa Nabi akhir zaman itu lalu kemudian doanya dikabulkan, maka pastilah dengan haqqul yaqin dia akan bersaksi bahwa yang benar-benar ada sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata, yang lain tidak. Wallahu a'lamu bish shawab.


POSTING PILIHAN

Related

Utama 5080119528886134343

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item