Mengapa Gerakan Sastra Menjadi Penting

oleh: Syaf Anton Wr

Tentu yang hadir saat ini telah memahami apa fungsi sastra. Dalam perkembangannya fungsi sastra, selain  dijadikan bahan dalam pembelajaran, baik terhadap anak-anak remaja, maupun bagi orang tua. Sebagaimana sifat sastra yakni menyenangkan dan bermanfaat. Kesenangan yang tentunya berbeda dengan kesenangan yang disuguhkan oleh karya seni lainnya.

Karya sastra  yang berisikan pemikiran, ide-ide kreatif, kisahan dan amanat penuturnya dapat berintraksi dengan masyarakat, apabila masyarakat mampu mengapreasikannya. Seseorang dapat mengapresiasikan karya sastra, tentunya harus menggauli sastra itu sendiri. Kecintaan terhadap karya sastra, akan mendorong seseorang untuk melahirkan berbagai pemikiran untuk mengapresiasikannya. Seni sastra adalah seni bahasa, sebab untuk mengerti seni sastra orang harus mengerti bahasa dan kemungkinan-kemungkinan tentang pernyataannya. Dengan mengapresiasi karya sastra peminat akan mendapatkan amanat atau pesan moral yang terdapat dalam teks bacaan sastra itu sendiri.

Itulah mengapa gerakan sastra menjadi penting, memang sastra tidak boleh didiamkan, sastra harus bicara, sastra bukan benda mati yang hanya dipajang di etalase atau rak-rak buku. Kalau boleh saya analogikan karya sastra bagaikan seorang wanita cantik secara fisik dan menarik untuk diterjemahkan, namun kecantikan tersebut pada akhirnya terhenti oleh waktu. Akibatnya, pandangan akan mengalihkan perhatian kita ke wanita yang lain walaupun masih menyimpan kenangan tentang dirinya.

Begitu juga dengan karya sastra, keindahannya bukan hanya dari struktur katanya tapi makna yang terkandung didalamnya. Tapi semuanya akan lapuk oleh waktu dengan hadirnya karya sastra yang lebih progresif dengan penampilan dan style baru, genre baru, pola baru yang lebih mempesona para pembacanya. Sebagai teks, karya sastra tidak akan berarti apa-apa bila dipandang sebagai sesuatu yang sakral, tanpa dilakukan sebuah interpretasi terhadapnya.  Akibatnya, sastra tidak akan menggumam dan tidak memberikan pencerahan pada publik penikmatnya.  Akhirnya sastra akan dipandang sebelah mata

Sastra perlu digerakkan, disampaikan; agar nilai sakralnya dapat diterjemahkan secara utuh oleh pembaca, penikmat, dan publik;  karya sastra tidak hanya bergerak di bidang bahasa, dengan ungkapan yang indah dan imajinasi yang tinggi, namun juga harus melihat realitas yang terjadi di tengah masyarakat.  Belajar dari generasi sastra sebelumnya, sastra bukan sekedar teks, namun telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sebagaimana gerakan budaya lokal pada masa lalu, yang ditandai dengan ungkapan-ungkapan bijak, disampaikan dengan cara elegan, dekat dan sederhana.

Belajar dari Kearifan Lokal

Bangsa kita sebenarnya juga memiliki potensi cita-cita, berupa cita-cita sosial dan cita-cita individual. Cita-cita bangsa Indonesia sekarang tersimpan dalam sastra tutur berupa ungkapan-ungkapan luhur yang jumlahnya ribuan, yang tersimpan dalam sastra tulis maupun sastra lisan.

Dalam kesempatan ini saya mencoba merefleksi kembali sastra yang tumbuh dari ungkapan-ungkapan lama, yang mungkin juga telah terlupakan, seperti ungkapan kearifan lokal “andhap asor” yang punya makna kita harus rendah hati, bukan rendah diri. Ungkapan ini bisa menjadi tolok ukur dalam menanamkan etika dan estetika, termasuk didalamnya tentang kesantunan, kesopanan, penghormatan, dan nilai-nilai luhur lainnya. “Andhap asor” dalam pemahaman budaya Madura berimplementasi pada “raddhin atèna, baghus tengka ghulina” (cantik hatinya, baik tingkah lakunya).

