Membangun Budaya Literasi


Oleh Januarisdi

Persoalaan sentral bangsa Indonesia dari dulu sampai sekarang adalah budaya literasi yang didalamnya terdapat budaya baca yang sering salah difahami sebagai minat baca. Kita terlalu lama menghabiskan waktu energi dan dana untuk membangun minat baca yang sepertinya selalu gagal (lihat bagian Pendahuluan tulisan ini).

Sebagaimana diungkapkan diatas, bahwa pesoalan yang sesungguhnya bukan minat baca tapi rendah kemampuan baca yang berdampak pada ketidakgemaran membaca, yang pada gilirannya tidak berkembangnya budaya baca (Mattew Effect). Oleh karena itu, kenapa tidak kita belajar dari bangsa tentangga yang telah berhasil membangun budaya literasi, seperti Malaysia, Thailand, Finilipina dan Songapura yang budaya literaasi sudah lebih baik dari kita.

Pentingnya Emergent Literacy

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi budaya literasi yang terabaikan adalah pentingnya kemunculan dan perkembangan kemampuan literasi pada masa usia dini. Seperti diungkapkan oleh banyak ilmuan bahwa foktor yang dikenal dengan istilah emergent litercy ini sangat menentukan perkebangan literasi seseorang pada masa sekolah sampai masa dewasa.

Whitehurst dan Lonigan (1998), umpamanya, mengungkapkan bahwa emegergent literacy merupakan sebuah kontinum perkembangan literasi yang bermula pada masa dini kehidupan anak‐anak, bukan fenomena yang mulai pada saat anak diajar membaca secara formal di sekolah. Penelitian lain mengungkapkan bahwa sensitivitas fonologis, pengetahuan tenang huruf (bentuk dan bunyi) dan perkembangan bahasa lisan pada masa prasekolah 72% mempengaruhi kemampuan membaca pada masa sekolah awal (Lonigan, 2000).

Pada dasarnya, emergent literacy bukan aktivitas membaca aktual seperti yang kita lihat pada anak‐anak usia sekolah dan orang dewasa. Seperti diungkapkan oleh Saint‐Laurent dan Giasson, 1999) bahwa istilah “emergent literacy” dideskripsikan sebagai prestasi anak‐anak dalam hal pengetahuan, kemampuan, dan sikap terkait memabaca tanpa pengajaran formal sebelum anak‐anak mulai membca secara konvensional.

Pada usia praksekolah (dibawah 7) tahun, anak‐anak memang belum diajarkan membaca, tapi pada mereka hendaknya sudah diperkenalkan segala sesuatu terkait membaca. Mereka sudah diperkenalkan tentang buku, tentang huruf, fungsi bahan bacaan (cerita, isnstruksi, pengtahuan dan sebagainya). Sehingga pada usia ini mereka telah membangun sikap yang konstruktif terhadapa literasi.

Peranan orang tua dan orang terdekat dalam lingkungan anak tidak dapat dipungkiri sangat menentukan dalam hal menumbuhkan emergent literacy. Wells, (1986) dan Vygotsky (1962) seperti dikutip oleh Elster (1994) mengungkapkan bahwa pada anak usia dini, belajar menggunakan bahasa dan literasi tidak terpisah dari penciptaan dan berbagi makna dan

aktivitas yang penuh makna bersama orang lain. Pada saat anak‐anak mulai belajar tentang membaca dan menulis di rumah dan dalam masyarakat, penguasaan mereka terhadap simbol‐simbol alfabetis terbentuk bersamaan dengan pemahaman yang dalam konteks yang luas tentang literasi (Goodman, 1984; Purcell‐Gates, 1986 didalam Elster, 1994).

