Jabat Tangan

D. Zawawi Imron

Jabat tangan, atau dua tangan saling berjabatan, agaknya sudah menjadi bahasa unversal, yang melambangkan adanya komunikasi batin antara pemilik tangan yang satu dengan pemilik tangan yang lain. Kalau ada orang baru bertemu dan ingin menjalin komunikasi, jabat tanganlah yang menjadi lambang bertemunya dua hati. Meskipun keduanya tidak saling mengerti bahasa masing-masing, karena tak ada lingua fronca yang bisa menjembatani, namun komunikasi dua hati yang saling mengandung makna tetap terjadi. Seolah-olah, jabttangan itu mengandung ucapan, “Perkenalkan aku yang siap menjadi sahabatmu.”

Entahlah zaman kapan jabat tangan itu dimulai oleh manusia dan siapa ornag pertamakali melakukannya, penulis tak menemukan sejarah tentang itu. Agaknya, jabat tangan itu meskipun disetujui dan dilakukan oleh orang di seluruh permukaan bumi, termasuk karya anonim. Padahal, pelaku pertamanya, menurut penulis pantas disebut sebagai pahlawan kemanusiaan, mengingat jabat tangan itu menjadi bahasa perdamaian yang setiap orang bisa melakukannya.

Kalau diteliti dengan cermat, bahasa yang menjadi muatan dari jabat tangan itu betul-betul wujud dari kecerdasan manusia yang berdasarkan fitrah. Kebutuhan akan damai yang mendasar, keinginan untuk menebar kasih sayang, dan kerinduan akan perdamaian dan kedamaian abadi benar-benar bertolak dari dasar kalbu yang suci murni karena manusia adalah makhluk termulia yang diciptakan Tuhan. Bisa disimpulkan, persaudaraan dan perdamaian itu tidak lain karena adanya tuntutan yang sangat fundamental akan pemaknaan terhadap hidup. Dari pemaknaan terhadap hidup itu manusia akan berusaha menampilkan sesuatu yang baik dan mulia, antara lain yang berupa keadilan.

Victor Frankl dalam Man’s Search for Meaning, menyatakan, “Pencarian manusia akan makna merupakan motivasi utamanya dalam hidup ini, dan bukan sesuatu ”rasionalisasi skunder” dari dorongan-dorongan instinktif. Makna itu unik dan spesifik sehingga ia harus dan hanya dapat dipenuhi oleh dirinya sendiri; hanya dengan demikian ia mencapai signifikansi yang akan memuaskan kehendaknya sendiri terhadap makna.”

 Mencari makna dalam jabat tangan, betapa kaya perspektif, dimensi dan kedalaman yang akan berkembang dalam diri seseorang, asalkan jabat tangan itu dilakukan dengan kejernihan fitrah. Berbeda kalau jabat tangan itu hanya dilakukan sebagai basa basi politik, yaitu jabat tangan yang ditandai dengan bibir saling tersenyum tetapi hati saling mencibir. Jabat tangan demikian memang tidak akan menjamin berhembusnya angin perdamaian, karena berangkat dari kedangkalan rohani yang hampa makna. Pendangkalan seperti itu semakin menjauhkan harapan dari ketentraman jiwa. Jika pendangkalan terhadap makna hidup itu terus dibiarkan, bisa mungkin mencompang-campingkan rohani sehingga kita tidak akan punya kepekaan terhadap penderitaan dan kesengsaraan saudara-saudara kita sendiri. Adanya ledakan bom dan mayat bergelimpangan akan dianggap sebagai peristiwa biasa seperti matinya beberapa ekor nyamuk. Pendangkalan seperti itu bisa berproses berupa menipisnya rasa kemanusiaan menuju kebinatangan. Homo homini lupus.

Namun, kalau jabat tangan hanya sebatas basa basi, tanpa disertai dengan upaya memberi makna terhadap hidup, jabat tangan dan permintaan maaf itu tidak akan mampu memberi kesegaran terhadap jiwa dan hidup kita. Yang kita inginkan, adalah jabat tangan yang berangkat dari fitrah kemanusiaan yang substansial. Yaitu bertemunya dua jiwa yang saling memberi makna dalam cinta kemanusiaan yang hakiki. Jabat tangan yang menjadi lambang kemuliaan manusia yang sama-sama siap untuk senantiasa hidup dalam damai dan saling menyelamatkan. Seperti yang terlukis dalam puisi:

        Meskipun jabat tangan dilepas, di hati tidak
        Dari kedua tangan itu muncul seorang malaikat
        lalu terbang, pergi dan bernyanyi
        Nyanyi putih tentang sepasang hati damai di bumi
        Sebuah berita indah bagi sorga.


Tulisan Terkait

Asah Literasi 8428698239023490060

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item