Inspirasi Kartini Bagi Kaum Muslimah

Oleh: Lilik Rosida Irmawati *) 
 
Ibu-ibu dalam suasana pengajian (*)


Pada masa itu, bukan hanya Kartini saja yang tersiksa oleh kungkungan adat yang membelenggu kebebasannya. Tapi juga dirasakan oleh jutaan wanita muslimat Indonesia. Kaum wanita muslimat pada waktu itu mengalami nasib serupa, di kurung dan dipingit, tidak boleh belajar, mereka bodoh baik di waktu gadis maupun sesudah menikah. Bisikan kalbu Kartini  berkumandang dan meng-ilhami gerak langkah perjuangan wanita bangsa-nya, di mana wanita muslimat merupakan golongan terbanyak. Tak dapat di sangkal, banyak derita yang menggugah aspirasi Kartini. Karena Kartini adalah gadis Islam yang juga memprotes ketidak-adilan, kebekuan dan ketidak-terbukaan ajaran Islam pada waktu itu.

Betapa hatinya tidak dapat menerima pengajian Al-Qur’an yang ia tidak tahu maksud dan maknanya, begitu juga ibadah-ibadah lain yang tak dimengerti tujuan dan penafsirannya. Tetapi, beliau adalah seorang Islam  yang taat, bahkan menyerukan agar Al-Qur’an diterjemahkan dalam bahasa ibunya, supaya dimengerti oleh masyarakat banyak. Karena pada waktu itu agama yang dianut para bangsawan adalah agama yang diwarisi dari nenek moyang, yang pada kenyataannya belum dikhayati dan dimengerti hakekat ajarannya yang benar, bahkan banyak bercampur-baur dengan tradisi sebelum Islam.

Dalam salah satu suratnya, yang ditujukan kepada Stella, Kartini menulis :
“Mengenai agama Islam, Stella tiada boleh kuceritakan. Agama Islam melarang umatnya untuk mempercakapkannya dengan umat agama lain. Lagi pula, sebenarnya agama-ku Islam hanya karena nenek moyang-ku Islam. Manakah dapat aku cinta akan agama-ku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh mengenalnya. Al-Qur’an terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa mana jua pun. Disini tidak ada orang tahu bahasa Arab. Orang disini membaca Al-Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiran-ku, pekerjaan gilakah semacam itu, orang disini diajar membaca, tetapi tiada diajarkan makna  yang dibacanya itu. Sama saja engkau mengajar aku kitab bahasa Inggris, aku harus hafal semuanya, sedangkan tiada sepatah kata jua pun yang engkau terangkan artinya kepada-ku”.

Demikianlah Kartini menggugat jamannya yang gelap dan bodoh pada ajaran agama-nya. Gugatan Kartini itu mendengung dan berkumandang  di lambang dan gunung tanah airnya. Dapatlah dimengerti kalau Kartini tidak penuh pengertiannya tentang Islam, karena gerakan pembaharuan dalam Islam di Indonesia baru menghangat setelah Kartini wafat. Yaitu pada tahun 1905, KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, masuk jamiat Khair dan menjadi anggota Syariat Islam. Sehingga gerakan pembaharuan yang sangat didambakannya, tidak dapat dinikmatinya.

Surat-surat Kartini yang menggambarkan rintihan derita hatinya melihat penderitaan dan kesengsaraan  wanita bangsanya, baik dalam hal kehidupan sehari-hari yang miskin dan merana, baik dalam hal keagamaan sampai masalah poligami, kawin ceria tanpa tanggung jawab, di tulis dan ditujukan pada Stella, tertanggal, 23 Agustus 1900, sebagai berikut ;

Jalan kehidupan gadis Jawa itu sudah dibatasi dan diatur menurut pola tertentu. Kami tidak boleh mempunyai cita-cita. Satu-satunya impian yang boleh kami kandung ialah, hari ini atau besok dijadikan istri yang kesekian dari seorang pria. Saya tantang siapa yang dapat membantah ini. Dalam masyarakat Jawa persetujuan pihak wanita tidak perlu. Ia juga tidak perlu hadir pada upacara akad nikah. Ayahku  misalnya, bisa saja hari ini memberitahu kepadaku ; Kau sudah kawin dengan si anu, lalu aku harus ikut saja dengan suamiku. Atau aku bisa saja menolak, tetapi ini malahan memberi hak kepada suamiku untuk mengikat aku seumur hidup tanpa sesuatu kewajiban lagi terhadapmu. Aku akan tetap istrinya, juga jika aku tidak mau ikut. Jika ia tidak mau menceraikan aku, aku terikat kepadanya seumur hidup. Sedang ia sendiri bebas untuk berbuat apa saja terhadap aku. Ia boleh mengambil beberapa istri lagi jika ia mau tanpa menanyakan pendapatku. Dapatkah ini dipertahankan Stella ?”.

Demikianlah rintihan kalbu Kartini yang juga beriak beralun  dalam lubuk hati semua wanita Indonesia, terutama wanita muslimat mengenai perkawinan dan poligami serta kebebasan menuntut ilmu. Jeritan itulah yang mendorong wanita bergerak maju mengejar dan mencapai  perubahan nasib. Walaupun rintihan  Kartini bukan satu-satunya penyebab yang menggugah semangat pembaharuan pada wanita muslimat, tetapi ide serta gagasan yang lahir dari kalbu Kartini adalah merupakan estafet perjuangan wanita dari masa ke masa.

*) Ketua Rumah Literasi Sumenep

Tulisan Terkait

Gupen 1755219259187520202

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item