Operasi Bisu


Cerpen: Syaf Anton Wr

Pada jam yang telah ditentapkan, warga se kampung serentak melakukan gerakan tutup mulut. Dari anak-anak sampai kakek nenek; tak sepatah katapun keluar  datri mulut mereka, kecuali desah nafas yang menekan udara dari rongga perut dan mendesak-desak kelubang tenggorokan dan hidung. Telinga dan mulut  mereka praktis tidak difungsikan. Semuanya serba bisu dan sepi.

Operasi bisu berjalan serentak, bahkan tampa hitungan detik begitu cepatnya menyebar ke seluruh sudut-sudut kampung. Barangkali kampung ini akan mati, bila tidak terlintas oleh desau angin dan kicau burung  yang menghibur suasana. Tapi apalah arti desau angin dan kicau burung bila dibanding kegalauan dan kegelisahan masyarakat yang kini sedang  diikat dirinya oleh kenyataan pahit yang menggetir. Karena, bagi mereka, kebisuan mempunyai makna dan nilai dalam keterbatasan mereka.

Meski suasana beku, namun  dibalik kebisuan itu komunikasi tanpa suara tetap saja berlanjut. Gerakan kepala, tangan, bahu dan sekujur tubuh lainnya justru lebih tajam menembus naluri. Bahasa isarat tampaknya mampu membuka pikiran-pikiran baru, dibading kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut yang justru membuka peluang  eksploitasi makna kata dan bahasanya. Bahasa tubuh, menurut mereka mampu menembus kepekaan naluri, bahkan tidak mempunyai resiko dalam menterjemahkannya.

“Dalam  situasi tertentu, suara akhirnya tidak penting lagi. Sebab suara tetap saja mempunyai interpretasi ganda bagi yang mendengarkan”, ujar salah seorang warga ketika berdialog dengan warga yang lain dalam batin melalui isarat tubuh.

“Pada akhirnya suara hanya sebagai alat untuk mediskreditkan persoalan yang justru memunculkan  persoalan baru”, timpalnya, yang tentu juga tanpa suara.

“Suara sekedar dijadikan alat, yang hanya menawarkan mimpi-mimpi pesimisme  dan keputus-asaan”, sambungnya.

“Kenyataannya  suara-suara yang  ada  telah menjelma jadi bah, celakanya bah itu melahap  nurani manusia, yang sebelumnya menjadi bagian dari  kekuatan organ-orang kehidupan yang ada. Bagaimana suara bisa bermakna, bila setiap suara diganjal oleh suatu kepentingan mulut dan perut”’

“Di negeri ini suara kentutpun konon katanya bisa menjadi hukum, sedang suara mulut tak lebih dari decak kagum ketika mata melotot menikmati angka-angka yang tak ternilai. Jadi mulut hanya berfungsi sebagai jalan lewat benda-benda yang akhirnya membusuk”

Perbincangan semacam ini begitu liar mengalir dari hati mereka. Seperti alir air yang menerobos celah-celah batu, tanpa resiko bagi penikmatnya. Meyakini suara, sama artinya meyakini propaganda para juru kampanye politik yang tak henti-henti menyatakan “suara rakyat”. Sementara suara rakyat yang hakiki telah  dibelah dua, antara pembodohan dan kepentingan sepihak.

Entah apa dan bagaimana asal muasalnya hingga mereka melakukan tindakan itu. Tragisnya  suara apapun yang melintas dianggapnya tindakan yang menyalahi aturan. Suara-suara dari televisi, radio, bahkan suara-suara benda yang terjatuh merupakan aib dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

“Sebelum suara kita dirampas, kita sembunyikan dan kita amankan dalam jiwa. Dalam kondisi seperti ini, suara mudah digadaikan dan bahkan diperjual belikan. Untuk itu saudara-saudara mari  kita lebih berhati-hati memaknai suara. Pengalaman telah menunjukkan, karena suara, negeri ini makin tertindih dan ditindih, akibatnya nafas kita jadi sesak. Kita tidak mungkin selamanya bernasib seperti  itu. Toh, tanpa suara kita masih bisa hidup dengan tenang dan tentram. Sebab yang menjadi bagian  paling penting dari kehidupan kita hanyalah selama kita mampu menguasai suara kita”,

Demikian pidato seseorang yang dituakan di kampung itu. Meski kalimat-kalimatnya kerap menekan, namun sebenarnya bisa disuarakan  melalui mulut justru menimbulkan keindahan luar biasa. Demikian  pula masyarakat yang berkumpul di tengah ladang, dengan sejuk hati mereka menerima seadanya. Mereka tahu dan memahami, bahwa kalimat-kalimat tanpa suara terasa lebih jelas dan tegas ketika mengendam dalam hati.

