Pentingnya Intropeksi Sebelum Ber-aksi

Oleh : Muhammad Mafruh

Pada akhir bulan November hingga pertengahan Desember 2023, sangat begitu terasa hangatnya pesta pemilihan mahasiswa (pemilwa 2023) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, semenjak awal di sosialisasikannya oleh komisi pemilihan mahasiswa (KPM) 2023. Partisipan mahasiswa bahkan bakal calon sangat antusias menyambuat pesta pemilihan yang di adakan sekali dalam setahun secara serentak ini.

Pemilwa sendiri merupakan sebuah mekanisme dari perwujudan demokrasi yang di selenggarakan oleh komisi pemilihan mahasiswa (KPM) dan di awasi oleh Badan Pengawas Pemilihan Mahasiswa (BPPM), yang bertujuan untuk  memilih ketua  dan wakil ketua eksekutif dan anggota legislatif intra kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (official.kpmuinjkt). Yang meliputi dewan eksekutif mahasiswa universitas (dema u), senat mahasiswa universitas (sema u), dema f (fakultas), sema F (fakultas), dan tingkatan himpunan program studi (hmps).

Tentu saja semua pihak kampus berharap yang terbaik dari terselenggaranya pesta ini. Namun di balik terealisasikannya pemilwa di tahun ini, ada sedikit kontroversial di ranah mahasiswa. kejadian yang begitu rame sejak setelah di umumkannya terkait kelolosan seleksi berkas di awal dan pada penetapan para calon, yang mana kejadiannya terjadi di kampus bahkan  bertebaran di media sosial. adalah aksi demo sebagian mahasiswa yang kurang menerima akan keputusan komisi pemilihan mahasiswa (KPM) dengan sambil menyerukan seruan “Pesta aklamasi bukan pesta demokrasi”.

Lantas, mengapa kata demikian di lontarkan? apakah ini gara-gara kesalahan pihak KPM di dalam mengambil keputusan? atau sikap ketidaksetujuan pihak yang merasa di rugikan akibat kesalahpahaman?

Makna Aklamasi

Pada seruan yang di lontarkan, terdapat 2 kata kunci yang konotasi nya berhungan dengan pesta pemilwa ini. yang pertama kata aklmasi dan yang kedua kata demokrasi. Mungkin kata demokrasi terlebih dahulu sudah tidak asing lagi di dengar, kata demokrasi sendiri secara umum menurut para ahli  Josefh A Schmeter merupakan proses politik di mana warga negara memilih pemimpin melalui pemilihan umum (detik.com).

Kaitannya dalam ranah pemilwa 2023 disini yaitu seluruh mahasiswa di peruntukkan untuk memilih para calon yang akan memimpin nanti dengan melalui pemilihan umum. Selanjutnya, makna dari aklamasi sendiri, aklamasi secara umum merupakan pertemuan maupun pemilihan umum dan atau mengakui hasil pemilihan umum dalam bentuk penegasan yang dengannya  seseorang dengan tepuk tangan, sorak sorai ataupun pekikan perhargaan lain dinyatakan terpilih.

Dalam kasus ini, pemungutan suara tidak di lakukan (wikipedia.org). Secara sederhana, istilah ini pada dasarnya mengacu pada pemilu yang tidak ada pesaingnya, dimana jumlah kandidat sama dengan (atau kurang dari) jumlah kursi yang kosong. hasilnya, hasil proses pemungutan suara dapat di prediksi sepenuhnya, sehingga tidak perlu lagi melalui  proses pengiriman dan penghitungan suara (electionbuddy.com).

Pesta Aklamasi Bukan Pesta Demokrasi

Apakah seruan yang di lontarkan ini bener ada nya atau bahkan kesalahpahaman saja?. Selasa (12/12) berita acara verifikasi daftar calon tetap yang di keluarkan oleh komisi pemilihan mahasiswa (KPM) UIN Jakarta sejumlah 29 halaman (official.kpmuinjkt). Menurut hasil hitungan rekapitulasi yang di peroleh @lpminstitut, data aklamasi di pemilwa 2023 lebih mendominasi daripada pemilihan suara sesuai data yang di keluarkan oleh KPM terkait  verifikasi daftar calon tetap, dengan presentase 65,5 % Aklamasi dan Pemungutan suara 34,5%.

Hal ini meliputi pemilihan tingkat Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (dema f)  total 11 calon, 8 di antaranya aklamasi dengan presentase 72,72% dan Pemungutan suara 27,28%, dan tingkat Himpunan Program Studi (HMPS) total 47 calon, 30 diantaranya aklamasi dengan presentase 63,83% dan pemungutan suara 36,17% (lpminstitut).

Komisi pemilihan mahasiswa (KPM) selaku penyelenggara utama dalam  pemilihan tidak boleh seenaknya di dalam mengambil tindakan atau keputusan, semuanya harus melalui keputusan dan prosedur yang berlaku dan matang. Berdasarkan pemantauan institusi terkait keputusan aklamasi, 8 dari 11 calon Dema Fakultas yang mengalami aklamasi yaitu mencakup 5 fakultas dengan calon tunggal dan 3 lainnya gagal dalam pemberkasan. Sedangkan dalam tingkatan HMPS, 30 dari 47 prodi yang mengalami aklamasi yaitu mencakup 20 prodi dengan calon tunggal dan 10 lainnya gagal dalam pemberkasan (lpminstitut).

Maka dari itu dalam pesta pemilihan mahasiswa tahun ini setelah di umumkannya ketetapan, bagi para calon yang lolos berkas serta memenuhi kriteria nantinya akan siap bertanding untuk meraih suara, sedangkan bagi para calon yang tidak lolos (gagal di pemberkasan atau karena paslon tunggal) maka di nyatakan tidak boleh mengikuti dalam peraihan suara di karenakan tidak memenuhi kriteria. oleh karenanya, bagi para calon yang tidak ada pesaingnya atau jumlah kursi kosong maka dinyatakan aklamasi.

Saudara Jovansah selaku pengamat pemilwa 2023 dan calon sema F mengatakan  “harus di catat. besarnya angka aklamasi secara umum di pemilwa bukan karena curangnya penyelenggara, tapi karena 6 Fakultas yang hanya ada paslon tunggal (lebih dari 50 persen), ada 20 HMPS yang hanya ada paslon tunggal, dan para calon yang gagal berkas. Sedangkan untuk sisanya tetap menjalankan pemilihan.  Jadi, sebelum menyuarakan seruan “pesta aklamasi bukan pesta demokrasi” alangkah baiknya mengintropeksi dan baca dulu datanya”,

Kamis (14/12/2023).

Muhammad Mafruh Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah





POSTING PILIHAN

Related

Utama 4638717975732110671

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item