Mishelda


Cerpen: Kharisma Wulandari

Angin berhembus dengan tenang matahari tersenyum bahagia dengan sinarnya namun tidak dengan Mishel ia tampak berteriak histeris sembari menutup kedua telinganya.di bawah terdengar tembakan yang bersautan.

Aliran darah mengalir sempurna ditubuh orang tua Michel.tiga laki-laki asing tertawa jahat menatap kedua orang tua malang itu.dengan tangis ia berlari menuruni anak tangga ia menghampiri orang tuanya sembari memeluk tubuh yang sudah tidak berdaya.salah satu dari mereka menatapnya dengan senyum licik.

 “Kalian jahat,”ujar Michel sembari menunjuk-nunjuk kearah mereka.

 “Tinggalkan saja dia jangan dihiraukan,”ujar salah satu dari mereka.

Ia menatapnya penuh kebencian ia berjanji pada dirinya sendiri akan balas dendam.sebelum mereka bertiga pergi salah satu dari mereka menghampiri Mishel yang tertunduk.

 “Kami akan pergi tapi ingat suatu saat kamu yang akan mati di tangan kami”.

                                                                        ***

Pantulan cahaya menembus kaca kamarnya membuat ia terbangun dan segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.merasa dirinya sudah selesai ia segera menuruni tangga terlihat kakek wijaya tersenyum tipis ke arahnya senyuman itu hanya di balas dengan wajah datar oleh nya .

Ia memang sudah berbeda dengan 8  tahun silam ia tak lagi ceria tanpa menghiraukan ia segera pergi menuju mobil seorang bodygard membuka pintu mobil mempersilahkan Mishel masuk.

Sesampainya di sekolah seperti biasa ia hanya duduk sembari membaca buku (teng...teng...teng...) lonceng istirahat terdengar begitu keras siswa siswi berhambur keluar hanya terlihat dua gadis yang masih berada di tempat duduknya. Kelas hening keributan henyap seketika mirna yang tidak suka dengan keheningan mulai membuka bicara.

 Mirna adalah anak temen mama Mishel ia sangat akrab meskipun mirna orang yang ribut sangat bertolak belakang dengan michel yang pendiam namun itu jadi pelengkap buat persahabatan meraka.

“Chel lo tau gak? Gue itu suka sama cowok keren banget,” ujarnya sembari menarik Mischel agar dia mengikutinya

 “Terus kita mau kemana?” balasnya dengan datar.

“Kita lihat mereka latihan basket ayo gue gak mau ketiggalan”.

“Tapikan lo tau gue gak suka keributan, gue disini aja ya,” mirna dengan kekeh menariknya berharap Mischel mengikutinya. Entah apa yang membuat Mischel tergerak hingga ia ikut berjalan mengikuti Mirna.

Sesampai di pinggir lapangan ia masih sibuk dengan buku di tangannya sedangkan Mirna loncat-loncat kegirangan sembari menyebut orang yang ia sukai.

 “Daren....Daren....”.

Daren yang merasa namanya dipanggil sontak menoleh tanpa sadar  bola yang di tangannya melayang ke arah Mischel. Mischel yang sadar adanya bola dengan cepat ia menangkapnya.Daren segera berlari menghampiri Michel ia merasa bersalah namun Daren sangat heran dengan dirinya karena merasa ada yang aneh pada pandangan nya.

Michel segera memberikan bola dan bergegas pergi meninggalkan lapangan.Mirna yang baru sadar atas kepergian sahabatnya ia segera menyusul. Michel juga merasa hal aneh namun ia lebih memilih membuangnya jauh-jauh.melihat Mirna yang sedang berlari kecil mengejarnya ia segera berhenti.

 “Sorry ya chel”.

 “Gak papa kok,”balasnya dengan senyum yang jarang mirna dapatkan.

 “Chel sebenarnya lo mau jalan gak sih?gak capek gitu dirumah terus”.

“Mau sih  tapi gimana ya kan ada bodygard nanti klo di tanyain aku mesti jawab apa?”

 “Gimana klo lo kabur aja, lo lewat pagar belakang kantin” meski itu sangat tidak mungkin sebenarnya ia sangat bosan tanpa berfikir panjang ia menyetujui dan siap melakukan rencana konyolnya.

                                                            ***

Sesampai di belakang kantin dia tanpa takut segera Naik ke atas pagar namun saat melihat ke bawah ia takut untuk loncat lama ia merenung tanpak laki-laki tak asing baginya.

 “Mau turun sini loncat, kutangkap “ujarnya sembari senyum menatapnya.

