Kelas Merdeka Memerdekakan Pelajar

 


Oleh Hidayat Raharja

“Saya ingin guru tidak masuk kelas (tidak mengajar), tidak disuruh membaca, dan tidak disuruh mengerjakan Pekerjaan Rumah.”

Kalimat di atas merupakan salah satu refleksi dari murid ketika akan memulai pelajaran. Sebuah permintaan, ketika guru pengajar masuk ke dalam kelas dan membuat kesepakatan-kesepakatan dengan siswa untuk membuat keyakinan dalam belajar. Siswa menginginkan guru tidak ada di dalam kelas dan tidak ada kegiatan membaca serta tidak ada tugas dikerjakan di rumah.

Mungkin dalam bayangan kita sebuah kelas sebagai ruang interaksi yang dibatasi oleh dinding yang tebal dan kaku. susuna bangku tertata rapi menghadap ke papan tulis yang ada di depan ruang dan diatasnya terdapat lambang burung garuda dan potret presiden dan wakil presiden.

Kelas konvensional yang telah tertanam dalam benak siswa, sehingga imajinasi yang dibayangkan menjelma sebuah ruang yang kaku dan membosankan. Ruang kelas yang terbangun kokoh dalam imajinasi siswa sejak mereka memasuki taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah. Bangunan ruang kelas yang semakin kokoh terbangun bahkan dengan hukuman atau rundungan ketika mereka tidak bisa menjawab pertanyaan guru dan tidak mengerjakan tugas.

Namun di balik kalimat tersebut, sudah sedemikian seragam imajinasi siswa tentang ruang kelas yang mereka masuki. Ruangan dengan bangku tertata rapi dan dibatasi oleh tembok tebal. Guru datang ke dalam kelas sebagai pengawas dan menyuruh mereka membaca buku, disuruh bertanya atau menjawab pertanyaan yang diberikan guru serta ketika pulang ke rumah siswa diberi beberapa tugas untuk dikerjakan di rumah dan dikumpulkan pada pertemuan yang akan datang.

Sebuah ruang yang kaku dan membosankan, sehingga setiap memasuki ruang kelas, dalam diri siswa selalu bangkit memori kelas yang terbangun sejak dari TK sampai Sekolah Menengah Pertama. Mereka menginginkan yang lain dari yang mereka alami sehingga mereka memiliki pengalaman belajar baru dalam kelas yang menarik dan tidak membosankan. Mereka ingin belajar tapi tidak membaca dan mereka tidak ingin membawa perkerjaan sekolahnya ke rumah. Di sekolah mereka ingin menyelesaikan tugas sekolah dan di rumah mereka ingin berinteraksi dengan lingkungan keluarga dan sosial.

Mereka, anak-anak yang ingin keluar dari kemonotonan dan menginginkan sesuatu yang baru dalam belajar. Maka belajar bagi mereka bukan lagi membaca buku, mengerjakan Lembar Kerja Siswa dan berkutat dalam ruangan yang kaku dan beku. Sebuah kondisi sekolah yang selama ini telah memberikan jarak dengan lingkungan sekitar untuk membangun sebuah interaksi dalam belajar.

Bagaimana mewujudkan kelas merdeka yang mampu memberikan rasa senang dan nyaman bagi siswa untuk belajar seperti yang diinginkannya? Persoalan yang sangat menarik ketika kita kembali mengingat persepsi dalam diri kita bahwa kelas merupakan sebuah ruang yang dibatasi oleh dinding dan dijaga oleh seorang guru yang bertindak sebagai penjaga yang mengawasi siswa bekerja. Berangkat dari keresahan dan keluhan anak-anak di sekolah, maka kita perlu buka kembali ruang yang lebih luas dan terbuka sebagai ruang belajar.

Pembelajaran dalam Kelas Merdeka

Pembelajaran adalah salah satu proses pertukaran ilmu dan pengetahuan sehingga dari tidak tahu menjadi tahu menjadi lebih baik dan perubahan lebih baik mengenai tabiat, ilmu dan tingkah laku. Dalam proses belajar melibatkan seluruh aspek tubuh baik auditif, kognitif, attitude, sosial dan spiritual.

Salah satu pengertian pembelajaran dikemukakan oleh Gagne (1977) yaitu pembelajaran adalah seperangkat peristiwa-peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung beberapa proses belajar yang bersifat internal. Lebih lanjut, Gagne (1985) mengemukakan teorinya lebih lengkap dengan mengatakan bahwa pembelajaran dimaksudkan untuk menghasilkan belajar, situasi eksternal harus dirancang sedemikian rupa untuk mengaktifkan, mendukung, dan mempertahankan proses internal yang terdapat dalam setiap peristiwa belajar.

