Memahami Hakikat dan Proses Membaca


Oleh Januarisdi

Walaupun membaca merupakan aktivitas yang tidak asing lagi bagi umat manusia di seluruh dunia saat ini, tidak banyak yang menyadari hakikat membaca dan bagaimana proses membaca itu berlangsung. Ketidaktahuan ini tidak hanya berdampak rendahnya perhatian dan penghargaan kita terhadap membaca, tapi juga kualitas baca. Banyak peneliti telah mengungkapkan hubungan positif antara metacognitif skills (pengetahuan tentang proses kognitif membaca dan ketrampilan mengedalikannya) dengan prestasi membaca.

Carrel, (1989) mengungkapkan pentingnya kesiagaan metakognitif (metacognitve awereness) dalam membaca bahasa kedua. Dhieb‐Henia (2006) memperkenalkan metode penerapan ketrampilan metakognitif dalam membaca skimming. Kolić‐Vehovec and BajšanskiSource (2006) mengungkapkan hubungan positf antara kemampuan metakognitif dengan membaca pemahaman anak‐anak sekolah dasar. Ringkasnya, pemahaman tentang hakikat dan proses membaca perlu dijadikan perhatian bagi pemerhati dan praktisi membaca.

Pada dasarnya membaca adalah proses kognitif yang melibatkan kegiatan rekognisi atau pendektisian, interpretasi, dan persepsi bahasa tertulis/ tecetak (He Ji Sheng 2008:1). Proses ini tidak belangsung satu arah (dari teks ke pembaca), tapi dua arah, dari teks ke pembaca‐dari pembacake teks.

Proses rekognisi melibatkan pengetahuan yang telah pernah ada dalam sistem memory pembaca yang disebut dengan prior knowledege atau backround knowledge, yang mencakup pengatahuan dan penglaman kebahasaan (sperti kosa kata, gramatika, dan semantik) dan non‐kebahasaan seperti budaya, emosional, spritual. Proses interpretsi merupakan proses pemberian makna terhadap simbol tertulis berdasarkan apa yang ditemukan pada proses rekognisi. Terkhir, melalui proses persepsi, hasil interpretasi tersebut disimpulkan menjadi sebuah manka baru dan disimpan ke “file” baru dalam sistem memory.

Walapun He Ji Sheng (2008:1) menyatakan bahwa pembaca adalah menerima informasi dari penulis melalui kata‐kata, kalimat, paragraf dan seterusnya, kemudian mencoba memahami apa yang dimaksudkan oleh penulis, pembaca sebenar tidak memperoleh informasi dari teks/ bacaan. Pada dasarnya informasi tetap tinggal didalam sistem kognisi penulis; dan tidak pernah keluar dari otaknya. Seperti yang dijelaskan oleh Steinberg (2001:321‐323) bahwa menurut teori Wernick tentang membaca, pada saat melihat kata atau simbol tulisan, sinyal masuk dari mata menuju kawasan visual cortex di occipital lobe, terus ke angular gyrus, menuju area Wernick’s dan lansung menemukan makna. Sayangnya, teori Wernick tidak tegas menjelaskan bagaimana makna tersebut ditemui.

Sebernya, pembaca tidak menerima informasi dari bacaan, tapi ia memproduksi, atau menciptakan informasi baru; yang diterima oleh pembaca hanya sinyal, kode atau simbol. Benar, bahwa informasi baru tersbut tidak muncul atau tercipta begitu saja, tapi tercipta berdasakan proses yang melibatkan informasi dan pengetahuan yang telah ada sebelumnya.

Memang, anatara pembaca dan penulis terjadi suatu “negosiasi ghoib” melaui perentaraan simbol atau teks. Pembaca berusaha seoptimal mungkin mendekatkan informasi baru yang diciptakannya dengan informasi yang ada didalam pikiran penulis. Proses negosiasi ini disebut oleh He Ji Sheng (2008:1) sebagai proses pemahaman (comprehension process) yang berbeda dari proses membaca. Proses membaca merupakan proses komunikasi antara pembaca dengan penulis yang melbatkan rekognisi huruf, kata, klausa, dan kalimat, interprestasi dan persepsi; sedangkan pemahaman adalah proses negosiasi makna antara pembaca dan penulis yang melibatkan proses psikologis yang lebih kompleks yang tidak hanya melibatkan faktor linguistik, tapi juga aspek kognitif dan emosional.

Dengan cara berbeda, prose memabaca dapat difahami dari dua pendekatan: 1) pendekatan bottom‐up, dan penedekatan top‐down. Pendekatan bottom‐up (berbasis pendekatan psikologi behaviorisme) adalah sebuah model serial dimana pembaca memulai proses dengan kata tercetak (printed word), mengenal stimulus grafis, mendekodekan (decode) stimulus tersebut menjadi bunyi, mengenal kata dan mendekodekan kata tersebut menjadi makna.

Setiap komponen tersebut melibatkan proses yang tidak saling tergantung satu sama lain, dan membangun diatas sub‐proses sebelumnya; sub‐proses yang lebih tinggi tidak dapat mundur ke sub‐proses yang lebih rendah. Sementara pendektanan top‐down menekankan pentingnya informasi atau pengetahuan yang telah ada dalam sitem memori pembaca yang diaktifkan pada saat membaca. Pendekatan yang berbasis model teori skema (schema‐theoritic models) ini melihat bahwa pada saat membaca, pembaca mengaktif jaringan informasi atau pengetahuan yang telah ada dalam sistem otaknya (shema) untuk menyaring informasi yang baru masuk melalui simbol tertulis (Alderson, 2005:16‐17).

(Januarisdi, Pustakwan Madya Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang)

Diunduh dari https://adoc.pub/membangun-budaya-literasi.html (hal 1-3)

Tulisan bersambung:

  1. Pentingnya Literasi Emergent Bagi Pembangunan Budaya Literasi
  2. Membangun Budaya Literasi
  3. Memahami Hakikat dan Proses Membaca
  4. Membangun Literasi
POSTING PILIHAN

Related

Utama 8089612724435044761

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item