Kebutuhan Hidup Terhadap Seni


Manusia adalah mahkluk yang menyenangi keindahan. Menolak keindahan berarti mengingkari fitrah dan kodratnya. Itulah mengapa pada zaman primitif ditemukan lukisan dan cap telapak tangan di dinding gua sebagai pernyataan estetiknya manusia saat itu. Kemudian makin maju manusia semakin tekun mencari bentuk-bentuk seni yang sesuai dengan irama jiwanya. Pernyataan seni itu secara ideal merupakan suara kemanusiaan yang dinyatakan secara indah.

Setelah karya seni itu dinyatakan sebagai cermin dari martabat kemanusiaan, seni juga menjadi pernyataan kemuliaan manusia. Bangsa-bangsa yang menghasilkan karya-karya seni yang agung  lalu menjadi bangsa yang terhormat. Orang Inggris sangat bangga dengan Shakespeare, orang Belanda bangga dengan Rembrant, orang Perancis bangga dengan Leonardo da Vinci, orang Mesir bangga dengan Ummi Kalsum, orang Indonesia bangga dengan Gesang dan Chairil Anwar.

Kegiatan seni menjadi bagian dari perjuangan kebudayaan karena ia menjadi suara dan pernyataan dari kecerdasan estetik suatu bangsa. Perjuangan dalam seni adalah perjuangan menghaluskan perasaan dan mengasah kepekaan sehingga manusia bisa bersikap cerdas terhadap kehidupan. Dengan seni orang bisa menghayati kehidupan serta memacu kecerdasan emosionalnya untuk menjadi manusia sejati.

Seni yang berorientasi pada hidup dan kemanusiaan akan menghamparkan samudera seluas angan-angan tentang bagaimana nikmatnya menjalani hidup, memihak kepada semua yang hidup sehingga lahir sejenis etos untuk merawat kehidupan dan kemanusiaan sesuai dengan dambaan nurani dan akal sehat manusia. Seni yang ideal seharusnya menghindari segala yang negatif yang berbahaya bagi hidup dan kemanusiaan.

Ketika akal sehat bisa merasa punya kebutuhan terhadap seni, dambaan seharusnya diimbangi dengan tampilnya seniman-seniman kreatif yang karya-karyanya bisa menjadi inspirasi bagi bangsanya. Sutardji Calzoum Bachri menilai bahwa naskah “Sumpah Pemuda” yang dicetuskan tgl 28 Oktober 1928 itu sebenarnya puisi yang memberi inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk bersatu. “Gebyar-gebyar”-nya Gombloh bisa memperdalam rasa cinta tanah air, lukisan-lukisan Amang Rahman bisa menyarankan manusia untuk merasa rindu kepada Yang Serba Maha.

Dengan demikian, seni yang diapresiasi dengan baik akan memberi nilai lebih bagi satu bangsa. Celakanya, munculnya karya-karya seni yang berbobot jika tidak diimbangi dengan apresiasi yang memadai dari masyarakatnya, sehingga karya seni itu menjadi sesuatu yang terpinggirkan dan  tidak diperhatikan.  Secara budaya, peristiwa itu dianggap semacam tragedi yang memalukan.

Di negeri-negeri yang maju, mendengarkan musik, nonton teater, membaca novel, menghiasi rumah dengan lukisan menjadi bagian dari gairah budaya, karena menjadi tanda adanya penghargaan terhadap hasil karya kreatif manusia. Kegiatan itu menjadi upaya mengasah otak kanan, agar hidup tidak terjebak oleh rutinitas yang cenderung beku. Karya-karya seni yang bermutu yang diapresiasi dengan baik akan melahirkan dialog-dialog batin yang mengajak imajinasi dan kepekaan untuk merambah ke dunia-dunia baru yang tak terduga.

Dalam era moderen ini menurut Ignas Kleden, seni terbagi menjadi dua. Pertama “seni serius” yang tetap berusaha mengungkap substansi kemanusiaan. Seni seperti ini sangat berorientasi terhadap nilai. Seni seperti itu biasanya menunggu peminat.

Yang kedua adalah “seni pop”, yang dikemas untuk mencari penggemar. Seni seperti ini memang dibuat untuk dijual. Ada kemungkinan, seni yang pop ini yang bisa dimanfaatkan oleh partai-partai politik untuk menggalang massa.

Pokok-pokok pikiran D. Zawawi Imron


Tulisan Terkait

Utama 5996563321113250620

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item