Peran Guru Dalam Pembelajaran Membaca Puisi

Olah vokal, olah tubuh, dan olah rasa, merupakan bentuk latihan yang mendukung satu sama lainnya, dan tidak dapat dipisahkan dalam pelaksanaannya. Dengan adanya kedisiplinan dalam melakukan latihan olah tubuh maka dengan dengan sendirinya seluruh organ tubuh yang berkaitan dengan rongga udara pada pernapasan akan pembentukan volume suara. Setiap perubahan yang terjadi pada saat pergerakan tubuh, maka akan terjadi perubahan penekanan suara dapat terjadi apabila tubuh bergerak.

Setiap perubahan gerak memiliki unsur pendukung yang berbeda, sehingga pada bagian-bagian tertentu olah rasa dapat dimasukkan pada setiap saat sebagai penunjang gerak yang memiliki kekuatan dari dalam tubuh. Pada dasarnya setiap gerakan yang dilakukan memiliki irama tersendiri. Dan irama itulah yang membantu melahirkan suatu bentuk keindahan dalam gerak.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, latihan olah tubuh dan olah rasa memiliki peranan penting dalam latihan olah vokal. Melalui latihan olah vokal kita dapat menghasilkan ucapan kosakata yang baik, yaitu meliputi artikulasi, tekanan, dan intonasi. Di samping itu dengan melakukan olah tubuh dan olah rasa secara rutin, dapat menimbulkan keberanian dan kesiapan mental yang diperlukan ketika membaca sebuah puisi. Adapun langkah-langkah pelatihan dasar teater dalam pembelajaran membaca puisi adalah sebagai berikut.

1.    Pemanasan / Olah Tubuh

Latihan pemanasan diperlukan untuk membuat kondisi tubuh yang lelah menjadi bugar. Senam pemanasan ini bisa dimulai dengan:
  1. gerakkan kepala; menoleh kanan kiri, atas bawah, dan berputar. Gerakan dilakukan dengan perlahan-lahan untuk menghindari cedera. 4×8 hitungan;
  2. gerakan tangan: membentuk huruf S, lengan dibuka dan ditutup, lengan diputar ke depan belakang. 4×8 hitungan;
  3. gerakan kaki; diangkat ke depan, ke kanan, ke kiri, dll. bergantian dari kaki kanan dan kiri;
  4. membentuk lingkaran, searah jarum jam berlari-lari kecil, berjalan, berlari-lari kecil, mengendap-ngendap, berlari-lari kecil, gerakan berenang, berjalan, berlari dengan gerakan lambat (slow motion). Perubahan gerakan dikomando guru;
  5. melenturkan otot muka: gerakan seperti mengunyah, menjelek-jelekkan muka, muka seolah-olah ditarik ke depan, ke samping, ke atas, ke bawah dengan mengikuti gerakan tangan; dan
  6. siswa membacakan puisi tanpa bersuara dengan gerakan artikulasi yang sesuai;


