Ibunda

D. Zawawi Imron
(foto: Muhammad badri Zamzam)
 Rendra pernah mengisahkan dalam baladanya tentang seorang ibu yang anaknya jadi pembunuh. Sang ibu meratap, ucapnya: ”Pesanku padanya lewat angin kemarau / Ibunya yang tua menunggu di dangau.”

Yang lebih mengharukan lagi adalah ucapan: “Kalau ia hauskan darah manusia / Mengapa tak minum darah ibunya?”

Kalau ditinjau dengan kecerdasan rasional, sikap ibu yang demikian bisa dicap tolol, karena merelakan dirinya dibunuh anaknya daripada anaknya membunuh orang lain. Tapi itulah ungkapan dalam puisi, yang punya tugas menjernihkankan rohani agar jiwa merasakan getaran yang dalam, sejenis sensasi keabadian. Bahwa cinta dan kasih ibu ibarat lautan yang tak ada tepinya dan kedalamannya tidak ada dasarnya.

Itulah kenapa pada sebagian besar perantau, setelah berpisah agak lama kemudian rindu kepada ibunya. Bukankah ibu yang mangandung sang anak dalam rahimnya selama 9 bulan? Setelah lahir, tangan ibulah yang membelai dengan segenap curahan kasih sayang. Ibu yang menyusui, menidurkan, memandikan, dan mencarikan obat kalau sakit. Salahkah secara intelektual, kalau ada seorang anak punya rasa hutang budi begitu besar kepada ibundanya? Salahkah jika seorang anak mencintai ibunya 100 kali lebih besar dari pada cintanya kepada seorang calon presiden yang didukungnya dengan penuh fanatik?

Tiap orang tentu punya kenangan manis dengan orang yang berjasa kepada dirinya. Jika satu ketika kenangan demi kenangan itu bergumpal menjadi rasa rindu, tentu saja sah. Bertemu dengan ibu yang dirindukan, bagi anak yang menghargai jasa ibu akan membawa pembebasan dan pencerahan tersendiri. Kecuali si anak memang tak punya apresiasi secuil pun pada jasa sang ibu, masalahnya akan berada di luar kamus kemanusiaan.

Rindu adalah bagian dari indahnya rasa kasih sayang yang menunjukkan kemuliaan manusia. Ketika wajah bunda sudah semakin tua, semakin keriput, dan tubuhnya semakin renta, pulang kampung untuk mencium tangan ibunda yang memancarkan aroma surga merupakan kenikmatan tersendiri. Memandang wajah ibunda terasa lebih cantik dan lebih memukau dari wajah miss universe atau bidadari. Lebih-lebih di hari suci, hari idul fitri, momentum manusia yang saleh kembali ke fitrah.

Kepada ibunya, Emha Ainun Najib pernah menulis puisi “Ibu, tamparlah mulut anakmu!” Permintaan itu berangkat dari keyakinan, bahwa tamparan tangan ibu ke mulut anak akan membuat mulut jadi bertobat, dan kemudian meluruskan kata-kata hari esok akan menjadi rahmat dan kasih bagi orang lain.

Affandi pun pernah melukis dirinya telanjang sedang dimarahi oleh ibunya. Sang maestro yang dikagumi dunia itu tampak tak berdaya sedang dipelototi ibundanya dengan sorot mata yang tajam. Affandi tampak begitu rela dimarahi sang ibu, karena marah sang ibu berangkat dari rasa cinta dan kasih sayang. Betapa kecilnya ‘Sang Maestro’ di depan ibunya.    

Akhlak mencintai ibu barangkali sudah setua kemanusiaan. Sampai sekarang masih belum ada tuduhan ilmiah dari kaum muda, bahwa mencitai ibu itu termasuk budaya purba yang kolot, primitif, dan tidak sesuai lagi dengan zaman postmoderen. Barangkali hal ini telah disadari oleh kaum muda bahwa dirinya nanti akan jadi tua, dan mereka pun ingin dicintai juga oleh anak-anaknya. Hanya orang yang pikirannya tidak waras saja yang punya keinginan untuk dibenci dan tidak dicintai anak-anaknya.

Rasa cinta ketika berpisah, punya kans besar untuk melahirkan rindu. Rindu kepada ibu yang begitu mampat menjadi sesuatu yang tak terbendung. Pada hari lebaran, rindu yang tak tercegah itu terjadi secara beramai-ramai yang disebut budaya “mudik.” Mudik itu agaknya menjadi gerakan serentak tanpa komando, karena komandonya adalah hati nurani.

Kalau ada satu dua orang yang mudik hanya untuk memamerkan keberhasilannya kepada orang-orang di kampung halaman, itu soal minusnya kebersihan hati. Orang seperti itu tidak akan mendapatkan kecerdasan apa-apa dari mudiknya. Berbeda dengan mudik untuk benar-benar melepas rindu, kembali ke rantau ia akan membawa kesegaran dan semangat hidup yang baru. Kembali ke rantau akan membawa senyum ibu yang akan menumbuhkan kebahagiaan, atau “surga” yang lain di dalam hati.
   



Tulisan Terkait

Utama 7061629896976662891

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item