Ia tak habis pikir akan setakut ini ia juga berfikir tak mungkin dia locat karena itu bisa menjadi hal konyol baginya namuin Daren memastikan semua akan baik-baik saja tanpa berfikir lagi ia segera meloncat dengan cepat Daren segera menangkapnya tatapan aneh  kembali muncul dengan debaran-debaran yang melaju cepat begitu juga Daren.

Ia juga merasakan hal yang sama daren segera melepaskannya agar Mischel tak menyadarinya,Miscell segera pergi meninggalkannya lalu ia kembali mendatangi Daren yang sedang mematung sembari tersenyum.

 “Makasih yang tadi tapi tolong lupakan, anggap aja seperti tidak perna terjadi apa-apa,” ujarnya sembari berlari meninggalkannya Daren yang berdiam diri.

Daren merasa senyumnya menjadi hambar.Miscel berlari ke arah mobil Mirna yang sedari tadi menunggu.mereka berniat jalan-jalan ke mall, bioskop namun nihil  rencana Mirna lenyap ia tidak dapat membuat Miscell bahagia Miscell hanya sibuk dengan buku di tangannya merasa semuanya tidak berjalan dengan rencana mereka lebih memilih untuk pulang kebetulan hari sudah larut malam.

 Sesampai dirumah ia mendapati wajah kakeknya merah padam kakeknya sangat marah dengan kelakuannya, malam itu menjadi hal buruk baginya kakeknya melarang untuk berteman dengan Mirna karena beranggapan Mirna menjadi dampak buruk baginya.

Keesokan harinya di kelas Daren mendatangi Mirna untuk mengajaknya makan bersama. Mirna sangat bahagia ia berharap hari ini adalah hari bahagianya namun kecewa itu datang ketika Daren menanyakan perihal Miscel.

“Lo kan sahabatnya mischel menurut lo? Gimana cara untuk mendekatinya”.

“Lo gak bakalan bisa dapetin dia lebih baik lo cari yag lain aja,”jawaban itu membuat Daren kecewa ia yakin pasti bisa meluluhkan hati Miscel.

 Saat jam istirahat tiba Daren segera pergi menemui Mischel ia berdiri di ambang pintu dan menatap ke arah Mischel yang sibuk dengan bukunya ia segera menghampiri Mischel,sontak Mischel terkejut melihatnya.

 “Chell gue mau bicara”.

 “Ngomong aja gak papa”.

 “Gue ingin masuk dalam kehidupan lo”.

 “Lo tuh gak bakal bisa masuk ke dalam kehidupan gue, kehidupan gue terlalu gelap untuk lo”. Daren berfikir sejenak dengan yakin dia kembali berkata.

“Gue yakin gue bisa membuat kehidupan lo cerah kembali”.

Mischel berfikir mungkin ini waktu yang tepat untuk memperbaiki diri.

“Lo bisa masuk kedalam kehidupan gue tapi lo gak gak akan bisa lagi keluar dari kehidupan gue,” daren sangat senang mendengarnya.

“Pulang sekolah kita jalan”.

“Tapi gimana dengan bodygard gue?”.

“Semuanya udah gue rencanain kita bisa menggunakan penyamaran”.

Semua berjalan dengan lancar akhirnya Mischel dapat menemui jati dirinya yang asli Daren dapat meMbuatnya lupa atas segalanya namun kebodohan terjadi saat Daren kekeh untuk mengantarkannya pulang.

Se sampainya di rumah ia terkejut dengan banyak nya bodygard di depan rumah lebih terkejutnya lagi terdapat kakek yang sedang memarahi bodygard nya.setelah mereka sadar kehadirara nya  Daren berfikir semua akan baik-baik saja. Daren dengan nekat datang menemui kakek wijaya, itu adalah hal gila yang pernah Mischel alami alhasil kakek wijaya marah besar ia di beri pelajaran dengan 2 bodygard suruhannya.

Daren tampak santai berbeda dengan Mischel yang sedari tadi teriak histeris bodygardnya segera memba            wanya pergi. Setelah mereka sudah puas memberi pelajaran.Daren segera pergi sembari tersenyum menatap Mischel yang berada di jendela lantai 2 kamarnya.

“Lo cowok gentel der,”ujar Doni salah satu bodygard Mischel.

“Namanya juga cinta,”balasnya sembari meninggalkan Doni.

                                                                        ***

Pagi begitu cerah hembusan angin berhembus dengan tenang kicauan burug bersautan seraya ikut merayakan kebahagiaan Mischel yang tak pernah tampak sebelumnya. Siswa siswi menatapnya dengan aneh meski hanya sesekali mereka membalas senyumanya ia tampak bahagia dengan paginya. Terlihat jelas laki-laki yang menghampirinya.

