Maaf


Cerpen: Dien Soebari


"Bagaimana sih, kok main HP terus," suara Adnan suami Rara mengagetkan. Rara yang sedang asyik mengetik agak kaget. “Jangan main HP saja kalau lagi pegang anakmu,” ujar Adnan agak kesal.

Tampak wajah Rara menbias, ada rona ketakutan di sudut mata. Memang belakangan ini Adnan berubah sangat sensitif, yang semula menegurnya dengan lemah lembut, namun sekarang ini lebih sering menegurnya dengan nada yang agak tinggi.

Rara meletakkan gawai di atas mejanya lalu meraih anak semata wayangnya yang sedang menangis memeluk kakinya. Tangisan yang yang tampaknya sekedar pura-pura, namun kini menjadi tangis sampai sesunggukan.

"Sudah pulang mas," ujar Rara lembut meredam kemarahan Adnan.

Ia tak banyak bicara, Adnan langsung masuk ke dalam kamar, tanpa memberi kesempatan pada Rara untuk menjelaskan. Rara terkesiap melihat perubahan sikap Adnan yang dirasakannya muncul beberapa hari ini, biasanya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan dihatinya ia selalu bertanya terlebih dahulu. Dan saat ini tanpa bertanya apa yang sedang terjadi langsung tanpa tedeng aling-aling main bentak saja. Bertolak belakang dengan sikap sebelumnya, Rara sendiri heran dan bertanya-tanya, mengapa akhir-akhir ini Adnan menampakkan perilaku yang berbeda.

 Rara ingin bertanya tapi tak ada kesempatan baik karena kesibukan masing-masing.

Adnan bekerja sebagai pekerja bangunan dan pulang ke rumah bila menjelang sore, sedang Rara bekerja sebagai pembantu rumah tangga tak jauh dari tempat tinggalnya.

Dan saat sama-sama pulang ke rumah sudah sama-sama letih, dan biasanya setelah makan malam langsung tidur langsung menuju pembaringan tak ada kesempatan lagi untuk sekedar bercerita seperti yang mereka lakukan waktu dulu.

Rara bekerja sembari membawa serta putrinya ke tempat kerja karena Niken, putri satu-satunya itu tidak begitu rewel. Ketika dia bekerja si kecil cukup diberi mainan dan dia tak akan beranjak dari tempatnya, walaupun pergi tapi masih dalam jangkauan mata. Rara pulang sekitar jam 10 pagi  sedang Adnan baru menjelang magrib, tergantung jauh tidaknya tempat bekerja, atau bisa berhari hari di rumah kalau tak ada pekerjaan.

Untunglah Rara istri yang pintar mengatur keuangan sehingga meski terkadang Adnan tidak bekerja Rara akan memanfaatkan uang hasil kerjanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Rara tidak pelit dan mau menangnya sendiri karena Adnan sangat menyanyanginya, demikian pula pada si buah hati. Akan tetapi sikap Adnan beberapa hari ini yang selalu bermuka masam membuat hati Rara gundah. “Situasi seperti ini tak bisa dibiarkan,” guman Rara dalam hati. “Nanti aku akan bicara saat Adnan sudah tenang,”.

Sore itu ketika melihat suaminya sedang santai, sementara Rara menyeduh secangkir kopi dan meletakkannya di samping Adnan. Tampak lelaki itu sedang menghembuskan asap rokok dengan dengan kepulan asap cukup tebal.

     "Mandi dulu mas, bau" ujar Rara memulai seraya mendekatkan wajahnya ke leher Adnan.

Tanpa banyak bicara Adnan mengambil handuk dan langsung masuk kamar mandi, setelah itu kembali duduk seraya menyeruput kopinya. Adnan kembali merokok, namun membisu. Mengacuhkan istrinya yang tersenyum menatapnya.

Melihat sang suami yang acuh, Rara menghela nafas dan menjadi sedih. Senyum yang menghiasi bibirnya lenyap.

“Nanti aku ingin bicara setelah Magrib ya, mas,” rajuk Rara tanpa menatap Adnan

“Hem”

Adnan hanya menjawab dengan deheman sembari membuat bulatan-bulatan asap rokok. Acuh. Melihat sikap suaminya seperti itu Rara mengambil cangkir kopi yang masih separuh diminum Adnan, lalu membuangnya dekat pot bunga. Hatinya benar-benar kesal.

Adzan Magrib berkumandang dari surau terdekat. Adnan bergegas menuju meninggalkan Rara yang menunggunya untuk sholat berjamaah seperti yang biasa dilakukan sehari-hari. Namun entah mengapa kali ini suaminya berjamaah di surau.

Sembari menunggu Adnan datang, Rara menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan suaminya. Tumis kangkung pedas, tempe goreng dan ikan asin. Setelah Adnan datang keduanya makan bersama tanpa kata, tanpa bicara. Biasanya sembari mengunyah makanannya, Adnan selalu bercerita tentang pekerjaan dan keseruan teman-temannya di tempat kerja. Selera makan Rara menjadi hilang melihat raut wajah Adnan yang masih tetap saja masam.

"Mas capek?"

"lya, ada apa Ra," Adnan selalu memanggil namanya karena kebiasaan sejak pacaran lima tahun lalu. Suaramya demikian lembut bila sedang tidak marah..

“Mas masih marah?” tanya Rara dengan nada datar.

Adnan hanya menatap Rara dengan pandangan dingin.

