Mendifinisikan Literasi


 Oleh Januarisdi

Literasi (literacy) adalah sebuah terminologi yang sangat rancu, sehingga tidak mudah difahami. Secara leksikal, sebagian besar kamus memang mendefinisikan kata literasi sebagai “kemampuan membaca dan menulis”; namun, setelah dikaji lebih jauh ternyata liteasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis.

Literasi adalah kajian mutidispliner dan multidimensional yang mencakup berbagai bidang kajian seperti psikologi, sosiologi antropologi, linguistik, ilmu pendidikan, ilmu informasi dan perpustakaan, ilmu politk, ilmu budaya dan tekhnologi. Masing bidang ilmu tersebut memandang literasi dari perspektif masing‐masing sehingga memuculkan berbagai definisi literasi. Selama rentang tahun 1940an sampai 1950an, ditemukan ratusan defnisi literasi (Roberts, 1995) yang tidak saling menemukan kesepakatan.

Akibatnya adalah bahwa kita mengalami kusilitan mendikotomikan warga negara yang “literate” (berkemampaun literasi) dan warga negara yang “illiterate” (tidak berkemampuan literasi).

Berbagai definisi telah dikemukakan oleh pakar berbagai bidang ilmu. Tuinman (1978), umpamanya, mendefinisikan literacy sebagai kemampuan untuk berhubungan secara cerdas dengan informasi simbolik terekam secara mandiri. Sementara itu, Tilley (1984) mendefinisikan literacy sebagai kompentensi yang digunakan oleh setiap orang dalam usaha memahami dan menggunakan apa yang ia baca, dan mengungkapkan apa yang dia maksud dalam tulisannya, sehingga ia bsa terlibat secara efektif dalam aktivitas yang harus ia lakukan.

Harman (1987) mendefinikan literacy sebagai sebuah gabungan ketrampilan teknis yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungan tertentu dimana dia hudup dan berperan. Wells (1990) mendefinisikan literacy sebagai memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis teks secara tepat untuk memperkuat tindakan, rasa dan pikiran dalam kontek aktivitas yang jelas. Ranema (1976) mendefinisikan literacy bukan sebagai memiliki ketrampilan tekhnis membaca dan menulis, tapi memulai jurney (petualangan) dari kesadaran primer sampai ke kesadaran kritis.

Karena bukan sekadar kemampuan memabaca dan menulis, istilah “keaksaraan” dan “keberaksaraan” bukan terminologi yang tepat sebagai padanan istilah literasi. Istilah keaksaran memiliki makna yang terbatas pada kemapuan membaca dan menulis, pada hal literasi mengandungan makna yang jauh lebih luas mencakup proses kognitif, cara berfikir, dan cara berkehidupan yang lebih luas.

Kamus Besar Bahasa Indoensia mendefinisikan kata “aksara” sebagai “sistem tanda‐tanda grafis yang dipakai manusia untuk berkomunikasi…”. Sementara kata ‘keberaksaraan’ didefinisikan sebagai kemampuan membaca dan menulis, yang seperti berpadanan denga kata ‘literate’. Instilah literacy, literate, dan illiterate, walaupun berkaitan dengan persoalan membaca dan menulis, bukan bermakna kemampuan membaca dan menulis.

Langer (1987) bahkan melihat literasi bukan sebagai serangkain ketrampilan (skills); ia menandaskan bahwa literasi adalah sebuah aktivitas— sebuah cara berfikir; literasi adalah aktivitas yang dilakukan dengan sengaja, sadar dan bertujuan.

Untuk meluruskan berbagai pemahaman yang saling tidak mendukung tentang literasi, literasi bisa dilihat dari dua perspektif: 1) literasi dilihat dari perpektif kajian kognisi, literasi dilihat dari kajian sosial dan budaya. Dari perpektif pertama (dari kajian psikologi koglogi kognitif), literasi dipandang sebagai sebuah aktivitas kognitif yang bersifat otonum.

Stanovich (1986) dan Bryant (1990), seperti dikutip oleh Rasool (2002) mengungkapkan bahwa litersi adalah “proses kognitif yang melandasi membaca dan menulis tentang bagaimana membaca”. Bagi mereka, mengajar literasi adalah mengajarkan ketrampilan membaca dan menulis yang hasilnya diukur dalam bentuk pemerolehan ketrampilan dan keuntungan sosial dan personal yang didapatkan dari kondisi seseorang yang literate.

Kemampuan membaca dan menulis dipandang sebagai hal yang sangat penting dalam meningkatkan dan mengembangkan ‘penluang hidup’ seseorang. Rasool (2002) mendefinisikan literasi dalam artian tingkat kedalaman makna yang dihasilkan dari hubungan antara orang dengan teks, strategi linguistik, dan pengetahuan budaya yang digunakan sebagai kunci untuk masuk kedalam makna yang melengket pada teks tersebut.

Dari perpektif kajian sosial, litersi dipandang sebagai sebuah praktik sosial yang disebut juga dengan “The New Literacy Studies”. Para pendukung pandangan ini (seperti Allan Luke, Scribener, Cole, Burton, D, Hamilton, M, Collin, Street, dan Ivanic, R) melihat bahwa literasi memiliki dampak kekuasaan ekonomi dan politik yang melahirkan konsep “literacy as power” (literasi sebagai kekuasaan). Mereka melihat literasi sebagai sebuah kerangka analisis konseptual yang tidak terlepas dari kajian‐kajian sosial termasuk kajian antropologi sosial, sosiologi, dan sosioloinguistik.

Mereka memasukkan kajaian tentang organisasi, sistem konseptual, struktur politik, dan proses ekonomi kedalam kajian literasi. Mereka menekankan bahwa kajian literasi adalah sebuah proses yang berlansung dalam konteks sosial dan budaya. The New Literacy Studies berdasarkan pada pemikiran bahwa membaca dan menulis berlangsung didalam konteks dan wacanan sosial. Dengan demikian literasi didefinisikan sebagai aktivitas dan tradisi sosial yang memiliki dampak terhadap status sosial.

Terlepas dari kesulitan mendefinisikan dan keragaman definsi literasi seperti digambarkan diatas, kita perlu menarik suatu pandangan bersama bahwa literasi adalah sebuah aspek psikologi kognitif yang tidak terlepas dari aspek buadaya sosial. Walaupun proses membaca dan menulis belansung secara psikologis didalam diri individua, praktik literasi sangat dipenaruhi oleh dan mempengaruhi konteks sosial dan budaya. Walaupun, pengikut new literacy studies berpandangan bahwa literacy tidak mempengaruhi perkembangan kognitif seseorang, kita dapat memahami bahwa kehidupan masyarakatliterate lebih berkualitas dari kehiduapan masyarakat illerate. Dengan demikian, pembangunan kualitas kehiduapan masyarat harus dimulai dari pengembangan budaya literasi.

(Januarisdi, Pustakwan Madya Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang)

Diunduh dari https://adoc.pub/membangun-budaya-literasi.html

Tulisan bersambung:

  1. Pentingnya Literasi Emergent Bagi Pembangunan Budaya Literasi
  2. Membangun Budaya Literasi
  3. Memahami Hakikat dan Proses Membaca
  4. Membangun Literasi

 

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 770644134984808191

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item