Merekonstruktif Peran Guru Sebagai Agen Perubahan

Diskusi antar guru
Oleh: Nanda Ramadani

Setelah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum pendidikan, seperti apakah wajah pedidikan Indonesia di era industri 4.0 sekarang ini.? Pemerintah sangat mengaharapkan kualitas pendidikan Indonesia, sehingga berbagai upaya dilakukan karena mengingat pendidikan adalah penentu kemajuan bangsa.

Kemajuan teknologi industri saat ini telah memberi pengaruh besar terhadap pola pikir dan gaya hidup anak-anak dan remaja serta perlahan-lahan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tradisional masyarakat Indonesia, contohnya dulu kita sering melihat anak-anak suka bermain petak umpet, dakon, ataupun permainan tradisional lainya, tetapi sekarang anak-anak lebih suka dengan game online dan situs jejaring sosial seperti facebook, instagram, twitter dan lain sebagainya. Keberadaan internet telah membuat mereka jarang bergaul atau bermain dengan teman yang melibatkan kerjasama, bahkan acuh tak acuh dan malas tau dengan lingkungan sekitar.

Dalam hal ini kita sangat mengharapakan peran pendidikan yang harus berperan aktif dalam pembentukan generasi hebat Indonesia. Pendidikan merupakan upaya yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa, pendidikan merupakan upaya yang dilakukan untuk mengambangkang potensi yang dimiliki oleh peserta didik untuk menjadi generasi  baik dalam suatu bangsa.

Dengan semakin berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi yang sangat pesat saat ini, memungkinkan semua hal bisa diakses oleh anak, dari yang positif  hingga negatif, hal inilah yang sedang terjadi saat ini, anak  menjadi lebih kritis, egois, berani dan lebih agresif. Bila hal ini tidak disikapi dengan baik oleh guru, bisa-bisa proses pembelajaran hanyalah sekedari memenuhi kewajiban karena telah mendapat gaji atau sekedar menjalankan rutinitas tanpa melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh siswa.

Berdasarkan hasil survei pendidikan dunia, yang dirilis  oleh  Programme For International Student Assessment (PISA), pada selasa (3/12) di paris, menempatkan Indonesia berada pada peringkat ke 72 dari 77 Negara. Dalam survei PISA ini, merupakan rujukan dalam menilai kualitas pendidikan di dunia, yang menilai kemapuan membaca, matematika dan sains. Hal ini tentu membuat Negara kita berada jauh dari Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei darusalam. Hal ini disebabkan karena kopetensi guru dan sistem yang membelenggu serta sistem pendidikan yang masih kuno atau feodalistik, sehingga mengurangi kebebasan berfikir.

Survei ini akan menjadi acuan dan masukan yang sangat berharga untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas pendidikam Indonesia yang seharusnya menjadi fokus pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikam indonesia selama lima tahun kedepan. Kecendurangan zaman telah berubah kearah yang lebih digital. Indonesia perlu segera berbenah dan menyongsong target pendidikan 4.0 untuk menciptkan manusia-manusia yang cerdas dan berbudi pekerti baik.

Maka untuk melaksanakan hal itu, tentu hal yang pokok di dunia pendidikan yaitu penyiapan dan pembinaan guru, dalam penerapan kurikulum tentu memerlukan guru yang berkompeten, berkomitmen tinggi dan memiliki ruang gerak untuk berinovasi.

Guru juga harus bisa menjadi teladan yang baik, minimal berakhlak mulia dan mencintai siswa-siswanya. Ingat pepatah “Guru kencing berdiri murid kencing berlari”.  Artinya siswa sangat memerhatikan perilaku guru dan bahkan mencontohnya. Jangan sampai seorang guru justru berperilaku buruk bahkan dicap jelek di mata masyarakat. Tentu hal ini akan berdampak besar bagi siswanya, sehingga apa pun nasihat guru tersebut tidak akan meniru perbuatannya.
Dengan demikian penting bagi guru untuk menanamkan rasa ikhlas dan tanggung jawab dalam mengajar serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik sehingga mampu membentuk karakter siswa, agar menjadi manusia yang cerdas, berilmu, namun mempunyai akhlak baik melalui keteladanan.

Jika kita melirik sedikit tentang pendidikan guru di Finlandia. Maka kita akan temukan bahwa guru di Finlandia harus menempuh pendidikan master terlebih dahulu untuk menjadi guru dan itu setara dengan master pada bidang lain. Dengan gelar itulah mereka juga berhak untuk melanjutkan ke jenjang dokotal. Guru Finlandia tidak menepatkan penghasilan menjadi motivasi memilih profesi guru. Walaupun sebenarnya gaji guru sedikit lebih banyak dibanding  rata-rata gaji secara nasional.

Guru sangat penting sehingga di Finlandia ada ungkapan “Guru bagus sekolah akan hebat”, dengan jaminan guru hebat, maka Finlandia menempuh jalan yang berbeda dengan Negara-negara lain dengan menetapkan beberapa Paradoks yang perlu juga kita pelajari. Oleh karena itu jika ingin pendidikan kita maju, maka guru harus dipersiapkan dengan baik, diberi otonomi untuk berinovasi dalam bekerja dan mendaptkan imbalan yang baik pula. Dan itu adalah makna dasar profesioalime, yaitu well educated, highly performance dan well paid..


Nanda Ramadani. Adalah mahasiswi Semester  : IV, Fakultas : Tarbiyah (PBA), Institut Dirosat Islamiyah Al-amien (IDIA) Prenduan.

Tulisan Terkait

Utama 1756031855435072567

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item