"Tadi kenapa mas kok marah, dan bukan hanya tadi, akhir-akhir ini mas sering membentak,” tanya Rara hati-hati.

"Nggak  nyadar ya, kalau salah?”

Rara terdiam dan masih melihat wajah ketus suaminya. Melihat sikap Adnan yang masih mengacuhkannya, Rara meraih tangan Adnan dan menggenggamnya dengan erat.

“HP melulu. Apa perlu aku cabut HPnya?  Anak nangis sampai ngelendot di kaki masih dibiarkan saja.” Ungkap suaminya serius dan kesal.

Semakin erat Rara menggenggam tangan Adnan dan kemudian menariknya ke bibir.
“Maaf,”

“Hem,” Adnan hanya berdehem. Rara memeluk Adnan lalu menyandarkan tubuhnya. Sikap manja Rara meluluhkan amarah Adnan.

Seulas senyum merekah di bibir Adnan.

“Mas ganteng kalo tersenyum,” goda Rara, “Nggak tersenyum pun tetap ganteng.”

Adnan akhirnya mengendurkan sikapnya lalu meraih kepala rara dan mencium kening penuh mesra.

"Mas."

"lya sayang apa:" tanya Adnan sambil mengelus-elus pipi Rara.. sikap manja Rara memang seringkali dilakukan ketika buah hati mereka tertidur.

"Mas, kalo ada apa-apa tanya dulu, jangan langsung main semprot saja, eh belum tahu masalahnya keburu marah," jelas Niken.

"Apanya yang mau dijelaskan, hah? Niken nangis, kamu masih saja asik main HP." Adnan kembali mengeluh dengan nada agak kesal.

"Mas. tadi itu Niken bermain nangis-nangisan sama bonekanya. Tidak lihatkah Niken pegang boneka? Yang nangis bonekanya bukan Niken, dan Niken hanya menemani boneka nangis," jelas Rara

Adnan jadi melongo.

"Dan mas akhir-akhir ini sering uring-uringan padaku," jelas Rara lembut.

"Rara sih, main HP terus, lantas mengapa HP nggak pernah terlepas dari tanganmu, chatting sama siapa sih?," ungkap suaminya ingin tahu. Adnan tidak mau disalahkan, ada nada cemburu di nada bicaranya.

“O begitu?,” simpul Rara menahan senyum..

“Cem cem ya,” tambahnya menggoda.

“Kalau ya, kenapa?,” jawab Adnan tanpa ekspresi.

"Aku selama ini belajar menulis cerita mas, nggak chatingan sama siapa-siapa,” ujar Rara menjelaskan ketika suaminya terdiam.

Adnan masih terdiam dan tak beraksi apa-apa. Raut wajahnya kembali masam. .
"Aku mau jadi penulis mas, kata guru bahasa waktu sekolah, aku berbakat jadi penulis," imbuhnya penuh semangat.

"Hah, siapa gurumu, kamu ketemu beliau?," tanya Adnan pensaran.

"lya aku ketemu beliau melalui medsos, dan bertemanan dengan beliau,” Rara menyodorkan gawainya dan membuka aplipasi hijau seraya memperlihatkan chatingannya.
“Maaf ya aku salah sangka,” ujar Adnan tersenyum lalu merangkul Rara

Rara membenamkan wajahnya di dada suaminya. Rasa jengkel dan marah yang tersimpan dihatinya seketika luber. Pelukan Adnan menjadi obat mujarab.

“Sip” Adnan mengurai pelukan istrinya lalu mengacungkan kedua jempol tangannya untuk menyemangati Rara. Hatinya lega bukan main karena prasangka buruknya terhadap istrinya pupus. Adnan tak mungkin melarang istrinya belajar menulis karena sepengetahuannya Rara sangat jago dalam merangkai kata sejak masa sekolah dan selalu mendapat nilai yang bagus ketika pelajaran bahasa Indonesia ketika tugas mengarang.

Kedua mata mereka saling pandang dan pendaran bola mata penuh senyum. Ada rasa lega di masing-masing hati., Adnan merengkuh Rara dalam pelukan dan merasakan detak jantung yang seirama dengan detak jantung istrinya. Rara, wanita lembut namun mandiri dan telah memberinya sesosok bidadari kecil yang sangat dikasihinya. Dalam hati Adnan berjanji akan membahagiakan kedua wanita terkasih yang telah diamanahkan Tuhan padanya.  

Dien Soebari, adalah nama pena Nenda yang sudah mempunyai cucu 2 dari 2 putri dan 1 putra masih kuliah. PNS yang lahir 53 tahun yang lalu, lulusan UNIBO Bondowoso tahun 2005 ini mengenal dunia menulis karena adanya pandemi covid-19 yang memaksanya untuk melakukan pembelajaran di rumah.
Pola kerja yang lebih banyak di rumah, dan memaksa untuk menguasai aiti mengenalkannya pada dunia kepenulisan. Baru 2 karya antologi yang sudah dibukukan, tetapi harapannya dunia kepenulisan yang baru digeluti, bisa menunjang karirnya sebagai seorang abdi masyarakat di bidang pendidikan.
Dunia menulis ternyata membawa dampak, yaitu mampu memperbaiki suasana hati menjadi lebih bahagia, karena semua yang dirasakan dapat tersalurkan tanpa menyakiti orang lain dan menjadi cermin yang baik bagi dirinya, dan mungkin bagi orang lain.Berharap bisa membuat buku solo untuk ke depannya nanti



POSTING PILIHAN

Related

Utama 2108383616254092575

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item