2.    Olah vokal

Latihan olah vokal dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut.
  • Siswa menyebutkan judul puisi dengan volume suara bergradasi dari berbisik sampai berteriak.
  • Siswa menyebutkan judul puisi dengan dengan artikulasi yang tepat.
  • Siswa menyebutkan larik puisi dengan tempo bergradasi dari lambat ke cepat.
  • Imajinasi (Penghayatan)
 Latihan imajinasi (penghayatan) dapat dilakukan dengan latihan sebagai berikut.
  1. Mengajak siswa berkonsentrasi pada area kepala dengan fokus mata. Mata memiliki potensi untuk melirik, melotot, terpejam, dll. Siswa diajak berimajinasi tentang apa yang terjadi di dalam puisi yang telah dipilih. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan bola mata yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi.
  2. Setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk berkonsentrasi pada mulut. Sama dengan mata, mulut juga memiliki potensi untuk bisa maksimal. Mulut bisa untuk melongo, menguap, tertutup, dan lain-lain. Siswa diajak berimajinasi tentang apa yang terjadi di dalam puisi yang telah dipilih. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan bibir yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Bibir memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
  3. Setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk memadukannya dengan gerak wajah (mimik). Siswa diminta berkonsentrasi pada bentuk mimik. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana bentuk mimik yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Mimik memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
  4. Setelah dirasa cukup, siswa diajak untuk memadukannya dengan gerak kepala. Siswa diminta berkonsentrasi pada gerakan kepala. Siswa diminta agar berimajinasi terhadap puisi tersebut. Bagaimana gerakan kepala yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Kepala memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
  5. Siswa kembali diminta untuk berkonsentrasi pada bagian tengah dari tubuh, khususnya bagian atas punggung. Bagaimana gerakan punggung yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Punggung memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik
  6. Siswa diajak berkonsentrasi dan berimajinasi pada bagian tangan. Siswa diminta untuk tetap berimajinasi pada puisi yang telah dipilih. Bagaimana gerakan punggung yang maksimal dalam berekspresi nanti ketika membaca puisi. Tangan memiliki potensi yang maksimal jika diolah dengan baik.
  7. Setelah melakukan teknik latihan di atas, semua siswa diminta untuk membacakan puisi di depan siswa yang lain. Pertama-tama siswa membaca puisi di belakang layar, sehingga yang terdengar hanya suaranya saja. Hal ini untuk memberikan keleluasaan kepada siswa untuk berekspresi tanpa dihalangi oleh rasa malu. Pada tahap selanjutnnya siswa membaca puisi langsung di hadapan siswa yang lain. Hal ini bisa dilakukan setelah rasa percaya diri siswa terbangun (Ridwanuddin: 2010).
 Tulisan bersambung
  1. Inilah Teknik Membaca Puisi
  2. Membaca Puisi sebagai ApresiasiPuisi
  3. Bentuk dan Gaya dalam MembacaPuisi
  4. Tahapan Membaca Puisi
  5. Membaca dengan Pendekatan Teater
  6. Olah Tubuh atau Latihan Tubuhuntuk Baca Puisi
  7. Peran Guru Dalam Pembelajaran Membaca Puisi

Peran Guru Pelatihan Dasar Teater dalam Pembelajaran Membaca Puisi
Pada saat pembelajaran konvensional para guru biasanya banyak menghabiskan waktunya untuk berbicara (ceramah) dan kurang memberikan metode yang tepat pada siswa dalam pembelajaran membaca puisi. Seringkali guru langsung menyuruh siswa untuk membacakan sebuah puisi tanpa memberikan contoh pembacaan puisi yang baik dan benar. Hal tersebut tentunya membuat siswa merasa bingung dan tidak tahu bagaimana cara membacakan puisi dengan baik dan benar, sehingga membuat siswa merasa enggan dan tidak menyukai pembelajaran sastra khususnya pembacaan puisi. Guru seharusnya tidak mendominasi proses belajar-mengajar,dan tidak hanya sekedar menyuruh siswa dalam setiap kegiatan pembelajaran.Akan tetapi, guru diharapkan dapat memberikan contoh dan metode yang tepat dalam pembelajaran.

Untuk dapat mengaktifkan siswa dalam proses belajar-mengajar di kelas, guru perlu membina siswa. Oleh karena itu, ada beberapa tugas yang harus diperhatikan oleh seorang guru. Menurut Dipojojo (1994: 6-7), tugas guru antara lain: (a) membangkitkan keberanian kepada mereka untuk berbicara, (b) melatih bagaimana cara yang benar untuk menghasilkan bunyi-bunyi bahasa, (c) melatih dan membiasakan menyusun kerangka pikiran yang teratur, (d) memilih dan menentukan komponen-komponen apa yang dapat menambah hidupnya bahan

yang dibicarakan, (e) memperhatikan hambatan-hambatan yang akan mengganggu pembicaraan serta bagaimana mengatasi hambatan itu, (f) memberi banyak kesempatan untuk melatih diri, berlatih, dan seterusnya.

Berdasarkan peran-peran tersebut diatas, diharapkan guru dapat mengurangi peran dominannya di kelas. Guru hanya mengambil bagian sebagai instruktur, komunikator, dan fasilitator. Apabila hal diatas tidak atau belum dapat dilaksanakan dalam proses belajar-mengajar dikelas, maka pihak sekolah diharapkan dapat memberi strategi dalam meningkatkan kemampuan siswa. Strategi tersebut dapat berupa pelatihan dasar teater untuk melakukan pembelajaran kompotensi membaca puisi pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

Pelatihan dasar Teater di harapkan dapat memecahkan masalah siswa dalam belajar membaca puisi karena di dalamnya siswa dilatih untuk menggunakan alat ucapnya, tubuhnya, konsentrasinya dan keberaniannya hingga kemampuan untuk membacakan puisi dengan baik bukan hal yang terlalu sulit bagi siswa untuk melatihnya.

Dihimpun dari beberapa sumber

Tulisan Terkait

Gupen 6478672884227012671

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item