DeCusati dan Johnson (2204) (banyak lagi yang lain) mengungkapkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam menumbuhkan emergent readng. Ringkasnya, penumbuhan dan pengembangan emergent literacy, yang merupakan basis utama budaya literasi, membutuhkan perhatian serius mulai dari orang tua, lingkugan keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Budaya literasi tidak hanya mengacu ke aktivitas membaca masyarakat saja, tapi juga dari penghargaan, sikap dan prilaku masyarakat tersebut terhadap literasi itu sendiri. Penghargaan terhadap literasi mencerminkan keyakinan yang dimilki oleh sebuah masyarakat bahwa literasi memiliki nilai khusus yang harus dijunjung bersama.

Pada masa lalau, orang yang memilki kemampuan membaca dan memiliki koleksi bahan bacaan lebih dihormati dari yang lain dan memilki kebanggaan tersendiri. Masyarakat yang memilki budaya literasi biasanya memiliki sikap positif dan konstruktif terhadap segala sesuatu terkait literasi, seperti bahan bacaan.

Sikap tersebut tercermin dari prilaku mereka terhadap aktivitas literasi dan material terkait literasi. Umpanya, kita belum bisa menyebutkan sebuah masyarakat sudah berbudaya literasi jika masyarakat tersebut belum memiliki perpustakaan yang dikembangkan dan dikelola oleh mereka sendiri; kita belum bisa menyebutkan bahwa sebuah masyarakat telah berbudaya literasi, jika kita belum menemukan aktivitas membaca secara terus menerus dalam masyarakat tersebut tanpa tekanan tertentu. Semua ini adalah cerminan sikap dan prilaku masyarakat tersebut terhadap aktivitas terkait literasi.

Selain orang tua dan masyarakat, pemerintah sebagai lembagai formal yang mengurus, memfasilitasi, dan mengayomi masyarakat, memiliki peranan yang sangat sentral dalam membangun budaya literasi. Secara umum, peran pemerintah dalam hal ini dapat dikelompokkan atas dua: 1) peran regulasi, 2) dan peran fasilitasi.

Dalam hal regulasi, pemerintah tidak hanya berperan mengadakan regulasi (seperti Undang‐undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan), tapi juga mendorong dan mengawasi implementasinya. Dalam hal peran fasilitasi, pemerintah sebagai mana diatur oleh peraturan perundang‐undangan, harus menyediakan fasilitas terkait literasi seperti perpustakaan, bahan bacaan, subsidisi penerbitan, dan sebagainya.

Simpulan

Dari uraian dan diskusi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa persoalan medasar bangsa Indonesia dalam hal pendidikan dan literasi bukan adalah kemampuan membaca, bukan minat baca seperti yang selama ini kita wacanakan. Akibat dari kesalahan memahami persoalan ini, kita tidak menghiraukan persoalan kemampuan membaca, baik dari perpektif akademis maupun dari perspektif finansial.

Dari perspektif akademis, kita tidak begitu peduli dengan tigkat pemahaman, kecepatan dan kemampuan membaca kritis masyrakat kita. Dari perspektif finansial, kita belum melihat adanya minat pemerintah dalam mengalokasikan anggaran negara untuk subsidi penerbitan secara signifikan sehingga masyarakat dapat memperoleh bahan bacaan dengan harga terjangkau.

Ketertinggalan dalam hal budaya literasi bangsa Indonesia sangat dipengaruhi oleh kegagalan kita dalam menangani emergent literasi yang langsung berdapak pada kegagalan berikutnya. Seperti mendirikan bangunan, bangsa Indonesia tidak memilki fondasi bangunan literasi yang kokoh, sehingga seluruh konstruksi bangun literasi menjadi berantakan dan rentan roboh.

Ketidakgemaran bangsa Indonesia dalam hal membaca yang kita hadapi sekarang ini bukan hanya dipengaruhi oleh latar belakang budaya orality (lisan) bangsa Indonesia, tapi lebih banyak disebabkan oleh kegagalan kita mengkondidikan budaya literasi pada usia dini.

Usaha mmbangun budaya literasi harus dimulai dari pengkondisian masyarakat usia dini dengan melibatkan orang tua dan orang terdekat lainya. Keterlibatan masyarakat secara lebih luas mulai dirasa perlu pada saat anak‐anak mualai memasuki lingkungan yang lebih luas, seperti sekolah dan mayarakat tempat tinggal.

