Siluet Bayangan Hitam


 Cerpen Lilik Soebari*


Pagi ini Hana kembali berjemur di anak tangga teratas menuju lantai 2. Dengan bersusah payah dirinya merangkak dari anak tangga terbawah ke tangga berikutnya menuju tangga teratas. Untuk mencapai anak tangga ke-18 tersebut, membutuhkan perjuangan dan waktu yang cukup lama.

Dengan bertumpu pada kedua tangan, lalu mengangkat tubuh, beringsut-ingsut disertai napas terengah-engah karena menahan bobot tubuh, Hana selalu menguatkan hati untuk sampai di anak tangga teratas. Di belokan tangga menuju ke atas, Hana beristirahat sejenak. Semilir angin dari jendela terbuka menjadi penyemangat hati dan raganya yang letih.

Saat mencapai tangga teratas, Hana lalu menatap langit yang bersih dan hanya ada awan putih melintas lalu menghilang. Di bawah langit pemandangan yang terlihat atap-atap rumah dan antena parabola menjulang tinggi.

Setelah lelah mendongak, Hana berbalik ke arah barat. Di dinding samping kanan yang terlihat hanyalah bayangan punggung dan rambut sebahu. Bayangannya yang tersorot cahaya matahari.

Tiga tahun lebih rutinitas ini dilakukan, setiap hari Hana duduk di tangga lantai teratas tepat di bawah jendela. Tempat itu demikian nyaman. Cahaya matahari menerobos kaca-kaca besar menghangatkan punggung lalu merasuk ke hati.

Bukan hanya sekadar menjadikan hatinya nyaman, dengan posisi seperti itu Hana bisa memandangi bayangan dirinya sendiri di tembok dengan leluasa. Berbeda saat bercermin melihat bayangan nyata diri benar-benar membuatnya takut. Warna hitam di sekitar mata semakin melebar, kulitnya mengeriput dan wajah pucatnya mengingatkannya pada mayat hidup di film-film horor.

Berbeda ketika melihat bayangannya di dinding,semuanya serba sempurna dan itu sangat menyenangkan dan membahagiakan. Sulur-sulur yang merambat sehangat matahari pagi yang merasuk di tengkuk dan punggungnya.

Sembari menatapi bayangannya, sering kali perasaan putus asa menghantui dan itu ditelannya sendiri dalam-dalam. Kecamuk geram, marah, sakit mampu dihalau dengan mendatangkan senyum di bibirnya. Senyum dan senyum.

Hana selalu berklamuflase di hadapan Bram maupun kedua anak gadisnya. Meski kesedihan demikian mendalam menoreh, apalagi sejak wafatnya ibu mertua setahun silam. Otomatis di tengah kesendiriannya, pikirannya selalu mengembara saat Bram dan anak gadisnya beraktivitas keseharian.

Bram telah banyak berkorban, bukan hanya dalam proses penyembuhan pasca Hana mengalami kecelakaan yang membuat tubuhnya cacat permanen. Bram juga mampu mengekang egonya meski pelayanan Hana tidak maksimal. Hana tak mampu menghadirkan gairah yang demikian panas dan menggebu. Hana merasa dirinya saat ini hanya sebatang gedebok pisang yang dingin.

Sampai kapan Bram mampu bertahan?

Rasa sakit tiba-tiba meruak, mencabik-cabik hati dan serasa luka cabikan itu dibaluri irisan jeruk nipis. Saat mengetahui pertahanan Bram telah runtuh.

Rasa bersalah itu menderanya dari menit ke menit, dari hari ke hari dan kini telah memasuki tiga purnama. Hati Hana hancur karena merasa dirinyalah yang menyebabkan suaminya melakukan dosa besar.

Dirinya yang melakukan itu. Dirinyalah yang menggiring dan menjerumuskan sang suami. Seharusnya Hana lebih awal menyuruh sang suami menikah lagi.

Wajar, Bram masih sehat, masih kuat, dan perlu pemenuhan hasrat libido. Sebenarnya Hana telah meminta agar Bram menikah, namun ditentang kedua anak gadisnya.

”Kakak tidak setuju,” wajah Anggi memerah begitu mendengar usul sang Bunda supaya ayahnya menikah lagi.

”Dedek tidak setuju,” tegas Cindy mengikuti pendirian sang kakak.

”Mengapa tidak setuju? Ini untuk kebaikan kita bersama. Kebaikan bunda, juga kebaikan ayah,” Hana memberikan pengertian pada keduanya.

”Dedek hanya mau satu Bunda,” Cindy terisak lalu memeluk kaki Hana.

”Please, kasihan ayah kalian. Bunda sudah tidak bisa melayani ayahmu secara maksimal,” tangis Hana juga pecah.

”Tapi mengapa harus menikah lagi? Bukankah sudah ada Bik Na yang membantu Bunda?” Cindy bertanya seraya mendongak dan menatap bulir-bulir bening yang menetes.

”Tapi ada kebutuhan lain, Nak. Kau masih belum mengerti,” Hana mengelus dengan lembut kepala anak gadisnya.

”Kalau Ayah ingin menikah lagi, kita bertiga di sini saja, Bun. Biarkan Ayah pergi,” ultimatum Anggi.

Kedua anak gadisnya tetap kukuh tidak mengizinkan sang Ayah menikah lagi. Itu menjadi sumber petaka bagi Hana karena diam-diam Bram menjalin asmara dengan rekan kerja, janda cantik, Siska.

”Satu bulan ke depan aku tidak bisa menyembunyikan kehamilanku,” lontaran kalimat Siska di sore itumeluluhlantakkan ketegarannya.