 “Daren lo mau kemana ?”ujarnya sembari tersenyum.

“Hemm... mau masuk kelas,”ujarnya dengan gugup.

Ia merasa ada yang aneh dengan daren namun berusaha berfikir positif tak lama seorang wanita menghampiri mereka sembari memeluk Daren dengan manja.

 “Daren sayang temenin aku dong, dia siapa?” mendengarnya ia serasa tertampar.

 “Ooh...gak usah di jawab deh sayang,aku tau pasti dia fans mu kan?,oh ya kenalin gue         clara calon istri daren”.

Pernyataan itu membuat hati Mischel sangat sakit entah apa arti dari semuanya ia hanya membalas senyuman paksa dan lalu pergi meninggalkan 2 pasangan insan itu.

                                                                        ***

Hujan turun begitu deras bersatu dengan tangisan yang di alami Mischel ia benar-benar kecewa diraihnya buku kecil berwarna biru dan segera menulis tentangnya.

Dear  Daren...

kaulaki-laki yang mampu menemukan  jati diriku kau juga membuatku bahagia namun kenapa kamu juga yang membuatku jatuh laki-laki macam apa kamu? Kamu yang memulai masuk ke dalam kehidupanku dan berjanji tidak akan keluar kamu jahat daren... kamu sangat jahatttttttttttttttt

Curahan di buku itu membuatnya lebih sakit hingga ia kembali menangis tanpa sadar ia terlelap bersama alunan lagu.

Suara ketukan kaca terdengar sedikit keras hingga membangunkan Michel dari tidur sejenaknya.

 “Michel sini keluar ada yang mau gue bicarain,”ujar mirna sedikit berbisik.

Ia tidak ingin menghiraukan namun semua berubah saat terdengar ribut tembakan dibawah,ia mulai panik dan segera pergi mendatangi mereka yang kini ikut panik mereka bertiga segera menuruni tangga kayu yang mereka bawa insiden begitu mencekam mereka terlihat oleh laki-laki layaknya bodygard yang ingin mencelakai Michel.

Daren yang melihatnya segera berlari tembakan itu melesat lurus mengenai Daren yang sedang memeluknya semua orang sontak terkejut begitu juga kakek wijaya mereka para penjahat segera berhambur pergi melihat kejadian ini.dengan segera Daren dilarikan kerumah sakit terdekat.

                                                                        ***

Rintikan hujan membasahi ranting-ranting dedaunan berlambai-lambai mengikuti arah angin,ribuan semut berlari menyelamatkan diri awan terlihat gelap bersama dengan gelapnya harapan Mischell ia tampak panik,seorang perempuan separuh baya menghampirinya dengan senyum tenang.

 “Pulang aja dulu chell biar tante aja yang nemenin daren disini,”uajrnya sembari tersenyum

 “Iya tante mischell pulang dulu ya..”.

 “Iya chell istirahat aja dulu besok kamu bisa kembali lagi untuk menjenguk daren”.

Michell pulang dengan hati kecewa sebenarnya ia masih ingin menemani daren hingga daren sadar.

Cukup lama daren mendapat perawatan dari rumah sakit kini ia sudah tampak di sekolah membuat Mischel sangat bahagia melihatnya.

“Kenapa chel seyum-senyum lo rindu ke gue”.

“Gak biasa aja kok”balasnya sembari sedikit berlari menuju kelas.

“Chel .... lo di undang makan bareng sama keluarga gue,” teriaknya sembari tersenyum puas melihat kalakuan Michel.

Michell yang mendengarnya segera berhenti sejenak sembari membalik badan dengan cepat ia segera mengangkat ibu jarinya kemuadian kambali berlari hingga tidak lagi terlihat.

                                                                        ***

Malam yang begitu tenang bintang-bintang tampak indah membuat malam Mischel lebih berwarna. Entah apa yang ada di benaknya saat ini mungkin ia bahagia atau sebaliknya ia bergegas meminta izin kepada kakeknya kakek? Iya kakek wijaya ia sudah mengizinkannya semenjak insiden yang terjadi 2 minggu yang lalu.

“Kek michell pergi dulu ya.. ada janji dengan daren”.

“Iya hati-hati ya soalnya bodygard gak ikut”.

“Iya kek pasti kan ada daren”.

Ia segera keluar rumah bertepatan dengan daren yang datang menggunakan mobil sportnya.

Mobil sport merayap keluar dari halaman rumah Michel kemudian melaju agak cepat menembus angin malam yang begitu dingin kini mobil memasuki rumah yang memiliki halaman yang cukup luas. Terlihat perempuan separuh baya yang tak asing lagi untuk Mischell. Dengan segera ia keluar menghampirinya.