Keterlibatan pemerintah dalam hal pengadaan regulasi dan fasilitas sangat mendukung tumbuhnya budaya literasi. Peran, pemerintah (pusat dan daerah), dalam hal ini, tidak hanya sebatas menyediakan regulasi; keterlibatan pemeriintah dalam mendorong dan mengawasi implementasi regulasi tersebut lebih penting disamping penyediaan fasilitas seperti perpustakaan, bahan bacaan dan falitas terkait literasi lainnya.

Reference

Alderson, J. Charles (2005). Assessing Reading. New York: Cambridge Universty Press. Carrell, P. L., B. G. Pharis, and J. C. Liberto. 1989. Metacognitive strategy training for ESLreading. TESOL Quarterly 23 (4): 647‐78.

Carrel, Patricia L. (1989). Metacognitive Awareness and Second Language Reading. The Modern Language Journal, Vol. 73, No. 2. http://www.jstor.org/stable/326568

DeCusati, Cheryl L. Porter dan Johnson, James E. (2004) Parents as Classroom Volunteers and Kindergarten Students' Emergent Reading Skills. The Journal of Educational Research, Vol. 97, No. 5 (May ‐ Jun., 2004), pp. 235‐246 http://www.jstor.org/stable/27548036

Dhieb‐Henia, Nebila (2006). Applying Metacognitive Strategies to Skimming Research Articles in an ESP Context. English Teaching Forum. Volume 44 Number 1

Elster, Charles (1994). Patterns within Preschoolers' Emergent Readings. Reading Research Quarterly, Vol. 29, No. 4 (Oct. ‐ Nov. ‐ Dec., 1994), http://www.jstor.org/stable/747787

Gee, James. The New Literacy Studies and the "Social Turn". http://www.schools.ash.org.au/litweb/page300.html.

Harman, D. (1987) Illiteracy: a National Dilemma (New York, Cambridge).

He Ji Sheng (2008). A Cognitive Model for Teaching Reading Comprehension. English Teaching Forum. Volume 38, Number 4

Kolić‐Vehovec, Svjetlana dan Igor Bajšanski. Metacognitive strategies and reading comprehension in elementary‐school students. European Journal of Psychology of Education, Vol. 21, No. 4 (December 2006), http://www.jstor.org/stable/23421392.

Langer, J. A. (1987) A sociocognitive perspective on literacy. In J. A. LANGER (ed) Language, Literacy and Culture: Issues of Society and Schooling. New Jersey, Norwood.

Saint‐Laurent, Lise dan Giasson, Jocelyne (1999). Four Canadian Kindergarten Teachers' Reports about the Implementation of an EmergentReading Program. The Elementary School Journal, Vol. 100, No. 2 (Nov., 1999), http://www.jstor.org/stable/1002210

Steinberg, D.D, Ngata, H. and ALine, D. (2001). Psicholinguistics: Language, Mind and World.

Harlow: Pearson Education Limited.

Tilley, C. M. (1984) Australian public libraries, the library association of Australia, and literacy, Australian. Journal of Adult Education, 24 (2), 13‐20.

Tuinman, J. J. (1978) From the editor. Journal of Reading Behaviour, 10 (3), 229‐ 231. Wells, G. (1990) Creating the conditions to encourage literate thinking, Educational Leadership, March, 13‐17.

Whitehurst, Grover J. dan Lonigan, Christopher J. (1998). Child Development and Emergent Literacy . Child Development, Vol. 69, No. 3 (Jun., 1998), http://www.jstor.org/stable/1132208

***

(Januarisdi, Pustakwan Madya Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang)

Diunduh dari https://adoc.pub/membangun-budaya-literasi.html (hal 1-3)

Tulisan bersambung:

  1. Pentingnya Literasi Emergent Bagi Pembangunan Budaya Literasi
  2. Membangun Budaya Literasi
  3. Memahami Hakikat dan Proses Membaca
  4. Membangun Literasi

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 1690916050758104733

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item