Kelompok Pengabdian Masyarakat UTM Adakan Sosialisasi Inovatif Pupuk Organik Ramah Lingkungan

Saat dilaksanakan sosialisi pada para petani Desa Bajur Pamekasan

Rulis, Pamekasan
: Kelompok 55 Pengabdian Masyarakat Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengadakan sosialisasi inovatif pupuk organik ramah lingkungan pada para pertani di Desa Bajur di Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan

Sebagaimana diketahui, masyarakat Desa Bajur umumnya mata pencaharian bergantung para tanah garap pertanian dan selama ini dalam menyuburkan ladang pertaniannya menggunakan pupuk kimia dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman dan pengolahan tanah yang mereka butuhkan.

Selain pupuk kimia, beberapa petani juga menggunakan pupuk organik berupa kotoran sapi mengingat sebagian besar petani yang ada di Desa Bajur memiliki hewan ternak berupa sapi. Akan tetapi para petani yang menggunakan pupuk organik tersebut masih terkendala pada proses pengolahannya.

Hal ini juga diakui Ketua Karang Taruna Desa Bajur, Ali Haidar, menurutnya para petani yang memilih menggunakan pupuk kimia kerap terkendala biaya,  sedangkan para petani yang memilih menggunakan pupuk organik terkendala oleh ketidaktahuan mereka akan proses pengolahannya.

Ali Haidar juga menambahkan bahwasanya petani yang menggunakan pupuk dari kotoran sapi hanya diolah seadanya yang mengakibatkan hasil pengolahan tanah dan tanaman tidak maksimal dan se-efektif menggunakan pupuk kimia yang mahal.

“Selama ini warga setempat mengolah kotoran sapi dengan cara dibakar lalu ditabur di atas tanah sebelum bibit tanaman ditanam. Pupuk organik yang biasa digunakan warga sekitar memang bagus untuk tanah dan tanaman, akan tetapi hasilnya kurang maksimal dan tidak efektif, ” ujarna Senin, (3/7/2023).

Untuk itu, kehadiran mahasiswa di desa tersebut cukup membantu untuk bisa mengolah tanah pertaniannya sebagaimana diharapkan.

Sebagian besar petani Desa Bajur kurang mengetahui terkait pengolahan pupuk organik yang dapat meningkatkan hasil tanaman yang dipanen secara maksimal.

Saat praktik pengelolaan pupuk buatan

“Maka dari itu salah satu bentuk pengabdian masyarakat oleh mahasiswa UTM yang terbentuk dalam kelompok 55 ini adalah sosialisasi mengenai bagaimana pengolahan pupuk organik yang baik dan benar serta dapat meningkatkan kualitas baik tanah maupun tanaman,” ungkap Nur Laili, selaku penanggung jawab kegiatan.

Menurutnya, pupuk organik yang terbuat dari kotoran sapi memiliki banyak manfaat dikarenakan memiliki kandungan seperti Nitrogen 0,4-1%, Phospor 0,2-0,5%, Kalium 0,1-1,5%, dan beberapa unsur lain seperti Ca, Mg,Mn,Fe,Cu, dan Zn. Dimana senyawa-senyawa tersebut memiliki manfaat yang baik bagi pertumbuhan tanaman.

 “Adanya pupuk organik olahan ini memiliki banyak sekali manfaat baik bagi tanah maupun tumbuhan,” jelasnya .

“Adapun manfaat dari pupuk organik berbahan dasar kotoran sapi diantaranya yaitu dapat memperbaiki struktur tanah, memperpesar daya ikat tanah, memberikan ketersediaan makanan bagi mikroorganisme, mengandung unsur hara yang lengkap dan masih banyak lagi” tutur Laili.

Pelaksanaan sosialisasi dalam bentuk TTG (Teknologi Tepat Guna) ini selain berupa  sosialisasi sekaligus sebagai bentuk praktek pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi yang  dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 9 Juli 2023 pada pukul 3 sore bertempat di Dusun Klerker.

Sosialisasi tersebut turut dihadiri oleh perwakilan kelompok tani di setiap dusun juga oleh koordinator pertanian Desa Bajur, Kamaruddin.

Adapun kegiatan sosialisasi dimulai dengan pengenalan pupuk organik, yang kemudian dilanjut dengan pemaparan cara pembuatan pupuk organik yang berbahan dasar kotoran sapi. Alat dan bahan yang diperlukan saat sosialisasi pembuatan pupuk kandang dari kotoran sapi yaitu kotoran sapi kering, EM4, molase (tetes tebu), terpal, dan semprotan air.

Teknis sosialisasi sendiri yang pertama yakni mempersiapkan kotoran sapi kering sebanyak 30 kg dan ditaruh di atas terpal. Kedua, penyemprotan EM4 dan molase (tetes tebu) dengan dosis masing-masing 1:2 dan dicampur air sebanyak 3 liter. Terakhir, ditutup dengan terpal agar fermentasi berjalan dengan baik.                   

Proses fermentasi berlangsung selama kurang lebih 2 minggu, dan selama 2 minggu tersebut dilakukan pengecekan secara berkala dengan tujuan untuk melihat kematangan dari pupuk yang telah diolah sebelumnya.

Kegiatan sosialisasi ini ditutup dengan pembagian pupuk organik yang sudah jadi dan pembagian bibit jagung. Adapula doorprize berupa nomer undian pembagian EM4 dan molase gratis bagi audiensi yang beruntung.

Nur Laili menyatakan tujuan pengabdian khususnya para kelompok tani agar meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengolahan pupuk organik sebagai alternatif yang ramah lingkungan.

“Kedepannya agar kelompok petani di Desa Bajur dapat lebih mandiri dalam memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik dalam menunjang kegiatan pertanian” pungkasnya.

Penulis : Ainnaya Shella
Editor  : Auli Rulis

POSTING PILIHAN

Related

Utama 7854661670488381353

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item