Eskatologi Dalam Sajak

Oleh: D. Zawawi Imron

Kepenyairan, seperti seperti selalu akrab dengan cinta. Cinta kepada siapapun, kepada kekasih, isteri, anak, binatang piaraan, tanah air, orang miskin, Tuhan dan lain-lain. Jika si penyair bersedih ditinggalkan salah satu dari yang dicintainya, pasti ia bersedih. Kesedihan pada seorang penyair itu kadangkala bisa memacu daya kreatif untuk menulis sajak.

Suratman Markasan, salah seorang penyair terkenal Singapura pada suatu ketika ditinggal mati istrinya. Ia sangat bersedih, dan itu saya kira wajar. Kenangan terhadap istrinya agak mengharu biru dan mengusik tangannya untuk menulis puisi. Salah satu dari 10 puisi tentang istrinya itu menjadi judul kumpulan puisinya “Potret Istri Yang Hilang”.

Penyair yang lain, H.M. Nasruddin Anshoriy Ch. pada suatu ketika ditinggal mati putrinya, Aura. Proses kematian si kecil itu memang cukup mengerikan, ia jatuh ke dalam kolam dan diketemukan tenggelam. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.

Penyair atau bukan penyair, kalau ditinggal mati anak tercinta pasti bersedih. Nasruddin juga bersedih. Sangat bersedih. Tapi ia tidak “mempertuhankan” kesedihan. Sang ayah yang penyair ini sadar akan kekuasaan takdir. Ia menerima ketentuan Allah itu, meskipun tetap bersedih. Perasaan bersedih itu ternyata tidak menjadi sekadar sedih. Kesedihan itu membutuhkan ventilasi. Dari kesedihan itu ia mengambil hikmah, lalu menjadikannya kesedihan itu sejenis dinamo yang menggerakkan jari jemarinya untuk menulis puisi. Dengan puisi, cinta kepada puterinya dapat direkam menjadi nyanyian rohani yang bernafas panjang. Dengan puisi kematian anaknya menjadi sesuatu yang hidup dan bergairah. Bahkan menghidupkan harapan yang lain. Kita perhatikan bait-bait di bawah ini :


Walau tak mungkin lagi kuraih jemarimu
Walau tak mungkin lagi kucium wangi pipimu
Tapi tetap ada yang kucatat setiap mengingat
Singgasana Tuhan di atas air, Aura
Juga kelopak bunga teratai yang kau pilih
Untuk mengikrarkan kesaksianMu
Seusai azan zuhur itu engkau mekar
Meninggalkan kabar yang membuat batinku memar
Engkau menjelma bunga teratai di taman sorga
(Singgasana Tuhan Di Atas Air, Aura)

Sorga adalah tempat yang dijanjikan Tuhan bagi orang-orang yang mampu menyelamatkan fitrahnya di dalam hidup. Anak kecil yang fitrah akan bersinggasana di sana nanti, pada hari kebangkitan. Sedangkan kebangkitan itu adalah sesuatu yang pasti menurut hati dan keyakinan orang beriman.

Penyair meyakini betul hari kebangkitan yang disebut akhirat itu. Putrinya yang fitrah itu sedang menuju keridlaan Ilahi, sebagaimana yang diungkapkan Nasruddin, “Kepergianmu, Aura/Atas undangan Sang Kekasih Sejati”.
Dalam agama Islam, keyakinan terhadap kehidupan di alam akhirat itu menjadi “rukun iman”. Tidak sempurnalah iman seseorang kalau tidak meyakini kebangkitan manusia di alam akhirat nanti. Ilmu tentang itu disebut “eskatologi”. Eskatologi menurut “Ensiklopedi Indonesia”, adalah bagian dari agama dan filsafat, yang menguraikan secara teratur semua soal dan pengetahuan tentang akhir kehidupan manusia, seperti mati, neraka, surga, hukuman dosa, dan pahala untuk kebaikan manusia, hari kiamat, pengadilan pada hari itu dan sebagainya.