Demikian pula dalam pergaulan sehari-hari, salah satu kunci untuk menciptakan nilai-nilai kebersamaan seperti dicontohkan dalam saloka;  “bilâ cempa palotan, bilâ kanca tarètan,” (kalau beras cempa adalah ketan, kalau teman adalah saudara), demikian pula untuk menjaga keutuhan persabatan perlu dijaga “mon bâ’na etobi’ sakè’ jhâ’ nobi’ân orèng” (apabila kamu dicubit sakit, jangan mencubit orang).

Tentang keseimbangan hidup misal, bahwa kebenaran hidup harus dimulai dari diri sendiri. “Jâgaâ paghârrâ dhibi’ jhâ’ parlo ajhâgâ paghârrâ orèng”, (jaga pagar sendiri, tidak perlu menjaga pagar orang lain) karena itu hidup harus hati-hati agar tidak menyakiti orang lain, sebab “jhilâ reya ta’ atolang” (lidah ini tak bertulang). Kalau kita kaji sebenarnya kehidupan ini seperti  “odi’ è dhunnya akantha nètè obu’” (hidup di dunia ini seperti meniti rambut), sedikit saja salah melangkah kita tergelincir dalam kenistaan.

Demikian pula tentang tatakrama atau budi pekerti disebut “orèng andhi’ tatakrama rèya akantha pèssè singgapun, èkabelenjhâ’a è dhimma bhai paju,” (orang yang mempunyai tatakrama seperti uang Singapura/dollar, dibelanjakan dimanapun akan laku).  Ungkapan ini tentu sangat relevan disinergikan pada kondisi jaman sekarang ini, dengan makin menguatnya budaya luar yang menyusup ketengah-tengah kita melalui perangkat “budaya dollar” tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi kita, bagaimana kita bisa bertahan dan mampu menanamkan budi pekerti yang kini jelas-jelas telah tercerabut dari akarnya.

Persoalannya adalah bagaimana kita mengimplementasikan kearifan lokal tersebut pada generasi sekarang. Tampaknya perlu dibangun kembali dengan merevitalisasi budaya lokal (kearifan lokal) yang relevan untuk membangun pendidikan karakter. Hal ini memungkinkan kearifan lokal daerah akan mampu mengantarkan  generasi muda untuk mencintai daerahnya, dan mengenal sastra daerahnya sendiri. Kecintaan pada daerah akan mewujudkan ketahanan daerah. Ketahanan daerah adalah kemampuan suatu daerah yang ditunjukkan oleh kemampuan warganya untuk menata diri sesuai dengan konsep yang diyakini kebenarannya dengan jiwa yang tangguh, semangat yang tinggi, serta dengan cara memanfaatkan alam secara bijaksana.

Akhiran


Barangkali itulah ajar-ajaran kearifan lokal yang patut direnungkan kembali, diapresiasi dan ditularkan pada generasi. Kita tahu para pendahulu kita ketika menyampaikan atau menularkan kepada generasinya dengan cara alami, dengan tutur kata yang lembut, dengan bahasa lisan yang indah, dengan cara sederhana dan ikhlas. Dan pesan-pesan moral itu sampai pada tujuan. Namun tampaknya pesan-pesan itu kini akhirnya terputus, karena alasan klasik “kehendak jaman”. Dan keterputusan itu, sekarang kita rasakan, saat ini, dan mungkin selanjutnya. Anggapan kearifan lokal tidak layak jaman, bisa jadi akan menghilang karena tidak sesuai kebutuhan jaman yang terus berkembang. Dan sekarang saatnya kita masing-masing, mulai dari diri sendiri, lingkungan kecil sampai yang terbesar untuk menentukan baik buruknya bangsa ini.

Demikian orasi budaya yang dapat saya sampaikan. Dan kalaupun tidak ada yang benar dari ungkapan-ungkapan saya ini, itu lantaran ketidaktahuan saya semata-mata, kalaupun ungkapan-ungkapan dianggap benar, itupun karena faktor keberanian saja, karena pada dasarnya saya sangat takut, takut untuk menjadi salah.

Terima kasih.

Pidato Kebudayaan, disampaikan pada acara Penghargaan Sastra, Balai Bahasa Jawa Timur 2016, pada 27 Oktober 2016

sebelumnya: Membangun Gerakan Sastra Di Tengah Budaya Global

Tulisan Terkait

Utama 7112683263704469834

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item