Siapa Yang Menangis Ketika Aku Mati Nanti?


Pentigrafis: Elle Lauw

Siapa Yang Menangis Ketika Aku Mati Nanti?

Sering ada di benakku, "Siapa yang menangis ketika aku mati nanti?" Dan, entahlah pemikiran seperti ini muncul begitu saja ketika aku berada di sebuah rumah duka. Orang datang dan pergi untuk menyampaikan duka citanya, di satu sisi ada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk dengan mata nanar dan wajah sedih yang sangat mendalam yang ditemani oleh pria berperawakan tinggi yang tubuhnya mulai mengurus.

Ketika dimulai proses penutupan peti jenazah, terdengar jeritan yang menyayat hati secara bersamaan. Orang-orang yang datang pun ikut mengusap mata dan tak sedikit pula yang menahan air matanya. Aku memandang sekitar, ada anak kecil yang berlarian ke sana ke mari, ada pula seorang yang berperawakan gemuk yang terlihat sibuk menerima ucapan belasungkawa, sesekali menyeka air matanya. Aku terus memperhatikan orang-orang di sekitar situ. Aku melihat beberapa teman yang sedang duduk bercerita entah apa saja, aku hanya mendengarnya sama-samar. Dari jauh, aku melihat ada seorang pria yang duduk terdiam, ia hanya memandang peti jenazah yang ditaburi bunga cantik berwarna putih hijau. Wajahnya terlihat duka yang mendalam. Tiba-tiba seseorang yang aku kenal datang tergesa-gesa, aku datang menyambutnya, namun ia melewatiku begitu saja? Ia malah memeluk peti jenazah di sana dan menangis menjadi-jadi. Jeritannya pun tak tertahankan. Memecahkan keramaian di sana.

Entah, sudah berapa lama aku berdiri di ruang duka ini. Di sana aku berdiri tanpa henti memperhatikan siapa yang datang, siapa yang menangis. Sebenarnya ingin rasanya aku ikut menangis dan memeluk mereka, namun entahlah rasanya tubuhku hanya terpaku dan terdiam. Aku berjalan dan kadang duduk mendengarkan beberapa orang bercerita, sesekali aku tersenyum mendengarnya. Ketika aku merasa lelah, beberapa saat kemudian, aku berjalan dan kemudan berhenti di depan peti jenazah itu. Terkesiap aku melihat foto yang terpampang di depan peti jenazah itu. Aku menoleh, terlihat mamaku sudah berdiri di sebelahku, aku berbisik, "Ma...mengapa fotoku ada di sini?"



Sang Motivator

"Selamat Pagi, Teman-teman semua, Apa kabar, Anda? Apa kabar, Saya? Apa kabar, kita semua?!? Pastinya SEHAT DAN BAHAGIA!!!" Salam optimis dalam suatu acara yang disambut oleh Sang Motivator. Suara optimis dan ceria, serta bergemuruh, sangat menghidupkan suasana di ruangan itu, yang tadinya sedikit lesu, tak bersemangat karena penyampaian materi di Sessi sebelumnya.

Seketika semangat dari dalam diriku muncul, ikut berbergemuruh, ikut ceria, juga sesemangat seperti diri Sang Motivator. Ya. Senyumnya pun tak pernah lepas dari sudut bibirnya. Setiap kata, ucapannya sering menggelakkan tawa, namun tak mengurangi makna. Pandangan mataku tak pernah lepas dari gerak-geriknya yang menjelaskan tentang motivasi, tentang kehidupan, tentang ilmu yang ia bagikan kepada kita. Luar Biasa!

Beberapa kali aku pun memotret moment, gerakan Sang Motivator itu, yang mungkin menurut beberapa orang tidak penting. Mengapa hal itu penting? Bagiku Sang Motivator ini adalah sejarah yang ikut mengubah hidupku, mengubah cara pikirku. Sang Motivator ini bukanlah sekedar orang yang dibayar untuk memotivasi orang lain. Ia, Sang Motivator sejati yang sungguh tulus hati dalam memberikan semua dirinya dan mengubah orang lain. Sang Motivator sejati mampu mengubah orang-orang di hadapannya menjadi motivator-motivator kecil. (L)



 ·

Motivator

"Selamat Pagi, Teman-teman semua, Apa kabar, Anda? Apa kabar, Saya? Apa kabar, kita semua?!? Pastinya SEHAT DAN BAHAGIA!!!" Salam optimis dalam suatu acara yang disambut oleh Sang Motivator. Suara optimis dan ceria, serta bergemuruh, sangat menghidupkan suasana di ruangan itu, yang tadinya sedikit lesu, tak bersemangat karena penyampaian materi di Sessi sebelumnya.

Seketika semangat dari dalam diriku muncul, ikut berbergemuruh, ikut ceria, juga sesemangat seperti diri Sang Motivator. Ya. Senyumnya pun tak pernah lepas dari sudut bibirnya. Setiap kata, ucapannya sering menggelakkan tawa, namun tak mengurangi makna. Pandangan mataku tak pernah lepas dari gerak-geriknya yang menjelaskan tentang motivasi, tentang kehidupan, tentang ilmu yang ia bagikan kepada kita. Luar Biasa!

Beberapa kali aku pun memotret moment, gerakan Sang Motivator itu, yang mungkin menurut beberapa orang tidak penting. Mengapa hal itu penting? Bagiku Sang Motivator ini adalah sejarah yang ikut mengubah hidupku, mengubah cara pikirku. Sang Motivator ini bukanlah sekedar orang yang dibayar untuk memotivasi orang lain. Ia, Sang Motivator sejati yang sungguh tulus hati dalam memberikan semua dirinya dan mengubah orang lain. Sang Motivator sejati mampu mengubah orang-orang di hadapannya menjadi motivator-motivator kecil. (L)



Cinta Sedemikian Rindu

"Langit tak perlu menjelaskan mengapa ia berwarna biru, demikianlah cinta tak perlu menjelaskan mengapa ia selalu rindu", ujarku. Mendengar demikian, kamu menatapku kemudia tertawa terbahak-bahak. Wajahku yang semula sumringah menjadi mengkerut. Sebal. Diacaklah anak rambutku, "Iya iya bagus kok puisimu. Aku suka." Aku tersenyum lagi dibuatnya.

Entah sudah beberapa hari dia tidak menghubungiku. Dia yang biasanya kadang main ke rumah secara riba-tiba, sepertinya menghilang begitu saja. Satu dua hari memang tak begitu terasa, namun ketika di hari keempat, kegelisahan mulai menghampiriku. Telepon rumah yang biasanya berdering, tak lagi terdengar. Ada sesuatu yang menyeruak di dadaku. Entahlah.

Setelah seminggu lamanya tak ada kabar, tiba-tiba ia datang begitu saja di hadapanku. Ketika itu aku sedang duduk santai di teras dengan mengenakan daster mini kesayanganku. "Hei...Lisa" sapamu. Sontak aku gelagapan berdiri dengan hati berdebar tak menentu. Perasaan yang bercampur aduk. Tanpa jawaban, aku hanya membuka kedua tangan dan kita berpelukan. "Langit tak perlu menjelaskan mengapa ia berwarna biru khan?" bisiknya dalam pelukan. Aku tersenyum bahagia.





POSTING PILIHAN

Related

Utama 6199118845260570003

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item