Peran Media Cetak Terhadap Sastra Madura

Oleh: Syaf Anton Wr

“Bila satu juta manusia dibunuh, maka kemudian masih akan lahir sepuluh juta manusia lainnya. Jika satu peradaban dibunuh, maka satu kehidupan tidak akan mampu mengembalikannya”. 
Sastra daerah baik lisan maupun tulisan merupakan kekayaan budaya daerah yang kelestariannya ditentukan oleh pendukung budaya daerah yang bersangkutan. Sastra daerah menyimpan nilai-nilai kedaerahan dan akan memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi perkembangan sastra di daerah dan Indonesia pada umumnya.Dengan sastra daerah, dapat diketahui asal-usul suatu daerah dengan berbagai kearifan yang dicurahkan lewat berbagai mitos, legenda, dongeng, dan riwayat termasuk di dalamnya permainan rakyat dan nyanyian lokal.

Namun tampaknya masalah terjadi saat ini yakni kurangnya perhatian masyarakat terhadap sastra daerah. Sastra daerah tampaknya berada posisi di ambang kepunahan karena hanya segelintir orang yang masih punya kepedulian terhadapnya. Bila tanpa tanpa adanya dukungan dari masyarakat setempat, sastra daerah akan hilang tanpa bekas dan masyarakat akan kehilangan identitas budayanya sendiri. Dalam posisi seperti, dapat dipastikan budaya luar yang dihembuskan dari segala arah, baik melalui media cetak atau elektronik sangat memperngaruhi perkembangan sastra daerah.

Seluruh suku bangsa di Indonesia saat ini merasa bahwa hidup matinya sastra daerah menjadi tanggung jawab masing-masing daerah. Meski sesungguhnya perkembangan sastra daerah menjadi tanggung jawab nasional yang harus dihadapi secara nasional pula. Begitu pula dengan para penggiat sastra daerah, mereka praktis melakukan kegiatan-kegiatan sastra secara individu dan swadaya, sehingga gaungnya hanya terasa dalam ruang lingkup yang tidak  terlalu luas.

Berbicara mengenai sastra daerah, tentunya tidak terlepas dari bahasa yang menjadi akar dari sastra daerah itu sendiri. Selain itu bahasa juga menjadi simbol suatu peradaban bangsa. Kematian sastra daerah, yang di dalamnya terdapat bahasa daerah, mengakibatkan hilangnya suatu kebudayaan dan musnahnya suatu peradaban.

Hal itu tampaknya juga terjadi pada sastra Madura, sastra yang hidup dan berkembang di Pulau Madura ini yang seharusnya menjadi salah satu sumbu peradaban masyarakat Madura, kini dirasa mengalami kemunduran, sehingga masyarakat penikmatnya kesulitan mendapatkan literatur sastra Madura. Kekayaan dalam khasanah sastra Madura yang menjadi peninggalan generasi sebelumnya bukan sekedar ungkapan lirik yang disampaikan secara lisan maupun tulisan, namun dibalik itu nilai-nilai yang terkandung didalamnya merupakan ajaran atau ilmu tentang nilai-nilai kehidupan manusia.

Tulisan berkelanjutan:
  1. Peran Media Cetak Terhadap Sastra Madura
  2. Bagaimana Perkembangan Sastra Madura?
  3. Media Cetak Menjadi Kebutuhan  Ideal
  4. Sastra Madura; Kembali ke Rumah Asal

Jadi sastra lisan merupakan warisan budaya yang  seharusnya dilestarikanya agar jangan sampai semua itu luntur. Sastra lisan merupakan kajian yang menarik jika mampu menelusuri lebih dalam tentang sebuah sastra lisan. Banyak hal yang terkandung dalam sebuah sastra lisan, tidak hanya mencakup makna simbolik, fungsi, serta nilai tetapi juga dapat kita kaji aspek strukturnya sebagaimana struktur dalan sebuah karya sastra. Seperti halnya dengan sebuah karya sastra, sastra lisan dapat ditafsirkan sebagai langkah untuk memperoleh pesan, makna, dan fungsi.

Sedang untuk sastra Madurayang ditulis oleh penulis Madura sendiri memang jauh tidak sekuat penulisan sastra Indonesia, bahkan hanya beberapa gelintir penulis saja. Hal ini dibuktikan makin tahun kelahiran sastra (dari) Madura makin bertambah, dan bahkan menempati posisi yang cukup strategis serta diperhitungkan dalam kancah perkembangan sastra di tanah air. Maka tak heran, dalam kondisi perkembangan yang terjadi seperti sekarang ini,  Pulau Madura kerap disebut-sebut sebagai lumbung kelahiran sastrawan, pulau penulis, atau gudangnya penyair. Dan sebagainya.