Dalam kebisuan ini menyimpulkan suatu keyakinan, bahwa diam lebih berarti dari pada bersuara. Dengan sauara mereka terasa makin tersiksa, sebab tanpa suara mereka tidak perlu mengajukan pertanyataan-pernyatan konyol, yang kerap membakar suara itu menjadi manusia hilang akal, hilang kesadarannya akan tuntutan-tuntutan dan tanggung jawabnya.

Ada beberapa kesan yang cukup menarik dari perbincangan mereka. Konon, dengan gerakan operasi bisu semacam itu, diharapkan nantinya akan terbangun dunia baru; dunia entah  namanya; dunia yang tidak lagi dihingar bingarkan oleh suara-suara yang tidak jelas juntrungnya.

Konyolnya lagi, katanya, dunia mereka telah dirasuki mahluk ruang angkasa yang dengan kemampuannya mencipta konflik melalui suara-suara yang ada didalam diri manusia, padahal, katanya pula, suara yang dicipta oleh Yang Maha Kuasa agar dimanfaatkan sebagai tindak hubungan naluri persatuan antar mahluk ciptaan Tuhan, sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi Sulaiman.

“Tapi kenyataannya manusia telah menyalahgunakannya. Suara dieksploitasi sebagai alat propaganda untuk memancing perseteruan, sehingga mahluk ruang angkasa demikian mudahnya menyusup dan merasuk dalam manusia”, ungkap tokoh tadi masih dalam khutnahnya tanpa suara.

“Itu memang benar”, sambung salah seorang yang juga sebagai tokoh penggerak operasi bisu itu  kepada salah seorang yang dukuk disebelahnya dalam jamaah tersebut. “Mahluk luar angkasa  dengan menyerupai kita telah datang di sekitar kita. Namun secara fisik kita tidak mengenali”

“Apakah ini tidak berarti suatu kegilaan?”, tanya teman lainnya, yang sebenarnya menolak gagasan gerakan operasi bisu dengan menguatkan mulutnya mengulum suaranya sendiri.

“Proses kehidupan kita cukup panjang. Dan proses itu akan selalu berputar dengan siklusnya. Tapi kita kadang terlalu tergesa-gesa membuka suara, akibatnya suara jadi berbalik mendera diri kita. Itulah  kenyataan sebagai bukti pada jaman sekarang ini”, urainya.

“Apakah kamu tidak melihat, berapa suara yang diteriakkan oleh para pemimpin kita, LSM-LSM, mahasiswa dan  orang-orang yang ditokohkan  sebagai pemuka agama, toh kalimat mereka  hanya melingkar-lingkar di tempat, selebihnya mereka menarik keuntungan dari suara itu”, sambungnya.

Dogma-dogma itu demikian tegas menjadi hukum. Karena telah menjadi hukum, maka tak sorangpun warga berani menolaknya. Akhirnya konsepsi itu makin melekat dibenak warga kampung, karena siapa yang menentangnya akan dicap sebagai ekstremis dan disingkirkan dari komunitas mereka.

Meski mereka tidak bermaksud mempengaruhi kampung-kampung sebelahnya, tapi lantaran kabar ini menyebar secara luas, pada akhirnya menyentuh juga kampung-kampung yang  lain. Rasa toleransi, senasib dan sepenanggungan melahirkan respon kuat dan bahkan menyerupai getaran dahsat yang diledakkan oleh warga kampung itu. mereka berkeyakinan, hulu ledak yang ditumpahkan bukan berarti  melalui gerakan operasi bisu karena rasa simpati semata, namun kenyataannya  memang suatu kenyataan yang tak mungkin ditolak, bahkan mereka berkeyakinan sebenarnya kekuasaan suara telah tersumbat  oleh kekuatan lainnya. Akibatnya suara jadi nyaring dan tidak berarturan.

Bahkan mereka berkeyakinan, seandainya operasi bisu itu  disebarkan dan diberlakukan ke seluruh penjuru negeri ini, barangkali dapat diumpamakan seperti pekuburan yang tidak lagi berpenghuni mayat-mayat. Karena suara-suara mereka telah dikubur demikian rapinya, sehingga tak seorang mayatpun ingat bagaimana suara mereka yang sebenarnya.

Persoalannya sekarang. sampai kapan mereka mampu bertahan membunuh suara dari  mulut  mereka?

Surabaya Post, 1986

* * * * *

 










Tulisan Terkait

Utama 660808456253211285

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item