Kitab Pentigraf Dari Pulau Garam

Tengsoe Tjahjono

Siapa menyangka 55 pentigraf (cerpen tiga paragraf) lahir dari Pulau Garam Madura. Pentigraf-pentigraf itu lahir dari kreasi Lilik Rosida Irmawati, seorang guru di Sumenep. Kitab Pentigraf “Tikaman Penuh Senyum” ini menandai 55 tahun jejak perjalanan Lilik di dunia.

Kitab Pentigraf yang terentang dari “Hasrat” hingga “Sosialita Kampung” itu menampilkan aneka macam persoalan manusia dengan berbagai gaya bertutur yang menarik. Sebagai sebuah pentigraf, yang pendek dan diakhiri dengan kejutan pada paragraf ketiga, karya Lilik ini sungguh luar biasa. Dia mampu menangkap momen puitik dan penuh makna, serta menarasikan lewat detail yang tergarap.

Tema-tema yang diangkat pun beragam, dari realitas sehari-hari yang sangat faktual, hingga yang bersifat magis; dari persoalan hidup dalam himpitan ekonomi, cinta, poligami, hingga ke hal-hal yang mengarah ke dunia lain, dunia yang tak terlihat, tetapi ada. Sehingga, membaca Kitab Pentigraf ini pembaca disuguhi kekayaan hidup manusia, menimba pengalaman mereka, dan belajar lebih bijaksana.

Tema-tema tersebut menggambarkan bagaimana pengetahuan dunia yang dimiliki Lilik. Tema-tema tentang Madura memang dominan, namun tema tentang kota-kota lain di luar Madura pun begitu banyak. Sebagai guru yang senang membaca, dunia Lilik tak sebatas Sumenep atau Madura belaka, namun jauh melintasi batas ruang hidupnya.

Bahkan, Lilik juga mengangkat tema politik seperti terbaca dalam pentigraf berikut ini.


Melawan Siasat

Bahu Mardi terguncang-guncang isak tangisnya meledak dan Lisa hanya bisa menunggunya sampai tangis itu reda. Lisa menjulurkan tisu ketika Mardi mendongakkan wajah dengan sorot mata penuh kesedihan. Sembari menyeka air mata yang masih terus mengalir mulutnya terbata-bata bercerita kesedihannya karena ibu satu-satunya jatuh sakit..

Semuanya berawal ketika Lisa selaku Kepala Sekolah dihubungi via telpon oleh Kabid ketenagaan. Kabid tersebut menanyakan keberadaan Mardi dan menyampaikan bahwa Mardi telah melakukan kebohongan besar. Meski Lisa menyampaikan bahwa Mardi sakit, sang kabid dengan bahasa ancaman menggertak Lisa untuk tidak melindungi bawahannya karena taruhannya mutasi ke pulau. Merasa diintimidasi akhirnya Lisa menghadap atasannya di kantor Dinas. Lisa merasa ini sudah kelewat batas. Firasat Lisa terbukti. Rahem, Kabid Ketenagaan menyatakan punya bukti kuat bahwa Mardi pagi hari ini sedang menebar uang di salah satu desa dan menuduh sebagai salah satu korlap calon legislatif. 


Tekanan, Lisa tahu itu sebuah tekanan terselubung. Lisa belum bisa membaca arah apa maunya Rahem sebelum mendengarkan penjelasan konkret Mardi. Setelah bertemu dan berbincang empat mata Lisa merasa ada sesuatu yang aneh. Apalagi setelah Mardi menghadap Rahem, Kabid tersebut memerintahkan Mardi untuk menarik dukungan plus amplop yang ditebar. Sebuah perintah lisan terucap supaya Mardi merusak suara salah satu calon kuat di desa Mardi dan mengalihkan dukungan ke calon lain yang merupakan istri pejabat penting. Mendapat tekanan seperti itu emosi Mardi meledak dan terjadilah pertengkaran sengit. Pertengkaran itupun  berubah menjadi baku hantam. Beberapa staf melerai dan kemudian melarikan Rahem ke rumah sakit karena luka-luka di bagian wajah dari kepala cukup parah. Dan Mardi pun tak peduli kalau suatu saat dirinya dibuang ke pulau terpencil akibat berani mempertahankan kebenaran.

Lilik Rosida Irmawati

Membaca pentigraf “Melawan Siasat” pembaca diajak untuk menyimak persoalan di seputar gejolak pemilihan anggota legislatif di wilayah Madura, tepatnya Sumenep. Mengapa Sumenep? Ada satu penanda kultural: dimutasi ke pulau. Kabupaten Sumenep merupakan wilayah di Pulau Madura yang memiliki banyak pulau kecil. Mutasi ke pulau-pulau tersebut sungguh dihindari oleh para pegawai pemerintah. Seringkali mutasi ke pulau menjadi alat bagi penguasa untuk menekan bawahannya.

Di samping penanda kultural yang muncul, tergambar pula fakta bahwa sifat umum gejala konflik sosial yang terjadi pada setiap pemilihan anggota legislatif juga didapatkan di Sumenep. Modus operandinya pun sama: merusak suara dengan godaan uang dan isu-isu negatif terhadap lawan politik. Hanya saja tokoh Mardi dalam pentigraf tersebut mewakili orang Madura yang kuat dalam prinsip, harga diri, terutama dalam mempertahankan kebenaran.

Jadi, pentigraf di atas, walaupun hanya tiga paragraf, mampu menggambarkan keadaan kultural-geografis kota Sumenep, karakter khas orang Madura, dan persoalan-persoalan nasional-global yang juga menjangkau kawasan pulau di utara Jawa Timur itu.

Lilik Rosida Irmawati, sebagai perempuan Sumenep, telah berhasil memperkenalkan Madura ke publik pembaca yang tersebar di seluruh Indonesia melalui pentigraf-pentigraf yang ditulis. Tentu, hal tersebut pantas diberi apresiasi. Walaupun hanya tiga paragraf, di tangan Lilik, Madura bisa hadir di ruang batin pembaca. Selamat membaca.

Malang,  Juli 2019







Tulisan Terkait

Utama 8141397121561495520

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item