Media Cetak Menjadi Kebutuhan Ideal

 oleh: Syaf Anton Wr



Sastra Madura  mutakhir, tampaknya mulai diminati khususnya pana penulis muda. Hal ini terbukti sejak munculnya majalah Jokotole, terbitan Balai Bahasa Jawa Timur (BBJ) kemudian diimbangi penerbitan buku-buku sastra Madura seperti“Antologi Puisi Nemor Kara”, tim BBJT (2007), “Sagara Aeng Mata Ojhan”, penulis Lukman Hakim AG. (2008), “Memahami Jati Diri, Budaya, dan Kearifan Lokal Madura”, penulis Sulaiman Sadik (2014), “Kompolan Puisi Madhura Kejhung Aghung”, penulis Yayan KS. (2013) dan “Kumpulan Puisi Jhapa Granyeng”, penulis Yayan KS. (2013), sementara dalam penerbitan yang lain seperti “Parebasan Ban Saloka Madura (Madura Indonesia) penulis Ormar Sastrodiwiryo (kencana Utama, 20015), “Papareghan Pantun Madura Puisi Abadi”, editor M. Tauhed Supratman (Ganding Pustaka, 2016) dan lainnya, paling tidak telah memberikan pengaruh terhadap fenomena perkembangan sastra Madura.

Selain itu salah satu media lokal seperti koran Radar Madura juga berusaha membumikan karya-karya sastra berbahasa Madura dalam bentuk puisi, cerpen dan lainnya. Tentu selain itu masing-masing daerah di Pulau Madura telah menerbitkan media cetak seperti majalah, buletin dan lainnya. Jadi paling media cetak macam itu mulai sedikit merangsang para penulis muda (usia) untuk lebih kreatif berkarya dengan menggunakan bahasa Madura. Namun disayangkan media cetak yang penuh harapan ini memiliki oplah cetak sangat terbatas, dengan edisi terbitnyapun tak beraturan sehingga pembacanya sangat terbatas pula.

Selain itu tahun 90-an pernah terbit sebuah media yang diharapkan mampu mencipta fenomena bahasa dan sastra Madura, seperti bulletin “Konkonan”, yang digerakkan oleh Tim Nabara (Pembinaan Bahasa Madura) Sumenep, namun tampaknya media tersebut hanya mampu bertahan seumur jagung. Sedang terbitan media cetak di Pamekasan yang diprakarsai “Yayasan Pekem Maddhu” terus berusaha menggelorakan semangat literasi melalui bahasa Madura, selain Sampang, Bangkalan dan sejumlah wilayah tapal kuda.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, tampaknya media cetak menjadi kebutuhan mendasar dalam menyemangati gerakan pengembangan sastra Madura. Pengaruh yang begitu besar dimiliki oleh media cetak sebagaimana fungsinya utamanya yakni: informasi, edukasi, koreksi, rekreasi, dan mediasi. Fungsi itulah yang membuat media cetak begitu berpengaruh bagi masyarakat luas. Media cetak dapat membentuk karakter seseorang melalui pesan-pesan yang disampaikan. Terlepas dari pengaruh baik dan buruknya, media cetak tak ubahnya seperti sebilah pisau yang dapat digunakan sesuai niat si pemegangnya. Kemahapengaruhan media cetak menjadi megnet tersendiri bagi sebagian orang. Meski tak sedikit yang menyalahgunakan media cetak untuk kepentingan individu, yang meninggalkan nilai-nilai dari media cetak itu sendiri.

Tulisan berkelanjutan:
  1. Peran Media Cetak Terhadap Sastra Madura
  2. Bagaimana Perkembangan Sastra Madura?
  3. Media Cetak Menjadi Kebutuhan  Ideal
  4. Sastra Madura; Kembali ke Rumah Asal

Sebagai salah satu sarana komunikasi, media cetak juga mempunyai peranan penting dalam perkembangan pengetahuan dan proses sosial. Selain berperan dalam proses sosial, media cetak juga mempunyai peran yang besar dalam mendukung perkembangan bahasa, khususnya bahasa daerah maupun bahasa Indonesia. Kebutuhan terhadap komunikasi dan informasi yang up to date dewasa ini telah melekat dalam peradaban kehidupan sosial masyarakat, mulai dari tingkatan terkecil: rumah tangga sampai dengan tingkatan terbesar: negara. Kebutuhan akan informasi yang dahulu hanya dapat dipenuhi melalui pembicaraan tatap muka orang per orang atau face to face sekarang cara mendapatkan informasi tidak harus melalui tatap muka, tetapi dapat melalui sarana teknologi; buku, koran, radio, televisi, telepon, dan internet.

Tidak dapat dibantah lagi bahwa media cetak berperan dalam memasyarakatkan konten sastra Madura. Begitu penting kehadiran sastra dalam masyarakat, mengharuskan perlunya membangun komitmen dasar tentang kesastraan, khususnya sastra daerah (Madura). Untuk menjalin komunikasi antara masyarakat, karya sastra, dan sastrawan banyak cara yang bisa ditempuh. Tanggung jawab untuk memasyarakatkan sastra sebenarnya tidak hanya tertumpu di pihak pemerintah, tetapi media cetak, dan masyarakat juga harus berperan untuk melestarikannya. Melalui pemerintah, sekolah, masyarakat, dan sastrawan bersinergi membangun atmosfer sastra daerah di daerah sendiri. Sehingga tujuan ideal yang mungkin dapat dicapai, ke depan karya sastra Madura dapat disejajarkan dengan karya-karya sastra lainnya, sebab karya sastra berpotensi melahirkan pesan-pesan kultural dari kebekuan rutinitas sehari-hari. Lewat sastra, budaya dari setiap individu juga akan terbangun secara mantap.

Peran media cetak dalam memasyarakatkan sastra, dengan format sajian liputan cerpen, puisi, dan esai sastra ternyata berpengaruh terhadap pertumbuhan komunitas-komunitas sastra di masyarakat. Karena peranannya terutama di masa perjuangan mampu mengobarkan semangat juang dan mengenalkan para tokoh sastrawan di republik ini, maka media cetak pantas mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Karya sastra melalui media cetak semoga masih tetap diminati oleh sebagian banyak orang serta sastra tidak menjadi terkungkung dalam dunianya sendiri.

Tulisan berkelanjutan:
  1. Peran Media Cetak Terhadap Sastra Madura
  2. Bagaimana Perkembangan Sastra Madura?
  3. Media Cetak Menjadi Kebutuhan  Ideal
  4. Sastra Madura; Kembali ke Rumah Asal

Tulisan Terkait

Utama 1209451505193441710

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item