Menjurut Ki Hadjar Dewantara merdeka belajar adalah kurikulum yang berisikan pemahaman dari gagasan dan prinsip pendidikan yaitu sebuah proses belajar mengajar yang memfasilitasi murid agar tumbuh sesuai kodratnya. Dalam proses pembelajaran guru harus mampu menerapkan suasana belajar yang memerdekakan murid. Karenanya guru harus mampu mengenali dan memahami diri sebagai pendidik.

Kelas bukan hanya sekadar ruang yang dibatasi dinding, tetapi bisa ruang terbuka dimana semesta berada. Maka sesungguhnya kemerdekaan belajar itu amat luas dan bisa dipertanggungjawabkan. Belajar bisa bersama dengan orang lain dalam jumlah kecil mau pun dalam jumlah besar, berdua atau dalam jumlah yang sangat banyak. Kemerdekaan yang memberikan kebebasan bagi individu untuk menentukan proses dan cara belajarnya.

Merdeka Belajar adalah suatu pendekatan yang dilakukan supaya siswa bisa memilih pelajaran yang diminati. Hal ini dilakukan supaya para siswa bisa mengoptimalkan bakatnya dan bisa memberikan sumbangan yang paling baik dalam berkarya bagi bangsa. Kemerdekaan yang patut dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk meningkatkan kualitas belajar sehingga dihasilkan kualitas ouput yang bisa menyesuaikan perubahan dan selalu adaptif, kreatif dan inovatif.

Dalam kelas yang merdeka terdapat pembelajaran yang merdeka, menyenangkan bagi penghuninya untuk belajar. Kelas fleksibel sesuai dengan kebutuhan penghuni yang ada di dalamnya. Jika selama ini mereka membayangkan kelas sebagai ruang yang kaku dan dibatasi oleh dinding. Maka, dalam kemerdekaan belajar mereka menjadikan kelas sebagai ruang terbuka tidak dibatasi oleh dinding yang kaku. Tetapi sebuah ruang yang memungkinkan membangun interaksi yang nyaman, santai dan semua bisa bertindak sebagai subyek dan bisa saling memberi. Sebuah kesetaraan peran dan memberikan kesempatan mereka bertanggungjawab dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dipelajarinya.

Dalam kelas yang merdeka, guru menjadi pemimpin mengendalikan arus informasi dalam kelas dan mengarahkan siswa untuk memecahkan masalah-masalah dalam pembelajaran yang telah disepakati bersama. Sebagai pemimpin guru bisa menyerap aspirasi siswa dalam kelas, sehingga pembelajaran mengikuti irama yang dikehendaki siswa.

Format pembelajaran yang disajikan guru merupakan pembelajaran variatif (berdiferensiasi), setiap siswa merasa terlayani dalam pembelajaran. Mengajar dengan memahami kemampuan dan latar belakang siswa, tentu lebih menarik dan bermakna, karena apa yang disampaikan akan tersambung dengan pengamalan siswa dan kehidupan nyata. Pembelajaran kontekstual dengan membangun konstruksi pembelajaran yang dihubungkan dengan pengalaman sosial dan kultural merupakan hal yang perlu diperhatikan. Karena belajar dengan melibatkan konteks kehidupan, siswa memiliki pemahaman tentang kebermanfaatan materi yang dipelajarinya.

Suatu contoh yang sangat menarik, seorang guru agama di SMA Negeri 1 Omben akan menyampaikan mengenai hukum jual beli. Maka ia memulai dengan mengajak siswanya keluar dari ruang kelas menuju ruang terbuka di lingkungan sekolah. Pak Jailani mengajak siswa untuk mencatat benda (aset) apa saja yang ada di lingkungan sekolah dan bisa dijual. Siswa mengidentifikasi dan mencatat berbagai aset yang bisa diperjual belikan. Pembelajaran sangat menarik dan memicu terjadinya diskusi antara siswa untuk menentukan barang apa saja di lingkungan sekolah yang bisa dijual. Mereka memberikan alasan-alasan logis mengenai jual beli. Dari berbagai interaksi dan diskusi baru kemudian Pak Jailani mengajak siswa untuk mencari dan mendiskusikan mengenai hukum jual beli dengan berbagai ketentuannya.

Model pembelajaran berpusat kepada siswa sangat menarik dilakukan, karena siswa merasa dihargai. Pengalaman belajar dalam dunia nyata, bisa menjadi titik tolak yang menarik bagi siswa untuk menggali informasi lebih dalam. Kemampuan berpikir bisa berkembang sesuai dengan kemampuan siswa, serta berawal dari kesenangan siswa. Jika siswa hanya berbekal kecakapan kognitif memahami, mulailah dari memahami hal-hal sederhana dalam hidup. Mereka jangan dibawa kepada hal-hal sulit. Semua berproses dan dapat dipastikan siswa akan memulai dari hal-hal yang sesuai dengan kemampuan berpikir siswa.