Hal ini tentu bisa dipahami, dalam proses penciptaan maupun kepenulisan sastra Indonesia modern jauh lebih “mudah” dibanding sastra daerah yang butuh proses panjang. Sementara dalam sastra Indonesia, selain mudah dipahami dan diminati oleh penulis maupun masyarakat penikmatnya, juga telah diperkenalkan sejak dini pada anak-anak di semua tingkatan dan seterusnya. Dan bahkan di perguruan tinggi telah disediakan jurusan atau program studi bahasa dan sastra Indonesia, sementara sampai saat untuk program studi bahasa dan sastra daerah (Madura) masih belum tampak.

Pertumbuhan sastra Indonesia modern di Madura secara masif dapat dilihat sejak dekade awal 90-an. Gerakan ini makin meningkat dan sampai tahun ini baru dirasakan bahwa di Pulau Madura banyak dan bahkan  lahir ratusan penulis sastra, mulai dalam bentuk puisi, cerpen, novel, esai dan lainnya. Mereka tumbuh dan berkembang, baik di tanah kelahirannya sendiri (Madura) atauyang menyebar hampir seluruh kota di Indonesia, khususnya wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, Tangerang, Jogyakarta, Malang dan sebegainya. Mereka aktif menunjukkan karya-karyanya di depan publik, baik dalam publikasi media cetak, online juga dalam bentuk penerbitan buku-buku.

Bila melihat potensi (kekuatan) proses kelahiran penulis Madura, seharus juga diimbangi keperhatian penulis sastra terhadap sastra (darah) Madura. Sangat disayangkan, gerakan kebangkitan sastra daerah di Madura tidak dibarengi oleh keperhatian masyarakat secara umum, apalagi pemerintah setempat yang cenderung pasif membaca fonomena ini. Pemerintah cenderung memperhatikan “apa yang tampakseperti pengembangan pariwisata” sehingga formula budaya Madura yang antara lain tersimpan nilai-nilai kesasteraan termasuk sastra daerah Madura dibiarkan terlantar begitu saja.

Keseriusan masyarakat maupun pemerintah terhadap gerakan pembinaan dan pengembangan sastra daerah dinilai masih kurang dan bahkan belum kecuali beberapa komunitas yang ada namun tidak begitu signifikan untuk menciptakan sejarah baru kebangkitan sastra Madura.

Konsep Sastra Daerah

Yang dimaksud dengan sastra daerah adalah sastra yangmenggunakan bahasa daerah sebagai wahana ekspresi seorang sastrawan atau lebih. Dalam sastra daerah dipilahkan antara sastra lisan (lebih tepat tradisi lisan) dan sastra tulis. Yang termasuk tradisi lisan, yaitu: (a) ungkapan tradisional, seperti peribahasa, pepatah, dan pameo; (b) pertanyaan tradisional, seperti teka-teki; (c) puisi rakyat, seperti pantun, gurindam, dan syair; (d) cerita prosa rakyat, seperti mite, legenda, dan dongeng; dan (e) nyanyian rakyat (Sudikan, 2015:18-19).

Ciri-ciri pengenal utama sastra lisan sebagai berikut: (1) penyebarannya melalui mulut, maksudnya, ekspresi budaya yang disebarkan, baik dari segi waktu maupun ruang melalui mulut, (2) lahir di dalam masyarakat yang masih bercorak desa, masyarakat di luar kota, atau masyarakat yang belum mengenal huruf, (3) menggambarkan ciri-ciri budaya sesuatu masyarakat, (4) tidak diketahui siapa pengarangnya dan karena itu menjadi milik masyarakat, (5) bercorak puitis, teratur, dan berulang-ulang, (6) tidak mementingkan fakta dan kebenaran, lebih menekankan pada aspek khayalan/fantasi yang tidak diterima oleh masyarakat modern, tetapi sastra lisan memiliki fungsi penting di dalam masyarakatnya, (7) terdiri atas berbagai versi, dan (8) bahasa, menggunakan gaya bahasa lisan (sehari-hari) mengan dung dialek, kadang-kadang diucapkan tidak lengkap (Hutomo, 1991:3-4).

Selain itu, ada juga sastra daerah genre tulis. Sastra tulis, dipilahkan antara sastra tulistradisional dan sastra tulis modern.

Tulisan berkelanjutan:
  1. Peran Media Cetak Terhadap Sastra Madura
  2. Bagaimana Perkembangan Sastra Madura?
  3. Media Cetak Menjadi Kebutuhan  Ideal
  4. Sastra Madura; Kembali ke Rumah Asal




Tulisan Terkait

Utama 4935167461146309305

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item