Sajak-sajak MK. Laksamana


MK. Laksamana
, adalah santri PPA. Lubangsa Utara sekaligus siswa kelas akhir SMA Annuqayah dan aktif di Komunitas Laskar Pena Lubtara.


Jalan Sastrawan

Kata-kata berjatuhan
Di jalan makam pahlawan
Menjadi saksi perjuangan
Bagi para sastrawan
Yang mengenang kematian.

Tanah subur
Menghidupi mimpi
Yang menjadikan kami
Tumbuh secara alami.

Perlahan,
Kata masuk dalam pikiran
Seakan sastrawan adalah jalan
Yang bisa diajak kencan.

Lubtara, 2023



Menjunjung Namamu


Tiang pencakar langit
Berwarna kemerdekaan
Menjunjung sil-sila
Lewat cericitnya
Yang menyisakan rindu haru
Atas jerit nan pasrah,
Asal terhenti dari cerita
Dalam air mata.

Sungguh aku sanjung namamu
Dalam perjalanan sejarah
Hingga membuka cakrawala
Pada jiwa anak bangsa
Yang cinta akan tanah airnya.

Lubtara, 2023



Bersembunyi

Di sinilah aku bersembunyi,
Sebelum mereka pergi
Juga tahu bahwa pribumi
Telah mencapai puncaknya
Di tanah penuh darah
Dan tangis penuh sejarah.

Di sinilah aku bersembunyi ,
Di lubang tengah sawah
Demi terlepas dari musibah
Karena pemangsa keras kepala
Yang tak percaya
Akan merdekanya pribumi.

Di sinilah aku bersembunyi,
Untuk menghilangkan ketidaktahuan
Menuju jalan penuh keindahan
Dan kemerdekaan
Yang penuh dalam perjuangan.

Lubtara, 2023




Sunyi

Menghilang dari suara
Dalam secarik kertas suci
Di dunia yang seakan tiada.
Karena nanti, saat aku bersembunyi
Di balik kehidupan sunyi
Yang di hiasi seorang diri,
Seolah aku di buat kisah
Sepanjang air mata mengalir
Dari gelisah sebelum resah.

Walu jejak selalu aku sisakan
Dalam keramayan, tetap saja
Aku bersembunyi dalam kesunyian
Yang tidak akan berkilau.

Lantas kegelapan adalah tanda
Bahwa teman sejati dalam mimpi
Yang kemungkinan bersama sampai mati.

Lubtara, 2023





Do’a Manusiawi

Jalang-jalang berkeliaran,
Menawarkan, menyapa, dan mengoda
Dengan duduk terpapar di pinggir jalan
Tanpa sedikit rasa iba,
Dalam pikirannya hanyalah kenikmatan
Dan keindahan hidupnya di dunia.

Tapi kenapa Tuhan
Ada yang lebih dari seekor jalang
Dalam dunia hingga mengumbar-umbar
Dari awalnya tiada menjadi ada
Hingga hamba ikut merasa malu dan tersipu
Atas kegilaan dunia yang engkau ciptakan.

Rasanya hamba tak pantas
Untuk menginjakkan kaki di tanah suci
Lantas hamba hanyalah manusiawi
Yang juga punya jalan sendiri
Tanpa sepengetahuan orang sadar
Dan tidak sadarnya,
Bahwa semua tertata rapi
Di akhir zaman nanti.

Lubtara, 2023




Seruh

Aku terlingkup dalam seruh rindu
Di atas angan yang tinggi
Hingga cericitpun ikut mengadu
Mengikuti angin dan tertorehkan
Di atas kertas suci
Yang ternodai oleh kata-kata
Dalam rindu yang lama bersatu.

Lubtara, 2023



POSTING PILIHAN

Related

Utama 519301161404635494

Posting Komentar

  1. Ini saya mk. Laksamana ingin bertanya?
    Puisi saya ini masuk puisi apa di rulis?

    BalasHapus

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item