Kepribadian guru yang terbuka, hangat, dan menyenangkan akan membuat siswa lebih nyaman belajar dan bertanya. Kemampuan siswa dalam kelas tidak sama, guru yang hangat dan terbuka akan membuat siswa mudah untuk menyampaikan pendapatnya tanpa harus mendapatkan hukuman karena salah memberikan jawaban. Juga siswa akan mudah menyampaikan pendapatnya ketika memiliki alasan yang berbeda dengan guru.

Dibutuhkan wawasan yang luas bagi guru untuk bisa memberikan argumentasi yang logis dan bisa menghubungkan antar hal sehingga siswa bisa berpikir lebih luas dan terbuka. Guru di jaman mileneal bukan mereka yang mampu menundukkan siswa untuk mengikuti apa yang disampaikannya, tetapi mampu mengajak siswa untuk berpikir dan memilih yang benar dengan alasan-alasan yang logis. Murid bisa berbeda pendapat dan cara penyampaian namun dalam kerangka tujuan yang sama.

Pemahaman guru terhadap berbagai latar belakang siswa perlu dilakukan karena perbedaan merupakan aset yang perlu dikelola dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan belajar yang sama (diinginkan). Apabila guru memahami latar belakang siswa yang berbeda, akan memberikan pemahaman yang membawa guru kepada keberagaman siswa sekaligus akan membawa guru dalam persiapan diferensiasi pembelajaran. Sajian yang berbeda bagi setiap kebutuhan murid-murid yang tidak sama.

Salah satu ruang belajar yang ada di sekolah adalah ruang kelas. Ruangan yang membangun imajinasi dalam pengalaman diri anak sebagai ruangan yang kurang menyenangkan. Ruang kelas yang sesuai dengan bayangan siswa adalah kelas yang merdeka di dalamnya siswa bisa memilih apa yang akan dipelajari. Dalam kelas mereka merasa terlayani sesuai kebutuhannya. Kelas merdeka bisa berada di luar ruang kelas dan guru dengan kepemimpinannya dan wawasan pengetahuannya mampu membawa siswa dalam dinamika pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran berhubungan dengan konteks kehidupan dan pengalaman siswa, serta disajikan dalam berbagai model pembelajaran dan mampu melayani kebutuhan siswa yang variatif.

Siswa tidak harus membaca namun dari mereka bisa saling berbagai informasi, sehingga mereka mendapatkan informasi secara verbal atau dari rekaman video secara audiovisual. Banyak sumber belajar yang bisa menjadi keragaman sumber belajar kita sehingga siswa terlepas dari kemonotonan dalam mendapatkan informasi.

Limpahan informasi yang berseliweran di berbagai portal informasi merupakan salah satu pilihan sebagai sumber data yang bisa dimanfaatkan. Sehingga peran guru amat dibutuhkan untuk membimbing mereka sehingga bisa kritis terhadap informasi yang diterima. Secara kritis mereka bisa memilih informasi yang dibutuhkan.

Beban tugas yang sering dibawa siswa ke rumah dan sering kali tumpang tindih antar mata pelajaran. Memiliki ruang alternatif untuk mencari irisan di antaranya dalam pembelajaran kolaboratif. Jaman ini membutuhkan sebuah koordinasi, kolaborasi yang bisa menyederhanakan hal dan tugas yang rumit. Maka, Pembelajaran kolaboratif antar mata pelajaran merupakan sebuah tuntutan kebutuhan yang mendesak sehingga siswa tidak banyak dibebani tugas namun mampu mengembangkan kecakapan berpikirnya untuk menghubungkan antar mata pelajaran.

Kenyamanan belajar bisa diciptakan guru sebagai pemimpin mengendalikan pembelajaran dan menjadi teman belajar siswa sehingga pembelajaran lebih terarah dalam mencapai tujuan belajar. Sikap bijak guru dengan keluasan wawasan yang dimilikinya mampu melihat perbedaan sebagai aset. Perbedaan di antara siswa sebagai anugerah sekaligus sebagai titik tolak memberikan layanan yang berbeda. sehingga setiap siswa merasa kebutuhannya terlayani.

*Kepala SMAN 1 Omben, Sampang

SumberL akun FB: Hidayat Raharja

 

POSTING PILIHAN

Related

Utama 5293587738513139592

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Idola (Indonesia Layak Anak)

Idola  (Indonesia Layak Anak)
Kerjasama Rumah Literasi Sumenep dengan Pro 1 RRI Sumenep

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

item