Tembang Mocopat dan Perkembangannya




oleh Lilik Rosida Irmawati

Pelantuman tembang Mocopat biasanya diadakan oleh masyarakat pecinta seni tradisional di pedesaan. Pementasan ini biasanya diadakan ketika sedang melaksanakan hajatan, misal ; selamatan kandungan (pelet kandung), Mamapar (potong gigi), sunatan, ritual rokat (ruwatan anak), pesta perkawinan dan ketika memperingati hari-hari besar Islam. Durasi pembacaan Macopat pun beragam, dari durasi pendek sekitar satu jam sampai durasi panjang selama semalam suntuk. Acara ini biasanya dilaksanakan pada malam hari.

Adapun cerita yang dibawakan, tergantung dan disesuaikan  kepada situasi dan kondisi pelaksanaan hajatan. Terkadang setiap tembang dinyanyikan secara terpisah, terkadang pula mengambil variasi dari berbagai tembang. Untuk permainan semalam suntuk, dinyanyikan bermacam tembang, dari masing-masing tembang dipilih dan disesuaikan dengan cerita yang dibawakan. Biasanya untuk acara ritual rokat (ruwatan anak) menyajikan cerita Pandawa atau Betarakala, untuk Mamapar (potong gigi) dibacakan cerita Maljuna, cerita Nabbi Yusuf dibacakan pada acara selamatan kandungan (pelet kandung). Sedangkan cerita Nabi Muhammad, dibacakan ketika memperingati hari-hari besar Islam.

Baca juga:
Makna yang Terkandung Dalam Tembang Macapat (1)
Makna yang Terkandung Dalam Tembang Macapat (2)
Makna yang Terkandung Dalam Tembang Macapat (3)
Tembang Macapat, Media Pujian Kepada Tuhan


Ada pun lagu/ laras yang ada dalam tembang ada dua, yakni laras Pelog dan laras Slendro. Ada beberapa tembang yang dibacakan tanpa alat musik, misalnya dalam acara rokat pandabha atau Careta Nabbi, namun ada pula yang menggunakan musik pengiring. Musik pengiring dalam pembacaan Macopat menggunakan seruling ataupun iringan seperangkat gending. Tiupan musik tunggal atau pun alunan gending tersebut ternyata mampu membawa suasana lebih hidup. Disela-sela pembacaan Mocopat yang mendayu-dayu, memiriskan serta merawankan perasaan, liukan-liukan seruling maupun alunan gending membawa suasana hati lebih menyatu dengan tembang-tembang yang dinyanyikan. Komposisi yang sangat harmonis tersebut, mampu menghanyutkan perasaan sekaligus mempermudah memahami serta memaknai isi dari tembang-tembang yang dibacakan.

Sampai saat ini tembang Macopat masih mampu bertahan dan tetap digandrungi oleh masyarakat, terutama yang berdomisili di pedesaan.  Kegiatan pelantuman Macopat dipentaskan sebagai ritual yang tak terpisahkan ketika memperingati berbagai peristiwa yang berhubungan dengan prosesi kehidupan manusia. Dimulai ketika manusia masih dalam kandungan, masa kanak-kanak, memasuki masa akil balig dan ketika memasuki alam dewasa, bersatu dalam mahligai perkawinan.



POSTING PILIHAN

Related

Kearifan Lokal 7329926345171441811

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item