Sajak-sajak Luri Pringgandani, Palembang Sumsel

 


Luri Pringgandani, lahir  di Lubuk Tua, 02 Desember 2003, berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Kini aktif sebagai mahasiswi Semester 3 PAI Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Sumenep


Pergi

Sudut tembok yang mendengar
Dua Indera yang  bersaksi
Raga mengabur dari  pandangan

Pergi…
Sikap ini tanpa sengaja mengusirnya
Kekhilafan….
Benarkah kepergiannya karena kekhilafanku?

Akankah daun pintu itu mencegahnya?
Ataukah langit akan menghalanginya?
Pertanyaan bodoh yang terpikir
Rasa ingin mengembalikanmu sekali lagi

Salah…
Semuanya jelas salah
Bumi sudah merestui kepergiannya
Tapi aku pasti akan mencari
Untuk memperdebatkan kepergiannya
Bukan untuk pengemisan
Bukan juga pengembalian
Tapi sebagai pembuktian




Sang Penyair

Tulisan dan torehan
Menjelaskan antara suka dan duka
Berteman lama dengan pena
Melampiaskannya pada lembaran
Menumpahkannya dalam bait-bait indah

Rayuan dan gombalan ialah temanmu
Kata-kata dan lantunan adalah makananmu
Raga itu kiasan rasamu
Hadirku tak menjadi tulisanmu

Rayuan biasa kau lakukan
Menembus ketidakmampuan lisan
Penyair orang memanggilmu




Pagi

Pagi dan udara
Menghadirkan berjuta pembaharuan
Mengusirkan sebuah kegelapan
Lalu datanglah surya ke dunia

Sajak-sajak malam sudahlah tak guna
Sajak-sajak Haluan sudahlah terabaikan
Kini hadirlah kenyataan
Sebagai jawaban atas Haluan malam

Haluan itu tidak bersalah
Lalu siapakah yang bersalah?
Haluan? Tidak, sudah kujelaskan
Aku? Yah, kau yang salah
Kau penghalu yang salah

Namun aku akan tetap menikmati pagi
Sebagai pembuktian atas haluanku
Sebagai pembuktian terlaksananya rencana




Senja dan matamu

Senja tenggelam di wajahmu
Kau bukanlah rembulannya Ray
Tapi kau adalah senjaku
Yang datang dan pergi diwaktunya

Semuanya harus paham!
Keistimewaanmu lebih dari senja

Ingin aku mendatangimu sejenak
Sekedar berkata saja
Sesuatu telah mengalahkan keindahan senja
adalah sipit matamu Ketika engkau tersenyum

ohh, andai saja bibir ini dapat berucap
pasti sudah aku katakan padanya
matamu telah mengalahkan keindahan senja
senja dan matamu…




Waktu

Karena waktu perasaan yang dulu tertanam menjadi lebur
Karena waktu janji yang terangkai mulai terbengkalai ....
Karena waktu telah merubah Perasaan cinta menjadi benci

Waktu singkat telah menghadirkan benci
Waktu memasukkan  mengkudu ke dalam kalbumu
Waktu telah menggenangi air asin di wajahku

Apakah waktu sanggup merubah kisah ini?
Akankah kisah ini berakhir indah?
Bagai kisah Rangga dan cinta
Atau akan berakhir tragis
Bak kisah Qais dan Layla

POSTING PILIHAN

Related

Utama 2722925655856984299

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item