 “Tante laila...”.

 “Ya ampun michell... tante sudah  nungguin kamu dari tadi,ayo masuk tante sudah masakin makanan yang enak untuk kita,” ujarnya sembari menarik tangan Michel.

                                                            ***

Daren, tante Laila dan Michell sudah duduk rapi di meja makan sembari menunggu Alex papa Daren mereka berbincang sembari tertawa bersama namun semuanya berubah serius setelah Alex datang laki-laki kekar itu masuk dengan wajah datar mereka sontak berhenti tertawa terutama Michel.

 Ia sangat terkejut bahkan ia segera beranjak dari kursi ia menatap laki-laki itu dengan penuh kebencian Daren dan Laila yang tidak mengerti menatap ke arah mereka dengan ekspresi bingung.

“Hei michell... kamu sudah dewasa ya,” ujar Alex sembari tersenyum licik kepada Michell yang ketakutan.

“Diam...dasar kau pembunuh,” balasnya sembari menangis.

“Kau pintar anakku, kau secara tidak sadar sudah melancarkan rencanaku aku tak perlu lagi cari gadis ini,” ujarnya sembari tersenyum Laila dan daren sontak terkajut.

Laila yang sangat kecewa menghampiri suaminya sembari memukul dengan brutal sementara Michell menangis ia tak menyangka orang yang telah membunuh orang tuanya adalah ayah dari Daren yang selama ini bersamanya.

“Kurang ajar... kamu lebih memihak gadis itu,” ujarnya sembari memasang wajah marah. tanpa sadar ia menusuk istrinya sendiri dengan  belati tajam yang setiap saat ia bawa dan segera menghampiri Michell yang menangis semakin keras daren segera berlari menghampiri mamanya yang sudah tak berdaya tetapi ia juga bingung karena melihat Michell yang di bawa pergi oleh ayahnya tidak berfikir lama ia segera membawa mamanya ke rumah sakit.

Kakek wijaya mendengar informasi itu sangat panik ia segera menggerakkan semua bodygardnya untuk mencari keberadaan Michell.tidak lama mereka mencari keberadaan Michell mereka menghampiri tempat yang memang agak jauh dari pemukiman warga dengan segera mereka bergegas mengepung rumah yang terlihat sangat kumuh itu daaren ikut serta datang dalam pengepungan.

Kelompok Alex yang merasa dalam bahaya segera keluar dari persembunyiannya sembari membawa michell.

“Oh wijaya hebat sekali kau mencari keberadaan cucumu ini,” ujarnya sembari tersenyum jahat pada kakek wijaya yang sedang fokus menatap ke arah Michell dengan sebuah harapan.

“Diam pembunuh!!!”ujar Daren tiba-tiba dengan raut beringas.Ia menodongkan pistol ke arah ayahnya sendiri.

“Apa yang kamu lakukan daren? Aku ini ayah mu”.

semua orang sontak menatap daren dengan expresi bingung.

 “Ayah?... ayah macam apa kau yang sudah membunuh ibu ku, membunuh istrimu sendiri,” sembari bergetar ia berkata ia rasanya sangat kecewa.

 Alex yang mendengarnya sontak terdiam dia tigak menyangka denagn apa yang ia lalukan. (dorr...)seketika alex tersungkur dengan sekali tembakan dari wijaya terlihat kakek wijaya tersenyum sembari menghampirinya michell juga segera berlari mendekati daren yang terdiam.

 “Aku tak mau melihatmu membunuh ayahmu sendiri,”ujarnya sembari tersenyum hingga memeluk Daren secara bersamaan mereka melihat bodygard alex sudah berhambur di kejar para polisi yang sedari tadi sudah di siap kan kakek wijaya sementara bodygardnya tersenyum puas atas kemenangannya.

 “Michell...daren... kakek mau kalian bisa hidup bersama selamanya...., buat kakek bangga ya...”ujarnya sembari memeluk kedua insan yang sangat ia sayangi.

“Kalian pasti bahagia michelda percayalah”.

 Senyum ceria kembali muncul daun-daun melambai burung-burung berkicau ikut serta bahagia dengan kemenangan yang mereka dapatkan dapatkan.

*Seseuatu sempurna dengan saling melengkapi bukan dengan menjatuhkan*

*****
Kharisma Wulandari asal kalimantan,semester 2 progam study pendidikan agama islam,fakultas tarbiyah,di Institut Dirosat Islamiyah AL-Amin Prenduan Sumenep dan menjadi Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pers(UKMP).

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8198384281601605125

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item