Kampanye Kasih Sayang

D. Zawawi Imron

Ilustrasi: Lukisan D Zawawi Imron
Sehabis nonton televisi, dengan berita hiruk pikuknya kampanye di seluruh penjuru tanah air, saya duduk-duduk di beranda sambil sambil merenungkan janji-janji para jurkam. Ucapan mereka manis-manis, seperti seorang tua yang bijak menjanjikan masa depan gemilang kepada rakyat. Dalam hati saya bermohon, semoga rakyat mengerti akan ucapan-ucapan para jurkam itu. Maksud saya, kalau jurkam itu bersungguh untuk memenuhi janjinya, semoga rakyat dapat menangkap kesungguhannya, kemudian mencoblos partai yang ditawarkannya.Tetapi kalau janji itu gombal, semoga rakyat mengerti kebohongannya. Bukankah lidah tidak bertulang?  Repotnya, rakyat yang lugu akan sulit membedakan janji yang sungguh dan janji yang gombal.


Saat saya merenung di beranda tentang nasib bangsa ini, tiba-tiba datang seorang nenek minta sedekah. Dari wajah dan posturnya, saya yakin ia bukan pengemis tetap yang sehari-hari memang peminta-minta. Tampaknya ia pengemis musiman yang terpaksa mengemis karena kurang makan.

Dan betul, setelah saya tanyakan, ternyata ia mengaku bahwa di kampungnya sedang terjadi paceklik. Katanya, “Saya terpaksa mengemis begini karena tidak tahu cara lain untuk mendapatkan makan.”

Istri saya menyuguhinya makan. Perempuan itu wajahnya berbinar melihat nasi dengan lauknya. Seperti ada sinar sorga membersit pada senyum dan keceriaan wajahnya. Saat ia makan, saya merasakan hakikat kemanusiaan yang tersimpan pada tubuhnya yang kurus. Ia punya rasa lapar sebagaimana saya juga merasa lapar. Tetapi, saat ia merasa lapar, apakah sengatan laparnya dapat mengetuk bagian terdalam dari lubuk sanubari saya ?

Dari sinilah saya mempertanyakan, dalam diri saya masih adakah rasa kasih sayang atau tidak ? Jika tidak, sebagai makhluk yang hadir ke dunia dalam bentuk manusia, tidak ada nilai yang berharga dalam hidup saya. Berarti hidup saya siap untuk sia-sia, tanpa kedalaman makna.

Setelah makanan di piring itu dihabiskan, ia pamit dengan ucapan terima kasih yang mendalam. Ia lalu melangkah meninggalkan halaman rumah saya. Saya perhatikan langkahnya, tubuhnya, bajunya yang lusuh, dan lebih dari itu, derita yang kini menindih hatinya. Dalam hati saya berpikir, berapa jumlah orang merana seperti dia di negeri zamrud katulistiwa ini ? Ditambah lagi jumlah pengangguran yang kebingungan tidak tahu harus berbuat apa.

Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah minta untuk dilahirkan ke dunia ini. Tapi setelah datang ke tengah-tengah arena kehidupan, hanya untuk bersentuhan dengan lapar dan kemiskinan. Saya yakin, bahwa kemiskinan dan kemelaratan itu bukan sesuatu yang mereka inginkan, dan mereka tidak sengaja merengkuhnya. Mereka memang berhak dan bebas untuk berusaha untuk hidup layak, tapi mereka selalu kalah bersaing melawan orang-orang yang lebih gagah dan lebih dahulu beruntung.

Salah satu harapan untuk memberi kesejahteraan mereka, ialah rasa kemanusiaan, kebersamaan dan altruisme yang dikembangkan menjadi tanggung jawab sosial dari seluruh bangsa kita. Sejenis kepekaan dan kecerdasan untuk sejahtera bersama. Dari tanggung jawab itu kepedulian dan keadilan tidak sekedar menjadi jargon semata-mata. Kata-kata manis yang terlanjur menjadi jargon, tanpa substansi, dan tak bisa berujud menjadi kenyataan, bisa menjadi sejenis tong kosong yang nyaring bunyinya.

Kata-kata hebat yang diucapkan di arena kampanye, adalah janji-janji manis yang akan dicatat dalam hati rakyat. Rakyat pasti menyambut janji-janji itu dengan gembira. Semoga janji itu bukan “tinggi langit seribu gombal.” Tapi benar-benar janji kesatria sejati yang satu saat akan ditunai dan dipenuhi. Sebagai rakyat kami yakin, kampanye bukan ajang untuk menggombali rakyat.

Untuk itu, sehabis kampanye pemilu, kita perlu mengkampanyekan “kasih sayang” terus menerus, sampai kemiskinan lenyap dan keserakahan pergi dari bumi pertiwi. Siapakah yang siap berkampanye untuk itu ?

Tulisan Terkait

Esai 4412300475513480178

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan RULIS

terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item