Membaca dengan Pendekatan Teater


Perkembangan teater (drama) di Indonesia akhir-akhir ini begitu pesat. Hal ini di lihat dari banyaknya pertunjukan drama di televisi, drama radio, drama kaset, dan juga drama pentas. Organisasi remaja, baik di sekolah, universitas, karang taruna, maupun gelanggang remaja mempunyai unit dan bidang teater. Dalam acara-acara dan kegiatan kesenian belum afdol kiranya tanpa pertunjukan drama. Demam drama sudah begitu meluas, sehingga jika televisi menyajikan drama, masyarakat pasti antusias menyaksikannya.

Dalam bahasa Jawa, drama sering disebut sandiwara. Kata sandi artinya rahasia, wara (h) berarti ajaran. Sandiwara berarti drama yang memuat ajaran samar tentang hidup. Sandiwara dan drama mempunyai kesamaan, yakni adanya muatan kisah yang bercirikan dialog. Selain sandiwara dan drama, ada lagi yang disebut teater Wiyanto (2002: 2) dan Soemanto (2001: 9) dan Padmodarmaya (1988: 21) dalam Endraswara (2011: 12) mencoba merunut etimologi teater dari bahasa Yunani theatron, bahasa Inggris theater, yang berarti pertunjukan atau dunia sandiwara yang spektakuler. Jadi teater adalah sebuah pertunjukan drama yang menarik, biasanya di panggung.

Drama menurut Endraswara (2011: 16) merupakan karya sastra dialogis. Karya ini tidak turun begitu saja dari langit. Drama hadir atas dasar imajinasi terhadap hidup kita. Keserakahan sering menjadi momentum penting dalam drama. Inti drama, tidak lepas dari tafsir kehidupan. Bahkan apabila dinyatakan, drama sebagai tiruan (mimetik) terhadap kehidupan juga tidak keliru.Teater atau drama menurut Waluyo (2002: 1) merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Melihat drama, penonton seolah-olah melihat kejadian dalam masyarakat. Kadang-kadang sama dengan konflik batin mereka sendiri. Dengan kata lain, drama adalah potret kehidupan manusia, potret suka duka, pahit manis, hitam putih kehidupan.

Teater merupakan suatu fungsi dari hasil seni dari kehidupan seseorang yang jelas pertumbuhannya, terutama seni pertunjukan erat sekali hubungan dengan emansipasi manusia itu sendiri. Ia muncul bersama dengan pergeseran nilai-nilai kehidupan. Pertumbuhan tersebut didahului oleh pergeseran di bidang kemasyarakatannya. Dia tumbuh dan berkembang sesuai dengan retorika (Harymawan , 1998:5).

Dari beberapa pengertian teater dapat disimpulkan bahwa teater terjadi dikarenakan adanya paduan yang melahirkan atau menghasilkan beberapa elemen, diantaranya oleh tubuh, dan olah vokal, dan olah rasa yang disatukan menjadi sebuah pertunjukan atau pentas. Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pementasan teater atau drama diperlukan proses latihan. Pendekatan dalam teater meliputi latihan olah vokal, olah tubuh, dan olah rasa. Ketiga bentuk latihan memiliki peran yang sama besarnya di dalam teater. Seperti yang diuraikan di atas, bahwa tanpa melakukan latihan olah tubuh seorang aktor tidak akan memiliki stamina yang cukup, serta gestur-gestur yang diperlukan dalam teater. Di samping itu, dengan latihan olah rasa atau olah sukma (konsentrasi danrelaksasi) dan latihan olah vokal seorang aktor alam teater dengan mudah membawakan karakter yang dibutuhkan teks atau naskah drama.


 Tulisan bersambung
  1. Inilah Teknik Membaca Puisi
  2. Membaca Puisi sebagai ApresiasiPuisi
  3. Bentuk dan Gaya dalam MembacaPuisi
  4. Tahapan Membaca Puisi
  5. Membaca dengan Pendekatan Teater
  6. Olah Tubuh atau Latihan Tubuhuntuk Baca Puisi
  7. Peran Guru Dalam Pembelajaran Membaca Puisi

Olah Vokal
Latihan suara dapat diartikan latihan mengucapkan suara secara jelas dan nyaring (vokal), dapat juga berarti latihan penjiwaan suara (Endraswara, 2011: 65). Warna suara bagaimana yang tepat, harus disesuaikan dengan watak peran, umur peran, dan keadaan sosial peran itu. Aktor tidak dibenarkan mengubah warna suara tanpa alasan. Nada suara diatur, agar membantu membedakan peran yang satu dengan yang lainnya.

Menurut Waluyo (2002: 117), olah vokal atau latihan suara dapat diartikan latihan mengucapkan suara dengan jelas dan nyaring, dapat juga berarti latihan penjiwaan suara. Warna suara bagaimana yang tepat, harus di sesuaikan dengan watak peran, umur peran, dan keadaan peran sosial itu. Nada suara juga harus diatur, agar membantu membedakan pera yang satu denga peran yang lain.