Bram meraih kepala Siska, lalu menariknya dalam pelukan. Mata laki-laki itu berembun. Napas Hana memburu, namun berusaha mengendalikan emosi, dan kembali pura-pura tertidur.

”Besok kita menemui ibumu,” tegas Bram sembari menghirup napas berat.

Siska terisak, ”Aku telah menyakiti Mbak Hana. Aku telah menikamnya dari belakang.”

”Aku yang salah,” Bram kembali menenangkan Siska.

Hana rasanya ingin berteriak meluapkan gemuruh amarah atas pengkhianatan Bram. Namun tak dapat dilakukannya, tubuhnya lunglai, tak bertenaga.

Sejak menghadapi kenyataan yang getir itu, kini Hana menjadi sosok yang sangat pendiam. Sentuhan kehangatan yang setiap saat diterima dari Bram semakin memurukkandirinya dalam jurang kesedihan.

”Menikahlah dengan Siska. Aku merestuimu.”

Malam itu dalam sedu-sedannya, Hana memeluk dan membisikkan kalimat persetujuan lalu menciumi bibir suaminya penuh kasih.

”Sampaikan berita ini pada Anggi dan Cindy,” pinta Hana.

Bram terhenyak, namun sesaat kemudian tangisnya pecah. Diangkatnya tubuh Hana di atas tubuhnya dan memeluknya erat-erat. Tubuh keduanya menyatu dalam tangis.

Restu Hana ternyata tidak meluluhkan hati kedua anak gadisnya. Dan itu menjadi beban yang sangat berat.

”Kalau Ayah memaksa tetap mau menikah, silakan Ayah pergi dari kehidupan kami,” tegas Anggi di sore itu.

”Maksudmu apa Anggi? Jangan bersikap kurang ajar pada Ayah,” Hardik Bram geram mendengar ucapan Anggi.

Bram juga terkejut melihat betapa Anggi yang selama ini lembut, sopan, dan cenderung penurut bisa melontarkan kata-kata pedas yang melukai dirinya.

”Ayah tidak patut menjadi panutan kami!” Teriak Anggi tak mau kalah.

”Anggi…” suara Hana hanya tercekat di tenggorokan menyaksikan amarah Anggi dan juga Bram, suaminya.

”Ayah jahat, ayah keji …” tuduh Anggi seraya berteriak dan tangisnya pecah.

Hana beringsut mendekati Anggi yang kini berpelukan dengan Cindy. Tangis kedua gadis itu memecah keheningan.

Hana menatap Bram yang tubuhnya bergetar hebat dengan roman muka merah. Dengan jelas Hana melihat tangan suaminya mengepal serta otot-ototnya mencuat.

”Jangan pikir Anggi dan Cindy tidak tahu perbuatan Ayah. Kami bukan anak kecil lagi, kami sudah dewasa,” getar suara Anggi jelas terdengar.

”Anggi tahu apa yang terjadi antara Ayah dan Tante Siska, meski Bunda menutupinya rapat-rapat. Ingat Ayah! Apa pun yang namanya bangkai akan tetap tercium ke mana-mana.”

”Anggi…”

”Misalnya Anggi atau Cindy melakukan perbuatan keji itu, apa yang akan Ayah lakukan?” Tantang Anggi. ”Mengusir kami?” Tanya Cindy di sela-sela tangisnya.

Bram terduduk dalam hempasan rasa bersalah. ”Maafkan Ayah, ampuni Ayah,” pinta Bram dalam tangis penyesalan.

Anggi dan Cindy bergeming mendengar ratapan sang Ayah yang meminta pengampunan, lalu keduanya pergi meninggalkan ruang keluarga.

”Tolong ampuni aku,” Bram bersujud dan menciumi pangkal paha Hana yang masih tersisa.

Hana merengkuh kepala suaminya dan membenamkannya dalam pelukan. Hanya ada tangis yang mengambang.

Pasca pertengkaran di sore itu, suasana rumah menjadi sangat sunyi, sesunyi tempat-tempat pemakaman. Celoteh, gurauan yang diselingi pertengkaran Anggi dan Cindy meruap.

Suasana rumah menjadi aneh dan asing. Sepulang sekolah, kedua anak gadisnya asyik mengurung diri dikamarnya masing–masing, lalu kembali sunyi. Keadaan yang terus–menerus seperti itu membuat hati Hana diliputi penyesalan, bahkan keputusasaan.

Hana semakin terpuruk dan sering mendatangkan imajinasi liar. Bahkan, saat ia memandangi bayangan dirinya di tembok, jiwanya terbang pada masa kanak-kanak yang pahit. Pahatan-pahatan itu kini kembali menjelma menjadi bayangan hitam, mengkristal, dan menghakimi pada diri. Bahwa dirinya tidak lagi berguna.

Ya, henar. Dirinya sudah tidak berguna dan dibutuhkan lagi. Dirinya hanya akan menjadi beban bagi orang lain.

Lalu apa yang diharapkan dari hidup ini? Ratap Hana seraya menatap bayangan hitam yang meliuk-liuk dan selalu setia mengindahkan rasa lelah dan amarah.

Sesaat Hana menatap liukan-liukan bayangannya. Lalu,dibukanya genggamam tangan yang penuh berisi butir–butir warna putih dan kuning. Tangannya bergetar saat menelan butir-butir itu satu per satu sampai tak tersisa.

Hana kembali menatap bayangannya di dinding yang membentuk siluet–siluet aneh, lalu bayangan itu semakin lama semakin samar dan mengabur. (*)

Sumenep, 22 Desember 2022.

*)Bergiat di Rumah Literasi Sumenep

 *****

Cerpen ini terbit di Jawa Pos Radar  Madura, 16 April 2023 22:05 PM

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 826365297980146920

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item