Keyakinan eskatologi, atau lebih tepat, iman kepada alam akhirat itulah yang memberikan ruang luas bagi Nasruddin. Dalam ruang itu ia bukan sekadar membangun harapan dengan puisi tetapi juga membangun harapan dengan amal saleh dan tindakan terpuji lainnya. Secara filosofis, tidak mungkin orang membangun sorga dengan kekejaman dan perilaku tercela. Setiap orang berbuat kebaikan, berarti ia menabung recehan-recehan sorga buat dirinya sendiri.

Iman dan harapan itulah yang menjadi dasar utama penyair Nasruddin menulis sajak-sajaknya dalam kumpulan “Biografi Sang Bidadari” ini.

Pada suatu ketika iman saling berdukungan dengan rindu. Nasruddin sebagai seorang ayah hampir tak kuat menahan rindu, ia ingin menatap senyum anaknya, yang bukan tertera pada foto atau gambar. Tetapi senyum yang hidup sebagaimana senyum yang ditampilkan Aura pada saat bermain atau sedang bercanda. Kita baca sajak di bawah ini :


 Ingin Rasanya kubongkar Rahasia Langit

Ingin rasanya kubongkar rahasia langit
Untuk menemukan jejak nafasmu, Aura

Anak panah cinta berhiaskan permata itu
Begitu cepat meninggalkan busurnya
Dan sampai di Puncak Cahaya
Tepat pada waktunya

Kenapa aku hanya termangu
Dan asyik mengurai air mata?

Ingin rasanya kubongkar rahasia langit
Untuk menemukan senyummu, Aura

Membongkar rahasia langit memang tak mudah. Keinginan itu memerlukan rasa taqarrub yang dalam untuk menghasilkan “makrifat” kepada Yang Maha Rahasia.

Penyair memang tidak menjelaskan tentang rahasia itu, seakan-akan ia membiarkan yang rahasia tetap rahasia. Namun ia mendapat hikmah dari kepergian Aura, puterinya tercinta :

Setelah maut menjemput bunga hati
Tiba-tiba aku mampu melihat-Mu
Tepat di pelupuk mata

(Setelah Maut Menjemput Bunga Hati)

Dari bait di atas, kalau diterjemahkan kedalam bahasa orang awam, kematian Laura telah membuat sang ayah semakin meyakini Tuhan. Iman. Sebuah kekayaan batin yang maha berharga. Itulah pencerahan sekaligus karunia yang termahal. Tuhan menjadi sangat jelas dan tak ada yang lebih jelas dari pada-Nya.

Karena Tuhan sangat jelas, janji-Nya pun tidak akan diingkari-Nya. Keyakinan eskatologis itulah yang membuat penyair punya harapan untuk bertemu puterinya kelak kemudian hari, tentunya atas pertolongan Allah. Kita perhatikan bait di bawah ini :

    Yang aku tahu Aura tidak mati
    Sebab hanya dengan campur tanganMu putriku tetap suci
    Hingga kelak menjemput di gerbang maut

Dan membuka pintu-pintu sorga
Untuk ibu bapaknya

(Yang Aku Tahu Aura Tidak Mati)


Pertemuan yang indah ialah pertemuan dengan orang tercinta di alam akhirat kelak di bawah ridla Allah SWT. Itulah kenikmatan yang menjadi dambaan orang beriman.

Nasruddin Anshoriy dengan kumpulan sajak ini, bukan sekadar untuk berbagi duka, tetapi juga untuk berbagi harapan tentang zaman dan waktu yang bukan duniawi. Meskipun apa yang ditulisnya merupakan pengalaman pribadi, dengan membaca sajak-sajak ini saya bisa menimba dari rohani orang lain.

Itulah kesan selintas tentang “Biografi Sang Bidadari”. Pada saat yang lain, setelah saya membacanya lagi semoga mendapatkan makna yang lain pula.

Tulisan Terkait

Utama 984951516418870224

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item