Sajak Maftuhah Jakfar; Aroma Tanah Annuqayah

Maftuhah Jakfar. Lahir di Batuputih, Sumenep, Madura, 15 Desember 1975.  Alumnus Pondok Pesantren An Nuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Alumni IIQ (Institut Ilmu Al Qur’an), Jakarta dan alumni UMJ (Universitas Muhammadiyah  Jakarta).

Sanggar Az-Zalzalah di An Nuqayah masih eksis hingga kini yang dulu pernah dirintisnya.  Kumpulan puisi tunggalnya, Lubuk Laut, diterbitkan pada tahun 1995.  Puisi-puisinya dipublikasikan pada beberapa media lokal dan nasional. Juga dalam sejumlah antologi bersama, seperti Malam Seribu Bulan (1993), Tetesan Nurani (1994), Tanah Kelahiran (1994) dan Nuansa  iam (1995), Surat Putih (2001), Maha Duka Aceh (2005), Sajadah Kata (2011),  dan buku kumpulan esai JilbabPertamaku (2011), Perempuan Laut (2016)
Saat ini aktif mengelola Rumah Baca Melati (perpustakaan, sanggar dan bimbel).


Aroma Tanah Annuqayah

Seribu rindu
selaksa doa
Berkelindan di hatiku
Aroma tanah Annuqayah
Berjejalan di mataku

Aroma tanah waktu
Bersemi bunga-bunga rindu
Sulur-sulur bunga salak mengerling syahdu
Denyar-denyar wahyu di matamu menjadi cahaya di catatan harianku
Cahaya berwarna biru

2018

Aroma Tanah Annuqayah (2)

Petikan kata dari serunai senja
Melintas di atas pagar pembatas warna
Langit kemilau
Ketika tiba sepucuk surat diantara lipatan buku
Berisi ayat-ayat waktu, ayat-ayat sendu
Ketika tiba selembar subuh membawa azan di atas sajadahku
Ketika tiba shalat sunah fajar membawa semilir doa di tasbihku
Ketika tiba doa berwarna jingga membawa seberkas cinta di sudut mataku
Ada geriap cahaya
Diselingi geriap air mata
Ada sebuah lesung pipit berwarna merah saga
Ada sebuah warna yang tertinggal dan takkan hilang ditelan masa

Meskipun
Dinding itu terlalu tebal
Dinding itu terlalu tinggi
Dinding itu terlalu sunyi
Siapa bisa menerjemahkan rahasia takdir
Yang datang bersama angin
Pada setiap senja di minggu-minggu yang dingin
Tapi batang-batang jagung masih melambaikan gairahnya hingga kini
Sulur daun dan buahnya masih ranum hingga kini
Akar-akarnya masih mencengkeram dalam di tanah Annuqayah kami
Tak ada yang berubah
Kaupun masih sama
Masih kau yg dulu juga
Tanahku beraroma rindu

 2018

Aroma Tanah Annuqayah (3)

Denting  bunga kamboja
Hinggap di atas nisan berlumut doa
Ada yang melesat dari cakrawala
Serupa 'gandhuru' berbisik di selipan cuaca
Ini tanahku, ini tanahku
Ini tanahmu, ini tanahmu
Ini leluhurku, ini leluhurku
Ini leluhurmu, ini leluhurmu
Ini buah cintaku, ini buah cintaku
Ini buah cintamu, ini buah cintamu
Dekaplah.. Dekaplah..
Tangannya menggapai tapi tak sampai
Tanganmu menggapai, tapi tak sampai
Tanganku, tanganmu, tangannya, bersatulah
Annuqayah masih basah
Sebasah mata air yang akan terus mengalir
Pada ruas darah dan ruas nadi sejarah
Sebasah air mata yang bening menderas
Diantara pandan dan wangi dupa

Selembar Yasin, bacalah
Selembar tahlil, resapilah

2018


Aroma Tanah Annuqayah (4)

Kemuning rerumputan
Bertebaran di halaman musim kemarau
Kau datang padaku
Kau datang padaku
Saat senja temaram di buku harianku
di bawah langit berwarna biru

Daun jambu berwarna ungu
Berderai di alismu
Berderai di alismu
Setangkup salju berdiam di pekat pasir ditiup angin yang meranggas sepanjang jalan setapak itu
Angin menyibak kelambu di kamarku, di kamarmu
Tak ada yang tahu
Bunga perdu yang bersemi di balik kelas itu
Bunga perdu berwarna putih ungu
Bunga perdu yang kau selipkan di antara halaman buku
Lalu kau kirim lewat hembusan doamu
malam itu
Aku menciuminya serupa hajar aswad di hadapanku
Aku bersujud seperti kaktus di hadapan multazam
Kaku beku mengalir biji air mata sepanjang waktu membanjiri pelataran    ka'bah

Bunga perdu, daun jambu
Kau tahu, masih juga berwarna ungu
Seungu doa di kedua tangan kita
Doa abadi, doa sunyi

2018

Aroma Tanah Annuqayah (5)

Ruku' sujud kita adalah tanah air mata
Rujuk' sujud kita adalah puncak ma'rifat doa
Di lekukan warna-warna
Di tikungan rupa-rupa
Di tanjakan segala lupa manusia
Di turunan segala nestapa
Pada dinding doa saja
Segala air mata bermuara

Sujud dan ruku' kita
Mengalir di udara

2018

Aroma Tanah Annuqayah (6)

Batu-batu pecah di pelukan
Merasuk sukma dalam kenangan
Geliat nafas 'Bukit Lancaran'
Mendaki, berlari
menuju bukit semedi
Tempat puisi menemukan cemeti
Azimat para kyai
Mengalun di tempat paling sembunyi
Angin membawa aroma melati
Derai-derai daun 'maronggi'
Kuhitung selembar-selembar di atas perigi
Adakah yang lebih mesra dari semilir angin di dasar hati
Adakah yang lebih wahyu dari genangan mata air semedi
Mengalir dari perigi
Tumpah di ubun-ubun puisi

2018

Note:
Bukit Lancaran= Sebuah bukit kecil di sekitaran pondok pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura.


Aroma Tanah Annuqayah (7)

Ladang tembakau
Alirkan cinta dan harapan
Darah dan tulangku berkelindan pada urat-urat daun tembakau
Aroma nafasku campur kemarau

Pada timba daun siwalan
Bahu-bahu kami bercengkraman
Pagi dan malam
Walau rusuk kami patah sembilan
Kami tetap junjung sejuta impian
Doa-doa disusun berarakan
Mimpi-mimpi diusung ke tepian

Pada jiwa ladang tembakau kami
Sejumput ayat-ayat tuhan dibacakan
Setangkup surat-surat tuhan disematkan
Diantara batang tembakau dan bunganya yang putih kehijauan

2018



Tulisan Terkait

Puisi Pilihan 3308304337466571890

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item