Antara Malu dan Kecewa

Pada suatu hari adikku nelpon ke rumah, aku disuruh kepondok karena hal penting yang harus dihadiri oleh orangtua atau walinya. Tanpa banyak bertanya lagi saya pun pergi kepondoknya. Setelah sampai di sana, “Ada apa kok saya disuruh ke sini?” tanya saya. “Disuruh menghadap kepala sekolah, katanya saya akan mendapat beasiswa.” Jawab adiku.

Beberapa jam kemudian, setelah bel berbunyi tanda pelaksanaan KBM sudah selesai, adikku menemui saya lagi, kemudian, berangkat menghadap kepala sekolahnya. Alhamdulillah, saya dengan adik langsung bertemu dengan kepala sekolah.

Setelah nyampek di sana, kepala sekolah menanyakan, “Apakah sampean walinya?” “Ia, saya walinya Imam (nama adikku),” jawab saya, “Sampean orangtuangnya?”lanjut beliau, “Bukan, saya saudara kandungnya, Pak” kata saya.

Beberapa menit kemudian, yang membuat bulukudukku merinding, seandainya saya tidak mampu menahan airmata, pada saat itu saya sudah menangis. Pada saat berlangsungmya percakapan antara saya dengan kepala sekolah, yang beliau menanyakan tetang ayah, tentang penghasilan atau pekerjaan ibu saya. Saya katakan dengan jujur, bahwa ayah telah meninggal ketika adik saya masih belita, dan meninggalkan 5 orang anak yang sekarang menjadi tanggungjawab ibu saya. Ibu saya sekarang menghidupi anak-anaknya dengan berjualan rujak, kadang-kadang nasi sayur (kata orang madura nase’ orap), yang sekarang tinggal 4 anak yang menjadi tanggungannya, karena yang sulung sudah menikah.

Ternyata, bukan beasiswa yang akan diterima oleh adik, tetapi sekadar dispensasi dari lembaga sendiri. Saya dengan adik sedikit merasa kecewa karena tidak seperti apa yang kami perkirakan. Tapi, Alhamdulillah, Allah masih mau meringankan pembiayaan adik saya, sehingga mengurangi beban ibu.

Pada saat itu saya merasa malu kepada Allah, ketika kepala sekolah menawarkan pada saya, “Berapa sampean mintak keringanan?,” saya bingung dalam batin saya terjadi dialog, apa yang harus saya katakan?, antara ia dan tidak atau antara menulak atau nerima, ini yang terjadi dalam batin saya, sehingga saya sempat tak mampu untuk mengungkapkan satu kata pun, untuk menjawab pertanyaan kepala sekolah tadi.

Kemudian, saya berdoa dalam hati kepada Allah,”Ya Allah, bagaimana saya harus menjawabnya, saya sangat malu kepada Engkau, karena Engkau akan menanggung biaya orang-orang yang mencari ilmu-Mu. Apakah saya harus meminta kepada orang lain dengan cara mengemis? Walau pun pada saat itu kepala sekolah menanyakan berapa kemampuan sampean untuk membayar uang SPP. Saya katakan dalam hati bahwa saya mampu untuk membayarnya, wong Allah yang akan membayar semua biaya pendidikan adi saya.

Tapi, saya diam, lalu perasaan tidak enak dan rasa malu kepada-Nya, saya pasrahkan saja kepada kepala sekolah, “Berapa pun keikhlasan lembaga untuk memberi dispensasi kepada adik saya itu sudah sangat membantu meringankan beban keluarga kami, dan sangat berterima kasih atas bantuannya yang telah diberikan kepada kami.”

Walau pun adik merasa kecewa, karena tidak seperti apa yang tersirat dalam bayangannya. “Sudah tidak apa-apa, ini sudah cukup membantu pada ibu, dan merupakan rejeki dari Allah yang patut kita syukuri, serta harus rajin belajar untuk meningkatkan prestasimu, seperti apa yang telah dikatakan oleh kepala sekolah tadi.”

Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku, ibu dan keluargaku, semoga Allah selalu meridlai tekat dan cita-cita ibuku. Karena ibuku adalah orang yang paling pasrah di dunia ini untuk membiayai anak-anaknya untuk menuntut ilmu, beliau tidak pernah berpikir, darimana akan mendapatkan uang untuk membiayai putranya yang mondok di Al-Amien II Prenduan dan putrinya berkuliah di STIKA An-Nuqayah Guluk-Guluk. Ibu hanya mempunyai modal pasrah dan pasrah. (DZ)



Tulisan Terkait

Utama 2518234422148436690

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item