Kamera Diri

Oleh : Moh. Rasul Mauludi


Pada zaman dahulu kala, sebuah gambar sulit disorot dengan lensa atau alat untuk dokumentasi. Kini seiring dengan perkembangan makhluk di bumi, alat dokumentasi mulai dengan mudah didapatkan. Kamera terus berkembang mengikuti viralitas zaman.

Photo pribadi yang dulunya dipentingkan yaitu ukuran 3x3, 3x4 dan 4x6 hanya untuk administrasi, butuh roll felm untuk diabadikan dan disimpan hingga bisa dicetak lagi. Kini, kamera melesat melebihi kecepatan MRT dan LRT memudahkan semuanya terkait kebutuhan photo.

Selama kuota paket masih menghiasi android, manusia tidaklah sulit menyiapkan kebutuhan photo diri yang dibutuhkan. Tinggal jebret, jebret dan jebret membentuk format pdf dan bentuk lainnya langsung terkirim ke tempat yang dituju. Begitu juga dengan kebutuhan lainnya selain photo diri.

Bicara kamera, kita bisa melihatnya diberbagai dinding online. Betapa kita salut dengan gambar-gambar manusia yang beraneka ragam dan model. Semua berlomba-lomba menutup wajah asli diri dengan kecanggihan kamera. Semakin besar mega pixel dari kamera yang dimiliki, maka semakin canggih pula hasil gambar yang dihasilkan.

Tak ragu lagi, sejenis jerawat yang menghantui wajah tidak perlu lagi khawatir mencari obatnya. Dengan sekali jebret, jerawat itu musnah dan lenyap dari wajah kita. Hasil gambar menunjukkan wajah itu sehat dan mulus tanpa noda. Adanya kecanggihan kamera, kita tidak perlu takut dengan apa yang mengganggu wajah kita.

Selfi-selfi sudah menjadi budaya melineal yang tiap detik dijumpai di layar-layar online. Tidaklah heran, bila sering terjadi penipuan-penipuan atau kebohongan wajah. Dari melihat wajah aduhai di layar handphone, bertemu aslinya mengeluh aduh, berarti anda sudah tertipu. Bila bertemu aslinya tetap aduhai, berarti anda beruntung.

Kamera saat ini menemukan masanya yakni masa tanpa kamera hidup terasa sepi dan asing. Dengan tak terhitungnya jumlah pajangan wajah manusia dilayar HP menandakan inilah masa emas kamera milenial. Gambar dan tulisan tentang manusia berkejaran setiap detiknya.

Yang anak dengan lugu dan lucunya, yang muda dengan variasi gayanya, yang tua tak mau kalah saing dan yang tak karuanpun tak pernah luput dari sorotan kamera. Aneh tapi nyata, itulah fenomena kamera yang terjadi.

Kamera mulai menembus batas tanpa batas. Artinya penggunaannya mampu menerobos aturan fotografi. Terkadang pula beranggapan nilai seninya tersimpan dalam tanpa batas.

Sebenarnya yang harus dogarisbawahi hanyalah bagaimana hasil kamera berdampak positif bagi diri sendiri dan orang lain. Bila sebaliknya, sebaiknya dihindari dan jangan dipaksakan kamera merusak kehidupan manusia.

Kembalikan kamera pada fungsi dan tujuannya serta nilai seni yang menarik. Karena sesuatu yang bisa dilihat dari yang sudah lama dan berharga adalah gambar atau photo. Mari jebret momen-momen berharga dan menarik sebagai kenangan dalam hidup. Kemudian hindari hal-hal yang merugikan dari kemudahan berkamera ria dimana dan kapan saja. (*)

Tulisan Terkait

Utama 4692034715469102169

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item