Secara lebih detail, aksen orang-orang yang berasal dari daerah tertentu, perlu juga di wujudkan dalam latian suara ini. Yang harus mendapatkan perhatian seksama, adalah suara itu hendaklah jelas, nyaring, mudah di tangkap, komunikatif, dan diucapkan sesuai daerah artikulasinya. Suara sebagai salah satu media pengungkapan ekspresi pemeran. Dalam hal ini media penyampai informasi melalui dialog. Informasi mencakup tentang cerita, kejadian, watak, peran, sikap emosi peran, kondisi serta usia peran, dan lain-lain, hendaknyatersampaikan secara jelas melalui ketrampilan pemeran dalam melontarkan dialog. (Wibisono, 1999: 3)

Selanjutnya Wibisono mengemukakan, bahwa olah vokal merupakan salah satu teknik produksi suara yang berhubungan erat dengan pengolahan alat-alat produksi suara dan pembentukan suara. Hal ini mencakup pernapasan, fonasi, gema suara, resonasi, pengucapan (artikulasi), dan proyeksi.Kegiatan bernapas sebenarnya merupakan kegiatan hidup yang berlaku terus-menerus. Dalam melakukan pernapasan seseorang wajib menguasai dan memanfaatkan pernapasan sebaik-baiknya. Olah vokal memiliki beberapa teknik, yaitu sebagai berikut.

a)    Pernapasan Dada
Melakukan pernapasan dada akan terjadi perubahan dalam dada, sehingga ketika rongga dada dibusungkan, bahu serta bagian leher pasti akan sedikit menegang akibat suara yang keluar sedikit kurang bebas. Teknik ini akan menguras banyak tenaga, di samping itu juga akan menggangu penampilan, kualitas suara pun kurang dan paru-paru menanggung beban berat. Hal tersebut akan menghasilkan efek samping yaitu merasa gatal-gatal di tenggorokan dan di susul kemudian dengan penampilan suara yang serak parau.

b)    Pernapasan Perut
Ciri-ciri pernapasan perut adalah perut akan mengembang di saat nafas dihisap dan kemudian mengempis kembali saat nafas dikembangkan. Pernafasan ini memang tidak menimbulkan keteganan-ketegangan pada alat pernapasan maupun peralatan suara. Tetapi pernafasan ini kurang mempunyai daya untuk mendukung pembentukan volume suara.

c)    Pernafasan Diaphragma
Otot-otot diaphragma akan berkembang dan memegang ketika kita menghisap nafas, hanya bagian inilah yang tegang. Kemudian otot-otot samping bagian punggung pun ikut pula mengembang lalu mengempis saat nafas dihembuskan kembali. Kedudukan diaphragma adalah diantara rongga dada dan rongga perut. Pernapasan diaphragma yang paling menguntungkan dalam berolah vokal, sebab tidak mengakibatkan ketegangan pada peralatan prnapasan dan peralatan produksi suara serta mempunyai cukup daya untuk pembentekuan volume suara (Wibisono, 1999: 27-28).


 Tulisan bersambung
  1. Inilah Teknik Membaca Puisi
  2. Membaca Puisi sebagai ApresiasiPuisi
  3. Bentuk dan Gaya dalam MembacaPuisi
  4. Tahapan Membaca Puisi
  5. Membaca dengan Pendekatan Teater
  6. Olah Tubuh atau Latihan Tubuhuntuk Baca Puisi
  7. Peran Guru Dalam Pembelajaran Membaca Puisi

Rudolf Puspa menyatakan bahwa vokal sebagai salah satu media pengungkapan ekspresi aktor, merupakan media penyampai informasi melalui dialog. Informasi tentang alur cerita, setting peristiwa, karakter tokoh, emosi, kondisi, usia tokoh dan lainnya dan hendaknya tersampaikan secara jelas melalui keterampilan pemeran dalam menyampaikan dialog.Vokal (Suara) dan Speech (ucapan) amatlah penting di dalam sebuah pementasan sebuah drama, karena merupakan bagian dari isyarat ataupun simbol. Ada kalimat Emosional untuk menyatakan perasaan dan ada pula kata-kata yang dapat digunakan sebagai senjata mencapai kekuatan. 

Pencapaian dalam materi ini adalah menciptakan aktor dengan perangkat vokalnya yang efektif dan elastis sehingga mampu menyesuaikan takaran volume suaranya dengan kondisi apapun. Ia juga mampu menampilkan variasi-variasi suara dengan baik seolah berbicara seperti kebiasaan sehari-hari, tetapi tanpa kehilangan kesan teaterikal. Melalui vokal seorang aktor harus mampu menggali kedalaman karakter tokoh dan nuansa dramatik sehingga mampu menggugah imajinasi dan empatik penonton. Pada olah vokal, teknik pernapasan adalah sesuatu yang penting karena merupakan sumber tenaga penggerak atau penggetar pita suara kita. Latihan pernafasan kita menjadi stabil dan efektif dalam menunjang pembentukan suara.(bersambung)

Tulisan Terkait

Gupen 7364571206809927992

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item