Mempertahankan Paras Budaya Madura

 
Ciri komunikasi orang Madura
Syaf Anton Wr

Kita sepakat, bahwa yang dimaksud kebudayaan nasional adalah pertemuan dari puncak-puncak kebudayaan daerah. Tapi persoalannya, tiap kebudayaan daerah tidak memiliki kekuatan yang sama. Setiap kelompok etnik memiliki kekuatan yang berbada-beda, baik terkait dengan kekuatan sumber daya alam, sumber daya manusia, atau modal budaya yang dimilikinya.

Kebudayaan daerah yang diyakini sarat dengan pesan-pesan filosofis, spiritualitas, moral dan sosial, sebagaimana ditemui diberbagai aktifitas seni dan tradisi masyarakat Madura. Seni tradiri yang merupakan ekspresi hidup dan kehidupan masyarakat pendukungnya, serta menjadi sumber inspirasi gerakan spiritual, moral dan sosial. Dalam lingkaran kecilnya, seni tradisi terbukti memiliki peran signifikan dalam mencairkan ketegangan sosial. Dibalik keterbatasan pranata lokalnya, seni tradisi juga mengandung makna universal – yang paralel dengan agama – membawa pesan mulia bagi keluhuran budi manusia.

Konon, etnik Madura memiliki kekuatan tersendiri, sehingga (seharusnya) dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat tanpa harus hawatir terhadap masuknya budaya diluarnya. Tapi persoalannya, apakah kebenaran kekuatan ini menjadi realitas bagi masyarakat Madura?. Ada lagi suatu pemikiran yang dikemukakan orang, yaitu kehidupan tradisi (kesenian, sosial dan lainnya) Madura merupakan satu-satunya yang memiliki nilai plus dan sebagai martabat bangsa Madura. Bahkan diimplementasikan setiap kelompok etnik Madura yang eksoduspun tetap mempertahankan nilai-nilai kemaduaraannya meski mereka hidup dalam kondisi budaya yang berbeda.

Nah, dari sini kita perlu pahami bersama tentang apa yang dipahami sebagai orang Madura. Apakah indentivikasi kekerasan dan carok menjadi kekuatan indetitas etnik Madura. Atau nilai-nilai lain yang terkandung dalam kehidupan seni tradisi, peninggalan budaya, dan persoalan-persoalan kehidupan dibalik kekerasan dan carok itu. Atau apakah  kita telah  sepakat bahwa budaya Madura telah menjadi bagian vital bagi kehidupan masyarakatnya?. Atau kita biarkan saja, budaya yang konon adiluhung itu mengalir sendiri sesuai dengan perkembangannya?.

Masalahnya, apakah kita pernah mengevaluasi diri dari kacamata budaya? Apakah kita masih pantas disebut sebagai masyarakat atau etnik Madura? Apakah sikap kita dalam kehidupan sehari-hari mencerminkan sikap manusia yang berbudaya Madura, yang beradab, tulus dan ikhlas sebagaimana tercermin dalam  pandangan hidup orang Madura tentang tatakrama (budi pekerti) yang harus diutamakan, yang terungkap dalam:  Oreng andhi’ tatakrama reya akantha pesse singgapun, ekabalanja’a e dhimma bai paju. Atau sebaliknya: “ Ta’tao Judanagara” (Judanegara adalah seorang tumenggung di Madura yang sangat baik budi pekertinya, sehingga pantas dijadikan kaca kebbang (contoh teladan) bagi orang Madura. Orang yang disebut tidak mengenal (ajaran) Judanegara dianggap jauh dari sikap mulia, alias hina

Tulisan Terkait

Utama 1939435486085644190

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item