Mengikis Sikap Abdi Dalem

Sikap  sebagian besar dari kita bila berhadapan dengan atasan atau orang yang dihormati, masih tetap seperti sikap abdi dalem jika bertemu tuannya. Wajah dibuat ramah, penuh senyum, sedikit membungkuk dan tangan ngapurancang. Anda pernah melihat foto atau lukisan jaman dulu ketika raja atau sultan berhadapan dengan para bawahannya.

Ya mirip seperti itulah sikap kebanyakan staf bawahan ketika bertemu dengan direkturnya, staf berhadapan dengan menteri, atau jika menteri bertemu presiden. Mengerikan sekaligus menyebalkan. Mengerikan karena pikiran minder ternyata belum juga hilang meskipun sudah lebih dari 70 tahun kita merdeka. Menyebalkan melihat orang terbungkuk dan pura-pura ramah di depan atasannya.

Padahal kita tahu, orang-orang itu akan berubah galak dan menginjak jika berhadapan dengan bawahannya atau dengan rakyat jelata. Ingat kan ketika seorang pejabat memaki-maki seorang Ibu dengan kata-kata kasar? Begitulah watak sebagian pejabat kita jika berhadapan dengan "orang kecil". Sebab orang yang sama berubah menjadi penuh senyum ketika berhadapan dengan atasannya.

Rupanya menghapus mentalitas budak seperti itu tidak mudah. Sebab menjadi "atasan" itu nikmat. Karena itu semua orang ingin menjadi pejabat yang makin tinggi jabatannya makin diberi banyak kenikmatan. Orang ikut pemilu, pilkada atau pilpres apa dikira semuanya mau mengabdi kepada rakyat? Sebagian mungkin hanya ingin jabatan dengan semua fasilitas dan kenikmatan yang menyertainya. Nikmat melihat orang membungkuk kepada kita. Senang melihat rakyat antri menunggu bersalaman dengan kita. Nikmat ketika banyak pengusaha memberi sogokan kepada kita dalam jumlah banyak. Senang melihat bawahan kita menjadi pucat manakala kita marah kepada mereka dst.

Itu semua merupakan warisan dari mentalitas feudal dari jaman kerajaan dahulu yang bukannya berkurang tapi malahan makin dipelihara. Lihatlah misalnya pesta pernikahan anak pejabat atau pengusaha kaya yang berlomba menyewa gedung mewah dan mengundang ribuan orang. Mereka merasa tersanjung melihat ribuan undangan mengantri satu atau dua jam untuk bersalaman dengan pengantin dan tuan rumah.

Yang diundang pasti rugi berlipat: keluar duit untuk transportasi, untuk parkir, duit kado plus betis pegal. Sedangkan yang dibawa pulang biasanya hanya kipas atau buku doa. Pernah juga ada yg memberi IPod tapi yang seperti itu jarang terjadi.

Bagaimana mengurangi rasa minder publik dan bawahan serta mengurangi mentalitas sok dan jumawa para atasan dan pejabat? Presiden Jokowi sudah memberi teladan dalam cara berpakaian dan bersikap terhadap rakyat. Tapi rupanya baru cara berpakaiannya yang diikuti oleh para pejabat. Jika demikian dibutuhkan instruksi presiden untuk mengatur tatacara atasan memperlakukan bawahan dan rakyat.

Lembaga pendidikan mulai tingkat PAUD hingga PT, harus mendidik anak-anak berani mengajukan pendapat dan protes kepada gurunya. Guru dan dosen hendaknya berprilaku sebagai mitra siswa dan mahasiswanya, bukan sebagai raja kecil yang menganggap hanya pendapatnya saja yang selalu benar. Jika saran ini berjalan dengan baik, kita boleh berharap suatu saat akan ditiru oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Kita mengharapkan lahirnya generasi muda yang cerdas, sopan tapi menghargai persamaan derajat antar manusia.

Harian Pelita, Rabu 4 Juli 2018.

(Sumber, buku:  Nasè’ Jhâjhèn, Prof. H. Amir Santoso, M.Soc.,Ph.D

POSTING PILIHAN

Related

Utama 8857995796284719907

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item